Oleh: muhdahlan | 15 Mei 2010

Pendidikan Islam Spanyol Dan Sisilia



PENDIDIKAN ISLAM DI ANDALUSIA DAN SISILIA

Oleh: Muh. Dahlan Thalib

  1. I. PENDAHULUAN
    1. A. Latar Belakang

Pendidikan Islam dikenal dan diyakini oleh penganut agama Islam sebagai suatu kegiatan pendidikan yang bersumber dari dogma ajaran Islam dengan nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya yang senantiasa mempertimbangkan pengembangan fitrah manusia atau potensi-potensi yang dimiliki manusia selaku makhluk[1].  sehingga usaha mempelajari Pendidikan Islam tidak dapat mengabaikan akar sejarah Pendidikan Islam yang merupakan bagian integral dari sejarah Islam itu sendiri.

Disebutkan pendidikan Islam bersumber dari ajaran Islam menggambarkan bahwa pendidikan Islam memiliki perbedaan yang sangat esensial dan pokok dengan model pendidikan lain yang cenderung bersifat pragmatis-sekularistik yang hanya terbatas pada sumber dan penyebaran nilai-nilai kemanusian secara universal tanpa pernah mengaitkannya sama sekali dengan nilai-nilai ketuhanan. Atau yang lazim dikenal dengan istilah Ilmu Pengetahuan tanpa Tuhan.

Kegiatan keilmuan yang sebagian besarnya mendapat stimulan dari kontak langsung dunia Eropa dengan dunia Islam ternyata melicinkan jalan bagi kebangkitan kembali (renaissance) bangsa Eropa, dan sekaligus mengantarkan Eropa barat secara khusus dan dunia secara umum kepada sejarah umat manusia yang sama sekali baru, yaitu abad modern.

Dalam sejarah peradaban Islam, Andalusia dan Sisilia merupakan dua negara yang ditaklukkan oleh pemerintahan Islam dibawah kepemimpinan Bani Umayyah  dengan melalui kekuatan angkatan perang. Spanyol lebih banyak dikenal dengan nama Andalusia yang diambil dari sebutan tanah semananjung Iberia, julukan Andalusia berasal dari kata Vandalusia yang artinya negeri bangsa Vandal, karena bagian selatan semananjung ini pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum mereka dikalahkan oleh bangsa Ghotia Barat pada abad V. Daerah ini diuasi oleh Islam setelah penguasa Bani Umayyah merebut tanah semenanjung ini dari bangsa Gothi Barat pada masa Khalifah Al-Wlid ibn Abdul Malik.[2]

Pada saat itu Andalusia dan Sisilia adalah dua kerajaan yang dikuasai oleh Islam telah mengukir perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga keduanya menjadi gudang ilmu pengetahuan di belahan Eropa. Keberhasilan Islam menguasai Andalusia tujuh setengah abad lamanya (711-1492 M)  dan Sisilia empat abad lamanya (827-1194 M) dapat mengubah wajah pendidikan Islam ketika itu dengan baik dan sistimatis.

  1. B. Rumusan Masalah.

Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi pokok pembahasan adalah bagaimana Perkembangan Pendidikan Islam Di Andalusia dan Sisilia ? agar pembahasan ini lebih terarah, maka yang menjadi fokus pembahasan pada makalah ini adalah :

  1. Bagaiman lintas Sejarah Masuknya Islam di Andalusia?
  2. Bagaimana Pola Pendidikan Islam di Andalusia?
  3. Bagaiman lintas Sejarah Masuknya Islam di Sisilia ?
  4. Bagaimana Pola Sistem Pendidikan Islam di Sisilia ?
    1. PEMBAHASAN
      1. A. Lintas Sejarah Masuknya Islam Di Andalusia

Al-Andalus (Arab: الأندلسal-andalus) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor, dalam berbagai waktu antara tahun 711 dan 1492.Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, namun penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia.[3]

Kondisi Andalusia pra kedatangan Islam sungguh sangat memprihatinkan, terutama ketika masa pemerintahan raja Ghotic yang melaksanakan pemerintahannya dengan besi. Kondisi ini menyebabkan rakyat Andalusia menderita dan tertekan. Mereka sangat merindukan datangnya kekuatan ratu adil sebagai sebuah kekuatan yang mampu mengeluarkan mereka saat itu, kerinduan mereka akhirnya menemukan momentumnya ketika kedatangan Islam di Andalusia.

Ketika Dinasti Umayah dipegang oleh Khalifah al- Walid bin Abdul Malik (al-Walid I ) (naik takhta 86 H 1705 M ), khalifah keenam. la menunjuk Musa bin Nusair sebagai gubernur di Afrika Utara Pada masa kepemimpinan Musa bin Nusair, Afrika sebagian barat dapat di kuasai kecuali Sabtah (Ceuta ) yang pada waktu itu berada di bawah kekuasaan Bizantium. Ketika inilah pasukan Islam mampu menguasai bagian barat sampai Andalusia.[4]

Penaklukan Islam di Andalusia  tidak terlepas dari kepiawaian tiga heroic Islam, yaitu Tharif Ibn Malik, Thariq bin Ziyad, Musa bin Nushair. Perluasan bani umayyah ke Andalusia  diawali oleh rintisan Tharif ibn Malik yang berhasil menguasai ujung paling selatan eropa, upaya ini kemudian dilanjutkan oleh Thariq bin Ziyad yang berhasil menguasai ibu kota Andalusia, Toledo. Kemudian ia juga menguasai Archidona, Elfiro dan Cordova. Bahkan raja Roderick (raja terakhir Vichigothic) berhasil ia kalahkan pada tahun 711 M[5].

Keberhasilan Thariq dalam melumpuhkan penguasa di Andalusia dalam sejarah Islam dicatat sebagai acuan resmi penaklukan Andalusia oleh Islam. Kemudian ekspansi ini dilanjutkan pada waktu yang sama oleh Musa bin Nushair yang akhirnya mampu menguasai Andalusia bagian barat yang belum dilalui oleh Thariq, tanpa memperoleh perlawanan yang berarti. Keberhasilan ekspansi ini akhirnya bermuara dengan dikuasainya seluruh wilayah Andalusia ke tangan Islam. Pada saat itu kekhalifahan dinasti umayyah pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik hanya menjadikan daerah Andalusia sebagai sebuah keamiran saja. Ia menunjuk Musa bin Nushair sebagai amir di sana yang berkedudukan di Afrika Utara. Ketika dinasti umayyah di damaskus runtuh, perkembangan Andalusia kemudian dipegang oleh seorang pangeran umayyah Abdurrahman Ibn Mu’awiyah ibn Hisyam yang berhasil lolos dari buruan bani abbas. Tokoh inilah yang kemudian berhasil mendirikan kembali daulah bani umayyah di Andalusia[6].

Islam masuk ke Spanyol (Cordova) pada tahun 93 H (711 M) dibawah pimpinan Tariq bin Ziayad yang memimpin angkatan perang Islam untuk membuka Andalusia dengan membawa 7000 orang pasukan. Dengan kekuatan tambahan, Thariq yang mengepalai 12.000 pasukan, pada 19 Juli 711  berhadapan dengan pasukan Raja  Roderick di mulut Sungai Barbate dipesisir laguna janda[7] dan berhasil mengalahkan tentara Gotik yang merupakan kemenangan penting untuk memudahkan pasukan muslim melintasi dan penaklukan kota-kota Spanyol lainnya tanpa mengalami perlawanan berarti.

  1. B. Pola Pendidikan Islam di Andalusia.

Berdasarkan literatur-lteratur yang membahas sejarah pendidikan dan sejarah peradaban Islam secara garis besarnya pendidikan Islam di Andalusia terbagi dua bagian yaitu :

  1. 1. Kuttab

Sejak Islam pertama kali menginjakkan kakinya di Andalusia hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir dan sekitar tujuh setengah abad lamanya, Islam memainkan peranan yang besar, baik dalam bidang Intelektual (filsafat, sains, fikih, musik dan kesenian, bahasa dan sastra) juga kemegahan bangunan fisik (Cordova dan Granada)[8].

Umat muslim Andalusia telah menoreh catatan sejarah yang mengagumkan dalam bidang intelektual, banyak perestasi yang mereka peroleh khususnya perkembangan pendidikan Islam. Pertumbuhan lembaga-lembaga pendidikan Islam sangat tergantung pada penguasa yang menjadi pendorong utama bagi kegiatan pendidikan. Di Andalusia menyebar lembaga pendidikan yang dinamakan Kuttab selain Masjid. Kuttab termasuk lembaga pendidikan terendah yang sudah tertata dengan rapi dan para siswa mempelajari berabagai macam disiplin Ilmu Pengetahuan diantaranya :

  1. Fikhi.

Oleh karena umat Islam di Andalusia penganut Mazhab Maliki, maka para siswa mendapatkan materi –materi pelajaran fikhi dari Imam Mazhab Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini adalah Ziyad ibn Abd. Al-Rahman, perkembangan selanjutnya dilakukan seorang qadhi pada masa Hisyam ibn abd. Al-Rahman yaitu Ibnu Yahya. Dan masih banyak ahli-ahli fikhi lainnya diantaranya Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir ibn Sa’id al-Baluthi dan ibn Hazam.[9] Yang sangat populer saat itu.

  1. Bahasa dan Arab

Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Andalusia, hal ini dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non Islam, bahkan penduduk asli menomorduakan bahasa asli mereka, para siswa diwajibkan berdialog dengan melalui bahasa arab, sehingga bahasa ini cepat populer dan menjadi bahasa keseharian. Mereka yang ahli dan mahir bahasa Arab baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa adalah Ibn Sayyidih, Ibn Malik yang mengarang Al-fiyah, Ib Khuruf, Ibn Al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur dan Abu Hayyan al- Gharnathi. Seiring kemajuan di bidang bahasa , muncul banyak karya sastra seperti Al-Íqd al-Farid karya Ibn Abd. Rabbih, al-Dzakhirah fi Mahasin ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya al-Fath ibn Khaqan[10] dan banyak lagi yang lain.

  1. Seni Musik Dan Seni Suara

Dalam bidang musik dan suara, Islam di Andalusia mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Zaryab. Ia selalu tampil mempertunjukan kebolehannya. Kepawaiannya bermusik dan seni membuat ia menjadi orang termasyhur dikala itu, ilmu yang dimilikinya diajarkan kepada anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan dan juga kepada para budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.[11]

2 Pendidikan Tinggi

Di kawasan Andalusia yang pernah menjadi pusat pemerintahan Islam, juga banyak dibangun banyak perguruan tinggi terkenal seperti Universitas Cordoba, Sevilla, Malaga, Granada dan yang lainnya. Orang-orang Eropa yang pertama kali belajar sains dan ilmu pengetahuan banyak tertarik untuk belajar di berbagai perguruan tinggi di Andalusia. Sehingga, lahirlah kemudian murid-murid yang menjadi para pemikir dan filosof terkenal Eropa. Sejak itu, dimulailah zaman Renaissance-nya Eropa. Perguruan Tinggi Oxford dan Cambridge di Inggris merupakan tiruan dari lembaga pendidikan di daerah Andalusia yang menggabungkan pendidikan, pusat riset, dan perpustakaan.[12]

Sebagaimana halnya siswa belajar pendidikan pada tingkat rendah (Kuttab) juga mempunyai kesempatan seluas-luasnya melanjutkan pendidikan pada tingkat tinggi yaitu Universitas Cordova yang berdiri megah di Andalusia. Unversitas Cordova berdiri tegak bersanding dengan Masjid Abdurrahman III[13] yang akhirnya berkembang menjadi lembaga pendidikan tinggi yang terkenal yang setara dengan Uniersitas  Al-Azhar di Cairo dan Universitas Nizamiyah di Bagdad[14]. Unversitas Cordova memiliki perpustakaan yang menampung sekitar empat juta buku dan meliputi buku astronomi, matematika, kedokteran,teologi dan hukum, jumlah muridnya mencapai seribu orang. Selain itu terdapat Universitas  Sevilla, Malaga dan Granada[15]. Para mahasiswa diajarkan tiologi, hukum Islam, kedokteran, kima, filsafat dan astronomi.

  1. Filsafat

Puncak pencapaian intelektual Muslim Spanyol terjadi dalam pemikiran filsafat. Dalam bidang ini, Muslim Andalusia merupakan mata rantai yang menghubungkan antara filsafat Yunani klasik dengan pemikiran Latin-Barat. Perhatian dan minat pada masa Islam Andalusia baik terhadap filsafat pada khususnya maupun terdapat  Ilmu pengetahuan pada umumnya telah mulai dikembangkan pada abad ke-9 M. Selama pemerintahan bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abd. Rahman (832-886 M)[16], sehingga tercatat pada abad ke-12 M Islam di Andalusia mempunyai peran sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengeahuan Yunani –Arab ke Eropa.

Selain itu, muslim Andalusia juga turut andil besar dalam mendamaikan antara agama dengan ilmu, akal dengan iman yang sekaligus menandai akhir abad kegelapan Eropa. Pada kekhalifahan al-Hakam II (961-976M) ribuan karya ilmiah filosofis di impor dari Timur. Karya-karya tersebut terhimpun dalam perpustakaan pribadinya. Kebijakan al-Hakam yang mendukung terciptanya lingkungan intelektual inilah yang pada akhirnya turut serta membidani lahirnya folosof-filosof besar sesudahnya, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Bagdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam.

Apa ynag dilakukan oleh pemimpin Dinasti Umayyah di Andalusia ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya. Tokoh utama dalam sejarah filsafat Arab Spanyol adalah Abu Bakar Muhammad ibnu al-Sayigh yang lebih dikenal dengan. ibnu Bajjah, dilahirkan di Saragosa, ia pindah ke Sevilla dan Granad, meninggal kare na keracunan di Fez tahun 1138 M dalam usia yang masih muda. Seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina di Timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Ibnu Bajjah banyak menulis tafsir mengenai filsafat Aristoteles. Bukunya yang terkenal adalah Tadbir al- Mutawwahid yang berisi tentang kritik terhadap filsafat al-Gazali yang mengatakan bahwa kebenaran itu dicapai melalui jalan sufi[17]. Tokoh yang lainnya terdapat nama Abu Bakr ibnu Thufil, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil sebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut pada tahun 1185 M, ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filasafat. Karya folsafatnya  yang tekenal  adalah Hay ibn Yaqzhan.

Pada akhir abad ke-12 M muncul seorang pengikut Aristoteles yang terbesar dalam kalangan filsafat Islam, dia adalah Abu al-Walid Muhammad ibnu Ahmad ibnu Muhammad Ruyd dilahirkan di Cordova, Andalus pada tahun 510 H/1126 M,[18]. Beliau terkenal dengan nama singkat Ibn Rusyd, ia ahli dalam ilmu hukum sehingga diangkat menjadi ketua Mahkamah Agung di Cordova.

Meskipun Ibnu Rusyd banyak memusatkan perhatiannya pada filsafat Aristoteles, ia juga menulis beberapa buku. Dalam bidang kedokteran misalnya menulis buku yang berjudul Al-Kulliat, selanjutnya bidang filsafat bukunya berjudul Tahaful al-Tahaful dan filsafat al Naql dan dalam bidang ilmu terdapat Karya besarnya yang termasyhur berjudul Bidayah  al- Mujtahid[19].

  1. Sains

Membicarakan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Andalusia, tak bisa lepas dari kerja besar pembangunan peradaban yang dilakukan para pembawa risalah Islam ke kawasan Eropa itu. Tak bisa juga dipisahkan dari kajian etika serta syari’at Islam yang didakwahkan para da’i. Itulah yang mendorong semangat para ilmuwan Muslim Andalusia: Pengetahuan itu satu karena dunia juga satu, dunia satu karena Allah juga satu. Prinsip “tauhid” semacam ini yang menjadi koridor berpikir para ilmuwan muslim dalam mengembangkan sains dan teknologi.[20]

Perkembangan sains di Andalusia sangat pesat yang ditandai dengan munculnya berbagai macam bidang ilmu pengetahuan diantaranya ilmu kedokteran, matematika, kimia, musik, astronomi dan lain-lainya. Adapun tokoh termasyhur  pada saat itu adalah Abbas ibn Farnas dalam ilmu kimia dan astronomi, ia orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu[21].

Dalam bidang astronomi, terkenal nama- nama az- Zarqali (1.1029). Di toledo Abdul Qasim Maslama bin Ahmad al- Farabi al- Habib al- Majriti (w.1007) di Cordoba yang merupakan terkemuka muslim Andalusia angkatan pertama. Selain itu, muncul Jabir bin Aflah Abu Muhammad (w.1204), di Sevilla yang menulis kitab al- Hai’a , yang membuat angka -angka trigomometrik yang masih di gunakan sampai sekarang, dan Nuruddin Abu Ishaq al- Bitruji (w. 1204 ). yang menulis kitab Al- Hai’a[22]. Karya- karya para Astronom muslim ini telah banyak menyumbangkan istilah yang berasal dari bahasa Arab ke dalam pembendaharaan ilmu Astronomi dan matematika.

  1. C. Lintas Sejarah Masuknya Islam di Sisilia

Sisilia adalah sebuah pulau di laut tengan, letaknya berada di sebelah selatan semenanjung Italia, dipisahkan oleh selat Messina. Pulau ini bentuknya menyerupai segitiga dengan luas 25.708 km persegi. Sebelah utara terdapat teluk Palermo dan sebelah timur terdapat teluk Catania. Pulau ini di sebelah barat dan selatannya adalah kawasan laut Mediterranian, sebelah utara berbatasan dengan laut Tyrrhenian dan sebelah timurnya berbatasan dengan laut Ionian[23]. Pulau sisilia bergunung gunung dan sangat indah, iklimnya yang baik, tanahnya subur, dan penuh dengan kekayaan alamnya. Pulau ini di bagi menjadi tiga bagian : Val di Mazara di sebelah barat, Val di Noto di sebelah tenggara dan Val Demone di bagian timur laut . Islam hanya menjadi agama resmi di Val di Mazara sedangkan di bagian yang lainnya mayoritas beragama kristen[24].

Sementara itu penaklukan umat Islam atas kepulauan Sisilia (bahasa Arab, Siqilliyah) merupakan buih terakhir dari gelombang serbuan  yang dibawa bangsa Arab ke Afrika Utara dan Andalusia. Karena masuknya Islam di Sisilia sangat terkait dengan masuknya Islam di Andalusia, bahkan disinyalir apa yang dicapai oleh dunia Eropa diabad modern sekarang ini tidak lain adalah warisan umat Islam di Andalusia dan Sisilia[25]. Sisilia adalah sebuah pulau subur di Italia Selatan pernah dikuasai oleh bangsa Yunani, Romawi, Byzantium, Arab dan akhirnya jatuh ke dalam kerajaan Kristen Normandia serta kini menjadi bagian dari Italia.[26]

Usaha untuk menjadi wilayah penguasaan Islam atas pulau ini dimulai sejak Khalifah Usman bin Affan dengan mengirim gubernur Muawiyah bin Abi Sufyan pada tahun 652 M, dan pada waktu Muawiyah menjadi Khalifah juga menyerang pulau Sisilia pada tahun 667 M[27], kemudian disempurnakan tahun 827 M, oleh amir Bani Aghlabi yang bernama Ziyadatullah bin Ibrahim (817-838 M) menyampaikan undangan salah seorang tokoh sisilia yang bernama Ephemius ke pemerintahan pusat di Bagdad d bawah khalifah Al-Ma’mun[28]. Dan akhirnya amir Ziyadatullah bin Ibrahim berangkat bersama pasukannya menuju Sisilia dengan kekuatan yang sangat besar umlahnya berhasil menduduki Sisilia. Pulau ini selama 189 tahun merupakan satu propinsi daulah bani Aghlabi dengan ibu Kotanya Palermo[29].

Ketika Islam datang penguasa Sisilia melawan dengan gigih dan pantang menyerah, berbeda ketika Islam datang ke Andalusia, tidak sulit ditaklukkan dan memilih damai. Seluruh Sisilia dikuasai oleh kaum muslimin di bawah pimpinan Bani Aghlab dan sejak itu berdiri dinasti Bani Aghlabiyah  selama 6 tahun ( 903 – 909 M ) dan Palermo sebagai ibu kota . kemudian dinasti Fathimiyah selama setengah abad ( 909 – 965 M ) , dinasti Kalbiyah selama 80 tahun ( 965 – 1044 M ) dan dinasti Normandia. Dinasti Aghlabiyah mampu memperluas kekuasaan sampai ke Benua Eropa dengan silih berganti tentara Islam berlabuh di pantai selatan Italia di Laut tengah, sampai Italia, Prancis, Sardinia, Malta dan Sisilia.

  1. D. Pola Pendidikan Islam di Sisilia

Seperti halnya di Andalusia pola pendidikan Islam di Sisilia juga terbagi dua tingkatan yaitu :

  1. 1. Kuttab

Kuttab adalah lembaga pendidikan tingkat rendah yang banyak terdapat di Sisilia. Oleh Abu Bakar ibnu Arabi dikatakan bahwa pola pendidikan Islam di kuttab adalah anak belajar menulis, berhitung dan bahasa Arab[30]. Di Kota Palermo terdapat 300 orang guru kuttab, dengan banyaknya kuttab-kuttab yang berkembang di Sisilia dapat mewujudkan impiannya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi peradaban Islam dan ilmu pengetahuan pada saat itu. Dan terbukti Sisilia sebagai negara Islam independen dengan ibukotanya Palermo yang diperintah oleh dinasti Aglabiyah pada masa dinasti Abbasiyah ini sangat membantu dalam kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam karena penguasa di negara tesebut melindungi ilmu pengetahuan.

  1. 2. Pendidikan Tinggi

Jatuhnya Sisilia ke tangan umat Islam, justru menjadi berkah bagi Eropa, ketika Eropa sedang berada di abad pertengahan yang oleh mereka sendiri disebut dengan era kegelapan, peradaban Islam sedang berada di puncak masa keemasannya. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat dan pembangunan disaksikan di mana-mana. Sisilia juga kebagian. Melalui negeri ini, ilmu pengetahuan dan sains mengalir dari dunia Islam ke Eropa. Transfer ilmu pengetahuan Islam ke Eropa ini mulai dilakukan oleh Frederick II (1194 M – 1250 M) yang berkuasa di Sicilia. Frederick yang beragama Kristen sangat terpengaruh oleh ajaran dan kebudayaan Islam. Ketika berkuasa, raja ini mendirikan University of Naples pada tahun 1224 M, yang merupakan Universitas Pertama di Eropa dengan menggunakan sistem pendidikan yang dikembangkan perguruan tinggi Islam[31].

Sililia merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam yang ditandai bermunculnya ilmuawan Islam. Hal ini melihat latar belakang sang penakluk sisilia, Asad bin Fhurat yang merupakan ulama besar[32], sehingga pada masa  itu banyak didirikan perguruan tinggi dan masjid. Salah satu perguruan tinggi yang  didirikan  adalah Universitas Kedokteran di Palermo yang menandingi Universitas Cordova.

Perkembangan sains dan teknologi serta kehidupan intlektual di Sisilia tidak berbeda dengan gerakan intelektual di Andalusia  dan dunia Islam saat itu pada umumnya.  Ada dua jalur utama penyebaran sains dan teknologi  dari dunia Islam ke Eropa yaitu pertama, melalui jalan Cordova di Andalusia. Melalui Universitas Cordova banyak mahasiswa Kristen terutama dari prancis melakukan alih sains dan teknologi ke negeri mereka yang pada waktu itu terbelakangan. Kedua melalui jalur Palermo pusat peradaban Islam di Sisilia terjadi transformasi sains dan teknologi ke Italia secara besar-besaran. Banyak ilmuan Muslim dibayar mahal untuk mengajar di Universitas ini dan merupakan bahasa pengantar pertama kali digunakan adalah bahasa Arab.[33]

Dunia Islam bahkan dikalangan non Muslim telah mengakui kehebatan seorang panglima perang dalam strategi militer yang berasal dari sisilia yaitu Jawhar al-Siqli. Dalam bidang bahasa dan nahwu, ilmu-ilmu al-Qurán dan Hadits dikenal nama Muhammad bin Khurasan ia wafat di Sisilia pada tahun 996 M, juga Ismail bin Khalaf, pengarang Kitab al-Uyun fi al-Qiraát, kitab ini masih terhimpun di sebuah perpustakaan di Berlin dan Istambul, ia wafat 1063 M, sedangkan ahli hadist tekenal adalah Abu al-Abbas, abu Bakar Muhammad bin Ibrahim al-Tamimi, ia juga murid al-Junaidi dalam tasawuf. Tokoh lain dalam bidang hadis adalah ibnu al-Farrah dan Musa bin Hasan. Dalam Ilmu Kalam tekenal nama abu al-Haqq bin Muhammad ibnu Zaffar dan Mazari, dalam bidang sastra terkenal nama Ali Hamzah al-Bashri, pengarang al-Mutanabbi sastrawan arab klasik.[34]

  1. III. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan bahwa :

  1. Masuknya Islam  di Andalusia dari tahun 711-1492 M (781 tahun) dan di Sisilia dari tahun 827-1194 M (367 tahun) tidak terlepas dari perluasan wilayah yang dicanangkan oleh khalifah daulah umayyah dengan melalui jalur Afrika Utara yang membuat kedua wilayah itu terkenal di dunia baik dibidang pendidikan maupun dibidang peradaban.
  2. Baik di Andalusia maupun di Sisilia pola pendidikan Islam yang diselenggarakan pada dasarnya terdiri dua tingkatan yaitu di Kuttab yang mempelajari pengetahuan dasar dan menengah misalnya Al-Qurán, fikih, bahasa Arab dan  kesenian sementara di Perguruan Tinggi mengarah pada disiplin ilmu khusus misalnya agama, sains dan teknologi.
  3. Di Andalusia inilah lahir tokoh-tokoh muslim ternama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan, seperti Ilmu Agama Islam, Kedokteran, Filsafat, Ilmu Hayat, Ilmu Hisab, Ilmu Hukum, Sastra, Ilmu Alam, Astronomi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu dengan segala kemajuan dalam berbagai ilmu pengetahuan, kebudayaan serta aspek-aspek ke-islaman, Andalusia kala itu boleh dikatakan sebagai pusat kebudayaan Islam dan Ilmu Pengetahuan yang tiada tandingannya setelah Konstantinopel dan Bagdad. Maka tak heran waktu itu pula bangsa-bangsa Eropa lainnya mulai berdatangan ke negeri Andalusia ini untuk mempelajari berbagai Ilmu pengetahuan dari orang-orang Muslim Spanyol, dengan mempelejari buku-buku buah karya cendekiawan Andalusia baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.
  4. Sisilia yang pernah dikuasai Islam dari tahun 881 M s/d 1091 M. Sebagaimana di Toledo Andalusia, kota Palermo merupakan tempat yang penting bagi kegiatan penterjemahan buku-buku ulama Islam ke dalam bahasa latin.

Daftar Pustaka

Ali, K, A Studi of Islamic Histry, diterjemahkan oleh Ghufron A. Mas’adi dengan judul : Sejarah Islam, Tarikh Pramodern, Ed.I, Cet. II, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997.

Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, Bandung: Mizan, 1994 M.

Hitti, Philip K, History of the Arab, (terbitan Palgrave Macmillan, edisi revisi ke-10, New York, 2002.

Http://pdfsearchengine.com/htmljurnaliqro.files.wordpress.com/2008/08/01-nasruddin-1-9.html.

Http://Shofiullah. Blogspot.com/2009/04/peradaban-islam-di-Sisilia-d..

Http://zanikhan.multiply.com/journal/item/1338 disadur pada tanggal, 17

Juli 2009.

Karya, Sukarno, Ensiklopedia Mini, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1996

Lewis, Bernard, The Arab in History, di terjemahkan oleh Said  Janahuri dengan Judul Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah, Cet. I; Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1998

Mapangganro, Sistem dan Metode Pendidikan Islam dalam Upaya meningkatkan Kualitas Bangsa Indonesia menyongsong Era Industrialisasi, makalah yang disampaikan dalam seminar IKA tanggal 26 Agustus 1995

Maryam, Siti, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik hingga Modern, Yokyakarta: LESFI, 2004.

Nata, Abuddin, Ilmu Kalam, Filsafat Islam dan Tasawuf, Cet. II, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994.

—————–, Sejarah Pendidikan Islam pada Periode Klasik dan Pertengahan, Ed. I, Cet. I, Jakarta: Raja Grafindo Persada,2004.

Nasution, Harun, Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran, Cet. IV; Bandumg: Mizan, 1999.

Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Isla: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, Ed. I, Cet. II, Jakarta: Kencana , 2008.

Syalabi, Ahmad, Sejarah Pendidkan Islam, terjemahan Muchtar Yahya dan Sanusi Latief, Jakarta¨Bulan Bintang, 1973.

Suwito, et al, Sejarah Sosial Pendidikan Islam , ed. I, Cet. II, Jakarta: Kencana, 2008

Sunanto, Musyrifah, Sejarah slam Klasik : Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, Ed. I, Cet. III, Jakarta:Kencana, 2007

Sou’yb, Yoesoef, Sejarah Daulat Abbasiyah, Jilid. , Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1977.

Zuhairani, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: t.tp., 1992 M.

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, ed. I, Cet. 16, Jakarta: PT Raja Grafino Persada, 2004.

Abd Salim Mukri, Pemikiran Islam antara Wahyu dan Akal, terjemahan (Jakarta: Mediyatma Sarana Perkasa, t.th.)

Aboebakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat (Solo: PT. Ramadhani, 1992 M.)

Ahmad Syalabiy, History of Muslim Education (Beirut: Dar al-Kasysyaf, 1954 M.)

A.L. Tibawi, Orig

in and Character of Madrasah, tulisan dalam Bulletin of School of Oriental and African Studien, Vol. 25, 1962 M.

Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh (Jakarta: Bulan Bintang, 1993 M.)

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Press, 1994 M.)

Fazlurrahman, Islam and Modernity : Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: The University of Chicago Press, 1984)

____________ Islam (Chicago: The University of Chicago Press, 1984)

Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam (Bandung: Mizan, 1994 M.)

Hasan Langgulung, Asas Pendidikan Islam (Jakarta: Pustaka Alhusna, t.th.)

Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (Jakarta: UI Press, 1985 M.).

___________ Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1995 M.)

Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religion Though in Islam (New Delhi: Kitab Bhaven, 1974).

M.M. Syarif, Para Filosuf Muslim, alih bahasa M. Fachruddin (Bandung; Diponegoro, t.th.)

Syahrir Harahap, Al-Qur’an dan Sekularisasi (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1994 H.)

Uka Tjandrasasmita (ed.), Sejarah Nasional Indonesia, Jilid III (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984 M.)

Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Ibn Rusyd ( Jakarta: Bulan Bintang, 1975 M.)

Zuhairani, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: t.tp., 1992 M.)

Dengan masuknya Islam ke Eropa, Ilmu yang selama ini didominasi dan monopoli dunia Islam mulai bergerak pelan kearah masyarakat Eropa. Merekapun mulai belajar dan mengembangakan pengetahuan itu dengan giat.

Kedatangan Islam ke Eropa tidak saja berhasil mengadakan perbaikan-perbaikan dalam sistem ekonomi dan sosial masyarakat Eropa, tetapi Islam juga telah berhasil membebaskan bangsa Eropa dari tekanan-tekanan para kaum imperalis serta menggugah kesadaran mereka bahwa mereka pada saat yang sama telah tertinggal dalam kompetisi Ilmu Pengetahuan dengan dunia lainnya. Dengan terjadinya konflik Perang ini orang-orang Eropa mulai mengenal banyak barang-barang material yang telah ada didunia Islam tetapi mereka bangsa Eropa tidak pernah mengenalnya.

Kontak Dunia Barat dengan Islam terjadi melalui tiga jalur pokok, yaitu :

  1. Andalusia di Spanyol yang banyak mempunyai universitas-universitas yang banyak dikunjungi orang-orang Eropa untuk belajar. Kota Toledo mempunyai peranan yang sangat penting dalam hal ini.
  2. Sisilia yang pernah dikuasai Islam dari tahun 881 M s/d 1091 M.. Sebagaimana di Toledo Spanyol, kota Palermo merupakan tempat yang penting bagi kegiatan penterjemahan buku-buku ulama Islam ke dalam bahasa latin;

Perang Salib, tetapi dibandingkan dengan dua jalur tadi, peranan perang salib dalam memindahkan Ilmu Pengetahuan Islam ke Barat tidak sebesar dua kota (Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1995 M.) hal.  302)


[1]Lihat Mapangganro, Sistem dan Metode Pendidikan Islam dalam Upaya meningkatkan Kualitas Bangsa Indonesia menyongsong Era Industrialisasi, makalah yang disampaikan dalam seminar IKA tanggal 26 Agustus 1995, hal.3 yang disadur dari http://pdf-search-engine.com/html jurnal iqro. files.wordpress.com/2008/08/01-nasruddin-1-9.html. tgl, 15 Juli 2009.

[2]Siti Maryam, Dkk, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik hingga Modern, (Cet. II; Yokyakarta: LEFSI, 2004), h. 69.

[3]http://fotozamiele.blogspot.com/2009/03/al-andalus-andalusia.htmldisadurpada

tanggal, 19 Juli 2009

[4]http://alwifaqih.blogspot.com/2008/02/sejarah-peradaban-islam.html disadur pada tanggal, 10 September 2009

[5]http://zanikhan.multiply.com/journal/item/1338 disadur pada tanggal, 17 Juli 2009.

[6]Ibid.

[7] Lihat Philip K. Hitti, History of the Arab, (terbitan Palgrave Macmillan, edisi revisi ke-10, New York: 2002), h. 628.

[8]Suwito, et al, Sejarah Sosial Pendidikan Islam , (Ed. I, Cet. II; Jakarta: Kencana, 2008), h.111.

[9]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Ed. I, Cet.XVI; Jakarta: PT Raja Grafino Persada , 2004), h.103.

[10]Ibid

[11]Ahmad Syalabi, SejarahPendidkan Islam, (terjemahan), Muchtar Yahya dan Sanusi Latief, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 88.

[12]http://caspershaft.blogspot.com/2007/02/islam-dan-pendidikan.html, di sadur pada tangal, 10 September 2009

[13]Nama Masjid Abdurrahman III diambil dari nama  Khalifah pertama keturunan Umayyah di Spanyol dengan gelar al-Nasir Lidinillah (penegak agama Allah), pada pemerintahan Abdurrahman III nilah Spanyol mengalami puncak kemajuan peradaban Islam khususnya dalam bidang seni arsetektur, Cordova pada saat itu memiliki 300 Masjid,100 Istana yang megah, 13.000 gedung dan 300 tempat pemandian umum. Lihat K. Ali, Sejarah Islam, Tarikh Pramodern, (ed.I, Cet. II, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 309-310.

[14] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, (Ed. I, Cet. II; Jakarta: Kencana , 2008), h.99.

[15] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam pada Periode Klasik dan Pertengahan (Ed. I, Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada,2004), h. 266.

[16]Ibid. h.263

[17]Lihat Badri Yatim, op. cit, h. 101

[18]Lihat Samsul  Nizar , op.cit h. 100.

[19] Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat Islam dan Tasawuf, (Cet. II; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), h. 104

[20]Lihathttp://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/10/1/pustaka159. htmlatauhttp://wwwislamuda.com/?imud=rubrik&menu=cetak&kategori=5&id=232

[21] Lihat Abuddin Nata, op.cit. h. 101.

[22]http://eramuslim.blogdetik.com/2009/05/12/kenapa-eropa-barat-lebih-maju-dari-eropa-timur/

[23]Hammond , Headline World Atlas , (New Jersey : Hammond Incorporated Maplewood, 1969), h. 36

[24] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik : Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, (Cet. III; Jakarta, Kencana Prenada Media Group , 2007) , h.157

[25] Harun Nasution, Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran, (Cet. IV; Bandumg: Mizan, 1999), h. 102.

[26] Sukarno Karya, Ensiklopedia Mini, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1996), h. 359.

[27]Http://Shofiullah. Blogspot.com/2009/04/peradaban-islam-di-Sisilia-disadur tgl, 3 Juli 2009.

[28]Yoesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiyah, (Jild. , Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 187.

[29]Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik : Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, (Ed. I, Cet. III; Jakarta:Kencana, 2007), h. 227.

[30] Lihat Ahmad Syalabi, op. cit, h.37.

[31]http://taghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=153&dcid=42998 disadur pada tanggal, 15 September 2009.

[32] Bernard Lewis, The Arab in History, di terjemahkan oleh Said  Janahuri dengan Judul Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah, (Cet. I; Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1998), h. 118-119.

[33] Lihat Sukarno Karya, op.cit, h.362.

[34]Ibid, h.361


Responses

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: