Oleh: muhdahlan | 20 November 2010

TAKDIR DAN SUNNATULLAH

TAKDIR DAN SUNNATULLAH

(Suatu Kajian Tafsir Maudhu’i)

Oleh : Muh. Dahlan Thalib

I.         PENDAHULUAN

Latar Belakang

Konsep Takdir, selalu menjadi perdebatan dan pertanyaan banyak orang. Akhir-akhir ini cukup banyak pertanyaan ataupun diskusi-diskusi tentang takdir. Bagi umat islam, takdir merupakan bagian dari pada aqidah, karena merupakan bagian dari pada iman terhadap Qadha dan Qadar, dimana kata takdir ini merupakan kata yang berasal dari Qadar. Karenanya, pemahaman tentang takdir ini sangat penting bagi seorang muslim. Sebab pemahaman tentang takdir ini akan menentukan arah dan sikap seorang muslim terhadap berbagai hal yang terjadi selama hidupnya. Karenanya banyak juga ulama-ulama yang membahas konsep takdir dalam buku yang mereka buat. Masalah takdir terdapat 3 golongan yang memahaminya secara berbeda. Golongan pertama; berpendapat bahwa manusia itu tidak bebas sama sekali, apa yang kita lakukan sudah ditentukan oleh Allah. Golongan kedua; berpendapat bahwa kita sangat bebas, apapun yang dilakukan tidak ada campur tangan Tuhan sama sekali. Dan golongan terakhir berpendapat bahwa apapun yang dilakukan semuanya ada dalam aturan-aturan Allah, ada campur tangan Allah, tapi kitapun memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu.

Percaya kepada qada dan Sunnatullah  adalah mempercayai bahwa segala yang berlaku adalah ketentuan Allah semata. Sebagai seorang muslim wajiblah disadari bahwa kita adalah makhluk yang lemah, bahwa Allah itulah Yang Maha Perkasa dan Maha Berkuasa dan segala ssuatu adalah berlaku dengan ketetapan-Nya saja. Oleh karena itu kita wajib beriman kepada takdir, bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah Swt.

Kenyataan ini sangat penting bagi sebuah pemahaman atas ide tentang takdir. Takdir adalah ide bahwasanya Allah telah menciptakan setiap kejadian, masa lalu, masa kini dan masa depan dalam seketika, ini berarti tiap-tiap kejadian, mulai dari penciptaan alam semesta hingga hari kiamat telah berlangsung dan berakhir dalam pandangan Allah[1]. Sebelum kita mengalami suatu kejadian, kejadian itu telah berlangsung dalam pandamgan Allah karena qalam-Nya telah menulis dengan rinci seluruh ketetapan peristiwa atau kejadian termaktub dalam induk kitab Lauh Mahfuz. Allah berfirman dalam QS 10:61 ِ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاء وَلاَ أَصْغَرَ مِن ذَلِكَ وَلا أَكْبَرَ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ  (Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpu sebesar Zarrah di bumi ataupun di langit, tidak ada yang lebih kecil dan tidak pula yang lebih besar dari itu, melainkan semua tercatat dalam kitab yang nyata ).Meskipun demikian kita masih boleh berusaha dan berdo’a karena dengan limpahan Rahmat-Nya, namun demikian jangan menyangka berdo’a berarti meminta sesuatu yang belum tertulis, bahkan do’a itu sendiri telah tertulis di lauh mahfudz.

Prof. Dr. H. Quraish Shihab mengutip pendapat ulama yang berpandangan bahwa tidak ada takdir. Manusia bebas melakukan apa saja, bukankah Allah telah menganugerahkan kepada manusia kebebasan memilih dan memilah ?. Mengapa manusia harus dihukum kalau dia tidak memiliki kebebasan itu ? Bukankah Allah sendiri menegaskan من شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر (Barangsiapa hendak beriman, silahkan beriman, dan barangsiapa hendak kafir, silahkan kafir).[2]

Penulis berpendapat bahwa takdir atau qadar tidak perlu ditiadakan, karena adanya takdir menandakan adanya Allah swt. Sebaliknya, tidak adanya takdir berarti tidak ada Tuhan. Ibaratnya sebuah meja yang bagus lagi indah kelihatan, karena penciptaannya telah diukur dan ditetapkan oleh  tukang kayu yang membuatnya sesuai dengan qadarnya, tidak lebih dan tidak kurang. Adapun waktu dan tempat rusak atau tidaknya,  tukang kayu tidak menentukan waktunya. Akan tetapi, tukang kayu tersebut tahu bahwa meja cantik tersebut akan rusak di kemudian hari.

Sama halnya kalau dikatakan bahwa Allah telah mnciptakan dan mentakdirkan keberadaan manusia, langit, bumi dan isinya, matahari, bulan dan lain sebagainya dengan sebaik-baik penciptaan dan takdir segala apa yang ada pada diri manusia telah diatur atau ditakdirkan mempunyai tempat atau ukuran tersendiri. Darah misalnya, telah ditakdirkan tempat peredarannya dan sekian ukurannya cocok bagi manusia, sehingga ia dapat hidup. Sebaliknya, apabila darah tersebut tidak beredar pada tempatnya atau kurang dari ukuran yang telah ditetapkan oleh Allah swt, maka manusia mengalami sakit atau mati. Sakit, mati, dan rezeki merupakan takdir Ilahi yang sebelum manusia lahir di dunia telah ada takdir tersebut. Adapun penentuan waktu tempat yakni kapan dan dimana hidup, sakit, mati, dan banyak sedikit nya rezeki berada pada tangan manusia dan pada tangan Allah swt. Menurut penulis, manusialah yang harus menentukan arah lebih awal kemana ia akan pergi. Misalnya manusia memilih banyak rezki, ia harus bekerja keras. Allah akan memberikannya. Jika manusia ingin banyak rezki kemudian tinggal berpangku tangan, tetap Tuhan menjadikannya miskin, karena Tuhan telah menyampaikan bahwa “Tuhan tidak akan merubah seseorang kecuali ia merubah dirinya lebih awal”. Hal inilah yang disinyalir secara tegas difirmankan oleh Allah dalam QS. al-Ra’ad (13): 11 yakni ;

(Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum sehingga mereka merubah apa yang ada pada dirinya).

Pemahaman terhadap Qadla dan Qadar itu sederhana saja, yaitu bahwa apapun yang terjadi di bumi ini, pasti ada sebabnya, bahkan kematian, rezeki dan jodoh pun tunduk pada hukum ini. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa hukum sebab akibat inilah yang kemudian disebut dengan Sunnatullah. Dalam ajaran Islam, segala yang ada di muka bumi ini mengiluti Sunnatullah, aturan Allah Swt. Itulah Qadha. Sedangkan Qadar adalah ukuran dari aturan-aturan tersebut. Besar kecil (ukuran) usaha atau ikhtiar dalam mengikuti aturan tersebut akan menentukan hasil, oleh karena itu hasil dari usaha inilah yang disebut dengan takdir.

A. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang tersebut, Penulis mengemukakan  pokok permasalahan dalam kajian ini yaitu; “Bagaimana konsep Takdir dan Sunnatullah  dalam Islam.

Untuk mendapatkan gambaran secara sistimatis dalam pembahasan selanjutnya  dapat dikemukakan beberapa permasalahan  yaitu :

  1. Bagaimana pengertian takdir dan Sunnatullah dalam al-Qur’an.
  2. Bagaimana wujud takdir dalam al-Qur’an.
  3. Apa urgensi pembahasan takdirdalam al-Qur’an.

II.   PEMBAHASAN

Pengertian  Takdir  dan Sunnatullah.

1. Pengetian Takdir

Kata Takdir terambil dari kata Qaddara berasal dari akar kata “qadara” yang antara lain berarti; mengukur, memberi kadar atau ukuran, sehingga jika anda berkata “Allah telah menakdirkan demikian”, maka itu berarti, “Allah telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya.[3]

Dari sekian banyak ayat Alqur’an dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu, dan Allah Swt. menuntun dan menunjukkan mereka mereka arah yang seharusnya mereka tuju. Begitu dipahami antara lain dari ayat-ayat permulaan Surat Al-A’la ayat 1 – 3:

Terjemahnya; Sucikanlah Nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan (semua makhluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkanya.

Kata qadar dan takdir mempunyai perbedaan makna. Kata qadar menurut M. Quraish Shihab, mempunyai beberapa makna, diantaranya ketetapan, mulia dan sempit.[4] Beliau memaknakan kata qadar dengan ketetapan dan mulia, karena ia berdasar pada ayat Allah Swt, dalam surah al-qadr Allah berfirman :

(Malam ketetapan takdir manusia atau malam mulia karena pada malam itu Allah menetapkan takdir seseorang).

Sedangkan kata qadar yang bermakna sempit, beliau berdasar pada firman Allah Swt, يبسط الرزق لمن يشاء (Allah melapangkan rezeki seseorang yang ia kehendaki dan menyempitkan).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata qadr dimaknakan kekuatan, kuasa, kodrat dan ukuran[5]. Kata  قدير dan قادر yang akar katanya dari kata qadar lebih banyak diartikan kuasa, seperti dalam  firman Allah إن الله على كل شئ قدير  (Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas sesuatu), dan QS. al-An’ām (6): 37, yakni ;

Terjemahnya :

Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mu`jizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mu`jizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.

Juga dalam QS. al-Qamar (54): 42

Terjemahnya :

Mereka mendustakan mu’jizat-mu’jizat Kami kesemuanya, lalu Kami azab mereka sebagai azab dari yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.

Dengan demikian, M. Quraish Shihab menyimpulkan bahwa قادر dan مقتدر adalah sifat-sifat Allah Yang Maha Kuasa itu, tetapi kudrat dan kekuasaanNya yang ditunjuk oleh sifat ini lebih banyak ditujukan kepada para pembangkang dan yang tidak beriman, sebagai ancaman atau siksa kepada mereka.[6]

Setelah menelusuri makna atau pengertian qadar, maka dapat disimpulkan bahwa qadr adalah salah satu sifat Allah Swt, yang bermakna kuasa atas menetapkan sesuatu, apakah ketetapan itu mulia, sempit dan lapang. Dapat pula disimpulkan bahwa qadar Tuhan menetapkan dalam bentuk berpasang-pasangan yakni ada yang lapang ada pula yang sempit, ada yang mulia dan ada yang terhina, dan ada yang baik ada pula yang buruk. Olehnya itu, M. Quraish Shihab berkata, “Manusia tidak dapat luput dari takdir, yang baik maupun buruk”.[7]

Muncul pertanyaan, mengapa pengertian term qadar dan takdir berbeda ?. Pertanyaan ini dijawab oleh Bahasa bahwa semua kata yang mempunyai tambahan, apakah itu huruf atau tanda-tanda maknanya juga bertambah.

Oleh karena itu, selain M. Quraish Shihab yang memberikan pengertian takdir seperti di atas, Wahbah Zuhaili pun menambahkan pengertiannya : التقدير هو جعل الاشياء على مقادر مخصوصة [8] (Takdir adalah segala sesuatu itu telah diberikan kepadanya oleh Allah Swt, takdir, qadar, ukuran dan batas yang spesial).

Al-Raqib al-Asfahani (w. 425 H), mengatakan bahwa takdir Allah mempunyai dua kandungan makna, hukum dan memberikan kuadrat. Ketika Allah Swt, berfirman “قد جعل الله لكل شيئ قدر” (Allah telah menjadikan ukuran atau batas kepada sesuatu, maka itu dimaksudkan adalah hukum).

Setelah ditelusuri dan diklasifikasi makna qadar dan takdir, akhirnya dapat diartikan pengertian sebagai berikut :

Kata qadar melahirkan kata qaddara yang keduanya mempunyaimakna  di satu sisi adalah makna yang sama dan disisi lain makna yang berbeda, namun makna tersebut saling terkait dan melengkapi.

Kata qadar yang berbentuk isim mashdar menunjukkan sebuah makna konteks yang kandungan artinya adalah aturan-aturan atau hukum. Allah Swt, berfirman: قد جعل لكل شيئ قدر (Allah telah menjadikan kepada setiap sesuatu aturan).

Kata qadar dan takdir di atas telah dimaknakan qadar, ukuran, batas, sehingga penulis berkesimpulan bahwa kesemuanya itu adalah aturan dan hukum Allah Swt. Apabila qadar yang telah ditetapkan berani melampaui batas, ukuran dan qadar yang telah ditetapkan oleh Allah, maka akan mendapatkan tambahan dan sanksi dari Allah yang  juga merupakan  takdir Allah Swt.

Kata takdir yang akar katanya kaddara menunjukkan sebuah makna konteks yang kandungan maknanya menetapkan dan menentukan. Allah Swt, misalnya menyatakan dalam QS. Yunus 10 : 5 ;

Terjemahnya :

Dia yang menjadikan matahari bercahaya dan bulan bersinar lalu Dia menetapkannya manazil-manazil …..

Kata قدير  dalam al-Qur’an berulang sebanyak 45 kali. Hal ini menunjukkan sebuah arti yang sangat dalam, yakni Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sementara kata قدر berulang sebanyak 11 kali dan kata مقدار berulang sebanyak 3 kali, yang kedua kata tersebut mengartikan ukuran. Jika kata di atas diurut maka yang didahulukan dari urutan tersebut adalah kata قدر، تقدير، قدير dan قدر/مقدار maksudnya adalah Allah kuasa menetapkan/menentukan memberi qadar tertentu bagi aturan dan ukuran, batas-batas kepada makhlukNya.[9]

  1. 1. Pengertian Sunnatullah

Sunnatullah dapat berarti sebagai hukum-hukum Allah, Undang-undang keagamaan yang ditetapkan oleh Allah yang termaktub di dalam Alqur’an, dan hukum kejadian alam yang berjalan secara tetap dan otomatis. Dalam pengertian inilah sehingga fenomena-fenomena alam yang terjadi pada dasarnya adalah sunnatullah, agar alam semesta ini tetap stabil. Gempa bumi , letusan gunung merapi dan lain-lain. Hanya saja mungkin pada saat itu Allah benar-benar turun tangan agar mausia tidak sombong dan lalai. Contoh pada kasus kejadian di Aceh, mungkin yang terjadi pada saat itu bukan hanya semata-mata fenomena alam biasa, akan tetapi mungkin Allah memberikan teguran secara langsung. Dalam kehidupan di dunia ini tidak bisa lepas dari aturan-aturan (ketentuan) tersebut. Bagaimanapun upaya dan jalan yang akan dilalui, tidak bertindak semena-mena dan sesuai keinginan kita, karena hal itu melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan. Namun terkadang dalam beberapa hal, Allah benar-benar mengambil alih dan menyentil kehidupan  kita dengan caranya yang tidak diketahui. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini, dan sisi kejadiaannya dalam kadar atau ukuran tertentu, pada tempat dan waktu tertentu, itulah yang disebut takdir. Tidak ada sesuatu yang terjadi tampa takdir, termasuk menusia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan dalam istilah sunnatullah, atau yang sering secara salah kaprah disebut hukum-hukum alam.

Dalam konteks inilah dapat dimaknai bahwa Sunnatullah pada satu sisi mengandung pengertian sama dengan takdir yaitu suatu ketentuan dan ketetapan Allah Swt. Namun Penulis tidak sepenuhnya cenderung mempersamakan Sunnatullah dengan takdir. Karena Sunnatullah yang digunakan oleh Alqur’an adalah untuk hukum-hukum kemasyarakatan dan hukum-hukum alam. Dalam Alqur’an „Sunnatullah“ terulang sebanyak 8 (delapan) kali, „sunnatina“ sekali, „Sunnatul Awwalin“, terualng tiga kali, kesemuanya mengacu kepada hukum-hukum Tuhan yang berlaku pada masyarakat. Lihat Mislanya dalam Alqur’an Surat Al-Ahzab ayat 38 dan 62,

Terjemahannya :

Allah telah menetapkan yang demikian sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku,

Terjemahnya :

Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.

atau Surat Fathir ayat 43,

Terjemahnya :

Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.

dan ghafir ayat 40 dan 85.

Terjemahnya :

Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.

Manusia mempunyai kemampuan terbatas sesuai dengan ukuran yang diberikan oleh Allah kepadanya. Makhluk ini misalnya, tidak dapat terbang. Ini merupakan salah satu ukuran atau batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadany. Ia tidak mampu melampuinya kecuali jika ia menggunakan akalnya untuk menciptakan satu alat, namun akalnya pun mempunyai ukuran yang tidak mampu melampaui. Disisi lain manusia berada dibawah hukum-hukum Allah sehingga segala yang dilakukan pun tidak terlepas dari hukum-hukum yang telah mempunyai kadar dan ukuran tertentu. Hanya saja karena hukum-hukum tersebut cukup banyak, dan kita diberi kemampuan memilih tidak sebagaimana matahari dan bulan misalnya, maka kita dapat memilih yang mana di antara takdir yang ditetapkan Tuhan terhadap alam yang kita pilih. Api ditetapkan Tuhan panas dan membakar, angina dapat menimbulkan kesejukan atau dingin, itu takdir atau sunnatullah, manusia boleh memilih api yang membakar atau angina yang sejuk. Disinilah pentingnya pengetahuan dan perlunya ilham ayau petunjuk Ilahi. 9

B.    Qadr/Takdir Tidak Berubah dan Berubah

Untuk mengetahui sebuah qadar/takdir yang tidak berubah dan yang berubah, maka dalam makalah ini dikaji dua term dalam al-Qur’an yaitu, قدّر ber-tasydid dan قدر  dan tidak ber-tasydid.

Term قدّر، يقدّر، تقدير dalam al-Qur’an berulang sebanyak 13 kali, yang pengertiannya adalah memberi qadar, ukuran dan batas-batas tertentu atau menetapkan serta menentukan.

Konteks term قدّر ditujukan kepada alam raya, seperti matahari, bulan dan gunung, serta ditujukan pula kepada alam manusia. Itulah sebabnya, Al-Raqib al-Asfahani berpendapat bahwa takdir Allah Swt, itu ada dua macam, :

(1.) takdir Allah kepada sesuatu (alam raya/kosmos) yang sejak awal penciptaannya tidak pernah berubah dan tertunda kecuali yang menciptakannya berkehendak atau merubah, menunda atau menggantinya.

(2). takdir Tuhan, yang maksudnya adalah memberi qadar, ukuran, batas-batas dan kekuatan.

  1. Takdir Irasional.

Takdir Allah yang pertama adalah takdir yang irasional (tidak dapat berubah) oleh siapa pun kecuali Allah Swt. Bagaimana pun usaha manusia, baik usaha fisik maupun usaha doa, tidak akan berubah sedikit pun. Lihat, misalnya QS. al-Muzammil (73) : 20

Terjemahnya :

….. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang, Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu ….

Juga dalam QS. Yunus (10): 5

Terjemahnya :

Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya tempat-tempat poros perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu .

Kedua ayat di atas tidak menggunakan إسم الضمير “نا” (kata ganti “na”), yang menandakan bahwa perputaran takdirnya tidak ada campur tangan manusia, semata-mata Allah yang menentukannya. Lain halnya takdir rasional, Tuhan menggunakan kata ganti نحن atau نا yang menunjukkan adanya partisipasi manusia.

  1. Takdir Rasional

Takdir Allah yang kedua ini adalah takdir yang rasional. Takdir tersebut adalah takdir yang ditujukan kepada alam manusia, termasuk takdir kematian dan rezeki.

Term takdir yang rasional adalah ditujukan  pada takdir kematian. Lihat, misalnya QS. al-Waqi’ah (56) : 60

Terjemahnya :

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan.

Kalimat نحن قدرنا merupakan kalimat yang tersusun dari subjek dan predikat. Di dalam ilmu Balaghah dikatakan bahwa kalimat yang terdiri dari subjek dan predikat mengandung berita benar dan bohong. Dalam kalimat ini seseorang pasti yakin berita itu benar, karena itu bersumber dari Allah dan ditulis dalam media cetak al-Qur’an. Isi berita tersebut adalah batas kehidupan setiap makhluk yang bernyawa, disebut mati.

Kata نحن adalah isim dhamir (kata ganti) yang mengandung arti jama’ (banyak). Muncul pertanyaan, apakah ada selain Allah Swt, yang dapat memberikan batas, qadar kehidupan makhluk, khususnya manusia ?. Sebelum di jawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu penulis menguraikan kalimat yang ada sebelum kalimat نحن قدرنا, yaitu kalimat نحن خلقناكم. Dalam kalimat tersebut, Tuhan menggunakan pula isim dhamir نحن yang menunjukkan jama’ (banyak). Dalam Tafsir fi Zilalil Qur’an, pengarangnya berpendapat bahwa hal itu tidak terlepas dari campur tangan manusia.[10] Karena sebelum diproses penciptaan manusia dalam rahim, terdapat proses pertama yaitu mempertemukan air mani dengan ovum. Itu proses yang dilakukan oleh manusia. Maka dhamir نجن pada kalimat نحن قدرنا menunjukkan adanya pula partisipasi manusia dalam mempercepat dan menunda tiba pada “terminal mati” atau takdir mati.

Kata قدرنا adalah kata kerja lampau. Kata tersebut ditafsirkan oleh Ibnu Katsir صرفنا (Kami telah merubah),[11] maksudnya adalah ada dipercepat dan ada ditunda, yang sesuai dengan proses sikap manusia. Atas dasar itu, Tuhan menetapkan dan mentakdirkan sesuai dengan sikap tersebut Tuhan menggunakan kata kerja yang menunjukkan pengertian dinamis, sehingga kendati Tuhan mengatakan, “Kami telah menetapkan”, akan tetapi tidak menutup kemungkinan Tuhan akan melonggarkan atau menetapkan suatu ketetapan yang lain selain ketetapan awal. Sama halnya kalau dikatakan قد اكلنا (kami telah makan), pasti (cepat atau lambat) akan makan lagi.

Kata الموت kedudukannya dalam I’rab sebagai maf’ulumbih. Di dalam al-Qur’an ternyata hidup dan mati itu adalah makhluk. Lihat, misalnya, QS al-Mulk (67) : 2 الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ (Dia yang mencipta mati dan hidup …..). Berdasarkan ayat tersebut, penulis berkesimpulan bahwa kematian ini ibaratnya sebuah terminal, yang setiap makhluk khususnya manusia, dari perjalanan hidupnya yang panjang harus mendatanginya dan singgah. Oleh karena itu, Allah mengisyaratkan tentang hal itu, كل نفس ذائقة الموت (setiap yang bernyawa akan singgah di terminal tersebut untuk merasakannya).

Kata قدر، يقدر (tanpa tasydid), menurut M. Quraish Shihab, mem-punyai tiga makna, yaitu mulia, sempit dan menetapkan.[12] Makna yang cocok digunakan dalam konteks ayat يبسط الرزق لمن يشاء ويقدر …  (Allah melapangkan rezeki kepada orang berkeinginan dan menyempit-kannya) adalah sempit.

Di dalam ayat di atas, disamping Tuhan menyebutkan kata يقدر juga menyebutkan kata يبسط sehingga penulis berkesimpulan bahwa terminal-terminal terakhir bagi makhluk yang diciptakan oleh Allah itu berpasang-pasangan, seperti lapang dan sempit, hidup dan mati, kaya dan miskin, dan sebagainya.

Itulah hikmahnya Tuhan menciptakan “komputer canggih” dalam diri manusia, yakni otak untuk berpikir dalam segala hal, diantaranya seseorang ingin hidup sejahtera atau mati, ia harus menempuh koridor yang dapat menjadikan hidup sejahtera dan menempuh koridor yang dapat mematikan. Serta ingin kaya atau miskin, ia sebaiknya bekerja keras atau menempuh rel-rel yang dapat menjadikan dan mengantar sampai pada menempu jalan yang menjadikan miskin, pasti Tuhan memberikan karena ada ayat yang mengisyaratkan manusia harus menentukan sikap lebih awal kemudian Tuhan akan membalas sikap tersebut. Lihat, misalnya QS. al-Baqarah (2) : 152           فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ (ingatlah Aku pasti Aku mengingat kalian) juga dalam firman-Nya dalam QS. Al-Raád (13) : 11 إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ Allah tidak akan merubah suatu kaum sehingga mereka merubah dirinya sendiri)

C. Urgensi al-qadr dalam al-Qur’an.

Takdir merupakan suatu kajian yang sering diperdebatkan, baik oleh cemdikiawan maupun oleh masyarakat biasa. Permasalahan yang sering diperbincangkan adalah apakah takdir dapat dipercepat atau ditunda, bahkan ada yang menanyakan apakah dapat dirubah oleh makhluk, khususnya makhluk manusia.

Ketika di syam (Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi wabah, Umar ibn Al-Khatthab yang ketika itu bermaksud berkunjung ke sana membatalkan rencana beliau, dan ketika itu tampil seorang bertanya: “Apakah Anda lari/menghindar dari Takdir Tuhan” ?. Umar, ra. Menjawab:”Saya lari/menghindar dari Takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang lain”.

Demikian juga ketika Imam Ali  r.a. sedang duduk bersandar di suatu tembok yang ternyata rapuh. Beliau pindah ke tempat lain. Beberapa orang disekelilingnya bertanya seperti pertanyaan di atas. Jawaban Ali ibn Thalib, sama intinya dengan jawaban Khalifah Umar, r.a. rubuhnya tembol, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hokum-hukum yang telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpahnya itu juga adalah takdir, tetapi bila ia menghindar dan luput dari marabahaya maka itu pun takdir. Bukankah Tuhan telah menganugerahkan manusia kemampuan memilah dan memilih ?. Kemampuan ini pun antara lain merupakan ketetapan atau takdir yang di anugerahkan-Nya. Jika demikian, manusia tidak dapat luput dari takdir, yang baik maupun yang buruk. Tidak bijaksana jika hanya yang merugikan saja yang disebut Takdir, karena yang positif pun juga adalah takdir[13].

Namun di antara ulama ada yang mengatakan bahwa hal itu tidak perlu diperbincangkan, karena takdir itu bukan rukun iman. Yang mengatakan demikian itu berpatokan pada ayat yang menyebutkan rentetan rukun iman. Di dalam rentetan tersebut, iman kepada qadr atau takdir tidak disebutkan. Nah, untuk apa diperbincangkan.

Permasalahan ini menurut penulis tetap urgen meskipun tidak disebut sebagai rukun iman, karena di ayat lain terdapat pembahasan tentang qadr atau takdir. Pembahasan takdir dalam ayat al-Qur’an terdapat pada konteks alam kosmos dan alam manusia seperti kematian dan rezeki. Takdir masih ada pada konteks-konteks lain, namun penulis hanya menyebutkan dua, sebab itulah yang lumrah diperbincangkan.

Takdir kematian mempunyai peranan yang sangat besar dalam memantapkan akidah serta menumbuh kembangkan semangat pengabdian. Dalam masalah akidah, Tuhan mengatakan وما نحن بمسبقين (Tidak ada yang dapat mendahului atau menandingi dalam penetapan waktu tibanya), yang mendorong manusia memiliki keyakinan yang mantap, sehingga dalam proses menuju ke “terminal terakhir” itu merupakan suatu wujud pengabdian kepada Allah Swt.

Demikian pula dalam konteks takdir rezeki, Tuhan menggunakan dua term yaitu يقدر dan يبسط, yang menandakan bahwa ada dua terminal yang ditetapkan atau dibuatkan oleh Allah untuk didatangi oleh manusia, yakni lapang dan sempit. Hanya manusia yang memilih mana yang akan didatangi. Namun  fakta menunjukkan bahwa masa lalu dan masa depan sudah tercipta dalam pandangan Allah dan bahwa segalanya telah terjadi dan hadir dalam pandangan Allah, setiap manusia sepenuhnya tunduk pada takdirnya. Manusia tidak dapat mengubah masa lalunya dan masa depannya. Walaupun demikian Allah memberikan kepada setiap manusia satu perasaan bahwa dia dapat mengubah hal-hal dan membuat pilihan dan keputusannya sendiri. Sebagai konsekwensinya, manusia berserah diri dengan sukarela kepada Allah SWT , ia hanya berusaha dan berharap untuk mendapatkan keridhaan dan rahmat-Nya

III. PENUTUP

Setelah penulis menguraikan masalah al-qadr atau takdir dan Sunnatullah maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Pengertian Takdir dan sunnatullah dapat dimaknakan dengan arti yang sama, yakni ketentuan dan ketetapan. Selain makna tersebut diartikan sesuai konteks kata tersebut (al-qadr dan takdir), seperti qadr diartikan sempit, mulia dan takdir diartikan الصرف (berubah-ubah), terbagi-bagi dan sebagainya.
  2. Takdir mati dan rezeki ibaratnya sebuah terminal yang harus didatangi oleh makhluk. Untuk sampai ke terminal tersebut, manusia yang berperan penting dalam proses apakah mau lambat atau cepat tiba.
  3. Takdir kematian atau rezeki mempunyai peranan penting dalam memantapkan akidah serta menumbuhkembangkan semangat pengabdian. Meski bagaimana pun manusia harus yakin terhadap adanya ketetapan Allah Swt, sebelum sampai pada ketetapan tersebut manusia harus aktif dan berpartisipasi. Keaktifan dan partisipasi merupakan wujud ibadah kepada Allah Swt.
  4. Tunduk kepada takdirnya yang diciptakan Allah, merupakan hal yang terbaik untuk memahami tujuan dari kejadian-kejadian sehingga dapat mengambil langkah-langkah penjagaan dan berusaha untuk menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’ān al-Karim

Al-Bāqy, Muhammad Fu’ad ‘Abd. al-Mu’jam al-Mufahras li Alfāzh al-Qur’ān al-Karīm. Bairūt: Dār al-Fikr, 1992

Ibn Zakariyah, Ahmad Husain bin Faris. Mu’jam Maqayis al-Lugah, juz V. Mesir: Mustafa al-Babi al-halabi wa Awladuh, 1972.

Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azim, juz IV. Cet I; Beirut: Darul Fiqri, 1997

Majallah, Suara Masjid, No 216, September 1992

Quthub, Sayyid. Fi Zilalul Qur’an, jilid VI. t.t.: Darul Al Syuruk, t.h.

Shihab, M. Quraish. Membumikan al-Qur’an. Bandung: Mizan, 1992

. Menyingkap Tabir Ilahi. Cet II, Jakarta : Lentera Hati, 1999

. Wawasan al-Qur’an. Cet VIII. Bandung : Penerbit Mizan, 1998

Tim Departemen Pnedidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet VII, edisi II, Jakarta : Balai Pustaka, 1996.

Yahya, Harun. Hakekat di Balik Materi, Cet. I, Surabaya: Risalah Gusti, 2005

Zuhaili, Wahbah. Al-Tafsir Al-Munir fil Aqidah Wa Syariah wal Manhaji, juz 11-12. Beirut : Darul Fikri, 1998


[1] Harun Yahya, Hakikat di Balik Materi, (Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 2005), h. 149

[2] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an ,(Cet VIII; Bandung: Mizan, 1998), h. 60

[3] http/media Isnet.Orng/Islam/Quraish/Wawasan/Takdir 2. htm, Tanggal 01/06/2009

[4]M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1992), h.   Qadar yang berarti “sempit”, dapat dilihat dalam Ahmad Husain bin faris bin Zakariyah, Mu’jam Maqayis al-Lugah, juz V (Mesir: Mustafa al-Babi al-halabi wa Awladuh, 1972), h. 63

[5]Tim Departemen Pnedidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (CCet VII, edisi II, Jakarta : Balai Pustaka, 1996), h. 428.

[6]M. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi (Cet II, Jakarta : Lentera Hati, 1999), h. 314

[7] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, op.cit, h. 65

[8]Wahbah Zuhaili, Al-Tafsir Al-Munir fil Aqidah Wa Syariah wal Manhaji, juz 11-12, (Beirut : Darul Fikri, 1998), h. 109.

[9]Muhammad Fu’ad ‘Abd. al-Bāqy, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfāzh al-Qur’ān al-Karīm (Bairūt: Dār al-Fikr, 1992), h.646 – 647

9http:/media isnet, org/islam/Quraish/Wawasan/Takdir 3 html,  Tanggal 01 juni 2009

[10]Sayyid Quthub, Fi Zilalul Qur’an, jilid VI (t.t.: Darul Al Syuruk, t.h.), h. 3467

[11]Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azim, juz IV (Cet I; Beirut: Darul Fiqri, 1997), h. 307

[12] Lihat M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, op.cit

[13] Ibid, h


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: