Oleh: muhdahlan | 20 November 2010

PETUNJUK AL-QUR’AN TENTANG BELAJAR DAN PEMBELAJARAN



PETUNJUK AL-QUR’AN TENTANG BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Oleh: Muh. Dahlan Thalib[1]

 

  1. I. PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah

Secara historis dapat dipahami bahwa pada empat belas tahun yang lalu diturunkan kitab suci Al-Qur’an. Sebelum Al-Qur’an turun, di dunia sudah terdapat banyak agama dan banyak kitab yang dianggap suci oleh penganut-penganutnya. Agama Kristen dengan kitab perjanjian lama dan kitab perjanjian baru. Selain agama Kristen, orang arab juga banyak menganut agama Yahudi.

Di Negeri Arab hidup orang-orang Persia yang juga mempercayai seorang nabi dan sebuah kitab suci Zend Avesta. Kitab ini telah mengalami banyak perubahan-perubahan oleh kelakuan tangan manusia akan tetapi masih banyak penganutnya. Di India, kitab Weda dan kitab Gita oleh Shri Krisna dan ajaran Budha. Agama Kong Hu Cu menguasai Negeri Tiongkok akan tetapi pengaruh agama Budha lebih kuat dan makin meluas di negeri itu.[2]

Eksistensi kitab-kitab yang dipandang suci oleh pengikut-pengikutnya dan ajaran-ajaran itu, apakah alam dunia ini masih memerlukan kitab suci yang lain lagi? Adalah satu pertanyaan yang ada pada setiap orang yang mempelajari Al-Qur’an. Jawabannya dapat diberikan dalam beberapa bentuk, yaitu:

Pertama, Apakah adanya berbagai agama itu tidak menjadi alasan yang cukup untuk datangnya agama yang baru lagi untuk menyatukan agama-agama itu semua.

Kedua, apakah akal manusia itu tidak mengalami proses evolusi sebagai mana badannya? Dan karena evolusi fisik itu akhirnya mencapai bentuk yang sempurna, apakah evolusi mental dan rohani itu tidak menuju ke arah kesempurnaan yang terakhir, yang sebenarnya merupakan tujuan dari pada adanya manusia itu?

Ketiga, apakah agama-agama yang dahulu turun menganggap ajaran-ajaran yang dibawanya adalah ajaran yang terakhir, apakah mereka tidak mengharapkan perkembangan kerohanian yang terus menerus. Apakah mereka tidak selalu memberitahukan kepada pengikut-pengikutnya tentang akan datangnya juru selamat yang akan menyatukan seluruh umat manusia dan membawa mereka ke arah tujuan yang terakhir?

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah jawaban yang mengharuskan supaya Al-Qur’an diturunkan, sekalipun sudah ada kitab-kitab yang dianggap suci oleh umat-umat yang dahulu.

Dunia ini telah maju, orang tidak perlu berusaha untuk membuktikan bahwa apabila dunia ini mempunyai pencipta, maka Ia harus pencipta Yang Esa. Tuhan dari orang-orang Israil, Tuhan dari orang-orang Yahudi, orang-orang Hindu, Tuhan dari Negeri Tiongkok, Negeri Eropah, Iran, Arab, Afghanistan, Indonesia adalah tidak berbeda.

Tuhan adalah Esa, dan hukum yang mengatur dunia ini juga satu hukum. Sistem yang menghubungkan satu bagian dari dunia ini dengan yang lainnya adalah juga satu sistem. Ilmu pengetahuan memberikan keyakinan bahwa semua perubahan-perubahan alami dan mekanis di mana saja adalah pernyataan dari hukum yang sama. Dunia ini hanya mempunyai satu prinsip yaitu gerak. Demikian pula dunia ini hanya mempunyai satu pencipta, yaitu Allah Swt. Apabila Tuhan itu satu, mengapa dunia ini mempunyai banyak agama? Apakah agama itu adalah hasil dari pemikiran otak manusia, maka tiap-tiap kelompok bangsa dan tiap-tiap kelompok umat manusia menyembah Tuhan-nya sendiri-sendiri.

Persoalan apakah agama dan kitab sucinya itu adalah hasil pemikiran manusia, jawabnya sudah barang tentu adalah bukan hasil pemikiran manusia. Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 164 berbunyi:

“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri. Ia membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu, mereka berada dalam kesesatan yang nyata”.

 

Demikian pula dalam surat Al-Baqarah ayat 185 menegaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan berisikan petunjuk bagi manusia serta penjelasan tentang petunjuk tersebut. Selain itu, Al-Qur’an disamping berisikan petunjuk dan penjelasannya juga berisikan instrument dan alat ukur untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang buruk dan yang baik.

Berdasarkan konsep fenomena di atas, dapat dipahami bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk dalam berbagai aspek kehidupan. Al-Qur’an tidak terbatas pada masalah keagamaan yang dogmatis saja tetapi juga masalah social, budaya, politik, ekonomi, maupun masalah pendidikan. Dengan demikian, apakah Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai petunjuk yang absolute? Dan apakah di dalam Al-Qur’an terdapat petunjuk, metode dan strategi pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam setiap proses pembelajaran?

 

  1. Rumusan Masalah

Menyimak uraian latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka focus pengkajian dan permasalahan pada kajian ini adalah bagaimana Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam proses belajar dan pembelajaran? Permasalahan ini, secara operasional dapat digambarkan sebagai berikut:

(1)     Apakah Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai petunjuk yang absolute dalam berbagai aspek kehidupan?

(2)     Apakah di dalam Al-Qur’an terdapat petunjuk, metode dan strategi pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam setiap proses pembelajaran?

(3)     Apakah Al-Qur’an dapat dijadikan petunjuk dalam penafsiran tafsir sosial kependidikan?

 

II. PEMBAHASAN

  1. A. Al-Qur’an Sebagai Petunjuk

Dalam surat Al-Baqarah ayat 185 dikatakan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan (pertama kali) dalam bulan Ramadhan berisikan petunjuk bagi manusia, serta penjelasan tentang petunjuk itu yang di dalamnya terkandung pula kriteria atau tolok ukur yang membedakan segala sesuatu.

Ayat tersebut mengandung tiga konsep: pertama, bahwa Al-Qur’an itu adalah sebuah kitab yang berisikan petunjuk, pedoman atau pimpinan yang disebut hudan. Orang-orang yang berhasil memperoleh petunjuk tersebut disebut muhtadin. Kedua, Al-Qur’an bukan hanya sebagai petunjuk yang mungkin dirumuskan dalam satu atau dua kalimat, tetapi Al-Qur’an memberikan pula penjelasan atau bayan mengenai petunjuk itu. Ketiga, petunjuk itu sekaligus merupakan criteria atau tolok ukur untuk menilai segala sesuatu, terutama untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil.

Keterangan di atas dapat ditafsirkan bahwa Al-Qur’an yang dewasa ini merupakan kompilasi ayat-ayat atau wahyu Allah adalah sebuah kitab atau buku yang berisikan petunjuk yang langsung berasal dari Allah. Biasanya jika ingin petunjuk dari Allah maka jalannya adalah dengan berdoa. Dalam shalat selalu membaca ihdinal shirathal mustaqim yang artinya (ya Allah) pimpinlah aku ke jalan yang lurus (benar).

Surah Al-Fatihah sebenarnya adalah sebuah doa yang meminta agar diberi petunjuk (hudan) ke jalan yang konsisten dan istiqamah dengan kebenaran. Dalam shalat doa ini diucapkan secara rutin, tetapi mungkin tidak disadari arti dan maknanya. Doa bagi kebanyakan orang dapat disadari apabila sedang dalam menghadapi masalah atau persoalan. Karena Al-Qur’an akan memberikan petunjuk, tentu saja tidak menyajikan jawaban secara mendetail mengenai masalah kongkrit yang dihadapi tetapi memberikan pedoman secara umum yang perlu dianalisis berdasarkan petunjuk umum yang berbentuk pedoman moral.

Al-Qur’an di samping sebagai hudan juga sebagai bayan mengenai hudan itu. Hal ini berarti bahwa Al-Qur’an itu menjelaskan dirinya sendiri yang ayat-ayat itu satu sama lain saling menjelaskan walaupun kerap kali penjelasannya terdapat pada surah-surah dan ayat-ayat lain. Hipotesis ini menimbulkan metode tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an, yaitu penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an juga.[3]

Kaum muslimin berkeyakinan bahwa Al-Qur’an sebagai wahyu Allah merupakan petunjuk dan rahmat bagi segenap bangsa yang berlaku sepanjang waktu dan semua tempat. Al-Qur’an sebagai kitab suci tidak akan mengalami perubahan. Timbul pertanyaan, apakah umat Islam yang menganut keyakinan tidak ketinggalan zaman dan menjadi golongan yang paling awam, jumud dan konservatif di dunia?

Al-Qur’an memang tidak pernah berubah dan tidak akan direvisi oleh kaum muslim. Wahyu Allah tersebut akan berlaku sepanjang zaman karena seluruh isi Al-Qur’an bersifat potensial. Nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an berlaku abadi, seperti keadilan, kejujuran, amanah, kesabaran, dan sebagainya.

Meskipun demikian, tafsiran orang-orang tentang keadilan biasa berkembang dari waktu ke waktu. Dalam proses penafsiran akan selalu terjadi perbedaan seperti istilah Qalam dalam surat Al-Alaq yaitu suatu alat tulis tertentu. Gambaran sekarang tentang Qalam tentunya sudah jauh berbeda dengan pengertian dahulu. Qalam yang arti harfiahnya adalah suatu alat tulis, penafsiran simbolisnya bisa berubah menjadi komuter. Kalam dalam Al-Qur’an tidak pernah berubah akan tetapi penafsiran akan kata itu biasa berubah walaupun esensi maknanya tetap sama.

Sudah sewajarnya kalau setiap muslim mempunyai akses langsung kepada Al-Qur’an. Setiap muslim terbiasa melafalkan ungkapan-ungkapan Al-Qur’an setidaknya dalam shalat atau dalam berdoa, malah ada yang membacanya dalam setiap ba’da subuh, magrib dan setiap malam jum’at. Tetapi kebanyakan mereka hanya membaca Al-Qur’an saja tanpa tertarik sedikitpun untuk mengetahui artinya, apalagi memaknai secara mendalam. Dengan kata lain, kebanyakan kaum muslim belum memiliki akses yang wajar terhadap sumber petunjuk yakni Al-Qur’an

  1. B. Al-Qur’an Sebagai Petunjuk dalam Belajar dan Pembelajaran

Suatu kecenderungan positif yang tampak di kalangan masyarakat dewasa ini adalah pengkajian ayat-ayat Al-Qur’an untuk menemukan kedalaman maknanya. Pengkajian itu tidak terbatas pada masalah keagamaan yang dogmatis saja, tetapi juga masalah social, budaya, politik, ekonomi maupun pendidikan.

Dengan kesadaran ini, Al-Qur’an harus dipandang sebagai panutan dalam berbagai aspek kehidupan, tidak hanya mencakup ajaran dogmatis, tetapi juga ilmu pengetahuan, dan salah satu cabang ilmu pengetahuan itu adalah ilmu pendidikan. Meskipun Al-Qur’an tidak menjelaskan secara terinci tentang bagaimana esensi pendidikan, namun ada berbagai patokan dasar yang telah digariskannya. Untuk membuktikan hal tersebut maka terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian pendidikan.

Pendidikan adalah upaya penyampaian konsep atau ide kepada peserta didik agar peserta didik yang belum tahu menjadi tahu. Pengertian pendidikan ini merupakan pewarisan kebudayaan.[4]

Manusia yang akan dididik bagaikan alam kecil (mikrokosmos) yang penuh dengan bermacam-macam kekayaan. Dengan kata lain bahwa manusia bagaikan perut bumi yang penuh dengan barang tambang seperti emas, perak, intan, dan berlian. Kekayaan terpendam itu belum berguna sebelum ia diangkat dari perut bumi. Ia harus diangkat dan digali serta digarap untuk mengeluarkan kekayaan tersebut. Begitu halnya dengan manusia, dalam dirinya tersimpan banyak potensi yang bila dieksploitasi dengan cermat akan menjadi manusia yang professional yang berguna bagi diri dan masyarakatnya.

Peserta didik adalah raw input (bahan mentah) yang siap untuk diproses dalam lingkungan transformasi pendidikan untuk mencapai output tujuan pendidikan yaitu perubahan sikap. Bukankah sains dan teknologi itu adalah hasil kecerdasan dan kreatifitas manusia? Karena mengeksploitasi potensi-potensi manusia adalah tugas pendidikan dalam bentuk proses pembelajaran. Dengan demikian, pendidikan adalah suatu upaya transformasi nilai dan pengembangan potensi manusia.

Telaah atas esensi pendidikan dan pembelajaran akan meliputi cakupan identifikasi ciri-ciri inti, sebagai berikut:

  1. Potensi pendidikan adalah usaha sadar untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan.
  2. Proses pendidikan mencakup usaha perkembangan secara optimal kualitatif atas semua aspek kepribadian dan kemampuan (cognitive, affective, psychomotor) serta semua aspek peranan manusia dalam kehidupannya.
  3. Proses pendidikan berlangsung dalam semua lingkungan pengalaman hidup (tripusat pendidikan).
  4. Proses pendidikan berlangsung dalam seluruh tahapan perkembangan seorang sepanjang hayatnya (life long education).

Dasar pemikiran yang menggambarkan harapan atau tujuan setiap bentuk pendidikan dan makna telaah mengenai esensi kependidikan tersebut sejalan dengan tujuan Al-Qur’an, yakni mengadakan perubahan-perubahan positif. Dasar pemikiran ini dijelaskan dalam surat Ibrahim ayat 1 berbunyi:

Terjemahnya:

Alif, laam raa, (ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa Lagi Maha Terpuji. [5]

 

Dari berbagai teori pendidikan yang dihasilkan oleh para pakar ilmu pendidikan telah disepakati bahwa matei pendidikan harus disampaikan. Dengan demikian, pendidikan adalah suatu peristiwa penyampaian atau proses transformasi. Al-Qur’an menegaskan hal serupa ketika menyampaikan materinya kepada penerimanya, yaitu Nabi Muhammad saw, sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 67, yang artinya:

Hai Rasul sampakanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu berjalan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.[6]

Dalam proses transformasi pendidikan itu terdapat faktor-faktor atau unsur-unsur pendidikandi dalamnya, yaitu faktor tujuan pendidikan, faktor pendidik, faktor peserta didik, faktor bahan/materi pendidikan, metode, dan faktor lingkungan pendidikan sehingga terjadi komunikasi pendidikan.

Komunikasi pendidikan tersebut tentunya tidak dapat berlangsung dalam ruang hampa, melainkan dalam suasana yang mengandung makna dan tujuan yang harus diusahakan pencapaiannya dengan menggunakan faktor pendidikan tersebut. Gambaran tentang eksistensi pendidikan yang dikemukakan serta pengamatan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an mengantarkan pada kejelasan maknanya bahwa ada patokan fundamental tentang pendidikan dalam Al-Qur’an.

Kandungan makna dan tujuan yang ingin dicapai dalam setiap interaksi pembelajaran adalah terjadinya kehidupan manusia dan seluruh makhluk-Nya yang ber-ekosistem antara satu dengan yang lainnya. Al-Qur’an telah menyatakan dengan isyarat tentang tujuan penciptaan alam raya ini seperti yang terdapat dalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 16 bahwa: “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main”.[7]

Ayat ini memberikan pemahaman bahwa bumi dan planet-planet yang telah diciptakan oleh Allah Swt bertujuan tertentu dan untuk kepentingan makhluknya.[8] Patokan dasar tujuan pendidikan telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (Q.S. Al-Isra’ ayat 9).[9]

Al-Qur’an sebagai petunjuk dengan tujuan membina manusia guna mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Manusia yang dibinanya adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur materil yaitu jasmani dan non materil yaitu akal dan jiwa. Pembinaan akal menghasilkan kecerdasan dan keterampilan (adabud-dun-ya) sedangkan pembinaan jiwa menghasilkan etika dan budi pekerti (adabud-din).

Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaaf ayat 23 berbunyi: Ia berkata: “pengetahuan (tentang hal itu) hanya pada Allah, dan aku (hanya sekedar) menyampaikan kepada kamu apa yang dengan itu aku diutus, tetapi aku melihat kalian seperti orang-orang yang bodoh[10]. Mengapa engkau tidak mempergunakan pendengaranmu, penglihatanmu, dan kalbumu serta akalmu. Alam ini terbentang luas yang patut untuk dibaca dan dianalisis (Iqra’). Semua itu adalah alat untuk memperoleh pengetahuan untuk memahami kebenaran ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah Swt.[11]

Al-Qur’an dalam mengerahkan pendidikannya kepada makhluk manusia menghadapi dan memperlakukan makhluk tersebut sejalan dengan unsur penciptaannya, yaitu jasmani, akal, dan jiwa. Oleh karena itu, materi-materi pendidikan yang disajikan Al-Qur’an selalu mengarah pada jiwa, akal, dan raga manusia.

Dalam penyajian materi pendidikan membutuhkan metode pembelajaran, sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an surat Al-Israa’ ayat 49-51 yang berbunyi:

“Dan mereka berkata: “apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu”. Maka mereka akan bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali? “Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama”. Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata, “kapan itu (akan terjadi)? Katakanlah: mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”.[12]

 

Tafsiran Al-Qur’an di atas dapat dipahami adanya metode pembelajaran yang menggambarkan keberatan-keberatan mereka (anak didik) yang tidak percaya pada hari kebangkitan dengan mengatakan apakah bila kami telah menjadi tulang belulang atau benda-benda yang hancur akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru? Al-Qur’an yang ingin melibatkan penalaran manusia dalam penemuan keyakinan tentang hari kebangkitan.

Pada saat itu, Al-Qur’an mengajak manusia (anak didik) menggunakan daya nalarnya dan bertanya. Siapakah yang menghidupkan semua itu kembali? Jawabnya pasti Dia yang pertama kali mewujudkannya.

Dengan dimikian, metode pembelajaran yang tergambar pada rangkaian ayat-ayat tersebut adalah metode diskusi. Metode ini mengarahkan anak didik untuk menemukan sendiri kebenaran melalui penalaran akalnya.

Di samping metode pembelajaran di atas, Al-Qur’an juga menggunakan metode kisah atau metode bercerita sebagai salah satu metode untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap kisah dan cerita menunjang materi yang disajikan, baik kisah itu benar-benar terjadi maupun hanya kisah simbolik.

Dalam mengemukakan kisah, Al-Qur’an tidak segan-segan menceritakan kelemahan-kelemahan manusia. Namun, hal tersebut digambarkan sebagaimana adanya, tanpa menonjolkan segi-segi yang dapat mengundang rangsangan. Kisah tersebut biasanya diakhiri dengan menekankan akibat dari kelemahan diri seseorang yang digambarkannya, pada saat kesadaran manusia dan kemenangannya mengatasi kelemahan itu. Sebagai contoh dalam surat Al-Qashash ayat 78-81:

Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi berita harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat dari padanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).[13]

 

Al-Qur’an mengemukakan kisah-kisahnya sama dengan pengarang novel yang mengungkapkan seperti kisah nabi Yusuf dan Sulaiha.[14] Al-Qur’an justru menggambarkan sebagai suatu kenyataan dalam diri manusia yang tidak perlu ditutup-tutupi dan tidak dianggap sebagai suatu kekejian akan tetapi suatu pendidikan.

Al-Qur’an juga menggunakan kalimat-kalimat yang menyentuh hati, untuk mengarhkan manusia kepada ide yang dikehendakinya. Akan tetapi materi pendidikan yang disampaikannya selalu berkaitan dengan metode panutan atau suri toladan dari subyek pendidikan (pendidik). Hal ini terhimpun dalam diri Rasulullah Saw. Ketika mendengar ajaran-ajaran Al-Qur’an yang terlihat dengan nyata adalah penjelmaan ajarannya terdapat pada diri beliau. Yang selanjutnya mendorong manusia (anak didik) untuk menyakini keistimewaan dan mencontohi pelaksanaannya.

Itulah selayang pandang sebagian metode yang terdapat dalam Al-Qur’an dalam rangka proses pembelajaran. Kalau metode pembelajaran dalam Al-Qur’an itu digunakan untuk menyoroti pendidikan khususnya pendidikan agama, maka sering kali ditemukan dalam kenyataan hal-hal yang tidak sejalan dengan metode pendidikan Al-Qur’an tersebut.

Pendidikan yang dipelajari oleh anak didik bersifat menyeluruh dan luas, tidak mungkin dapat diraih secara sempurna. Oleh karena itu, dia harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan sesuatu yang akan diraihnya dengan tuntutan belajar secara terus-menerus.

Konsep belajar secara terus menerus ini terdapat dalam hadis yang menyatakan bahwa tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahad. Terlepas dari sahih atau lemahnya penisbian ungkapan tersebut kepada Nabi namun sejalan dengan konsep Al-Qur’an tentang keharusan menuntut ilmu dan memperoleh pendidikan sepanjang hidup.

Dari ungkapan tersebut menunjukkan ide yang terdapat dalam khasanah pemikiran Islam melalui ide life long education yang dipopulerkan oleh Paul Lengrand. Pendidikan seumur hidup yang dikemukakan itu tidak hanya terlaksana melalui jalur-jalur pendidikan formal, akan tetapi juga melalu jalur pendidikan informal dan nonformal. Jalur pendidikan ini ditegaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan itu berlangsung dalam lingkungan pendidikan formal, informal dan nonformal.[15]

Identifikasi esensi pendidikan adalah usaha sadar yang dilaksanakan oleh seseorang yang menghayati tujuan pendidikan. Hal ini berarti bahwa tugas pendidikan dibebankan kepada seseorang yang lebih dewasa dan matang, yaitu orang yang mempunyai integritas kepribadian dan kemampuan yang professional. Orang tua atau guru dapat menghayati pengalaman tugasnya, arif, mengenai tujuan yang ingin dicapainya, lebih dewasa dan matang dari anak didik yang menjadi asuhannya.

Aktualisasi pengembangan kepribadian dan kemampuan anak didik merupakan peran sentral yang koheren dengan fungsi dan tanggung jawab moralnya. Peran pendidik alaimiah diserahkan kepada setiap orang tua terhadap anak kandungnya, karena hubungan kodrati secara biologis. Sedangkan pendidik professional diserahkan kepada setiap guru atau dosen terhadap anak didiknya sebagai hubungan fungsi profesionalnya. Dengan demikian, pendidikan berlangsung seumur hidup adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa tujuan pendidikan pada hakekatnya adalah membentuk manusia seutuhnya yang beriman, berilmu dan beramal. Untuk mencapai tujuan tersebut, secara umum Al-Qur’an dapat dijadikan petunjuk yang menggambarkan metode pendidikan dan pembelajaran yang dapat menyentuh akal dan jiwa peserta didik. Semboyang pendidikan seumur hidup life long education and education for all and all for education harus dijadikan prinsip hidup. Belajar adalah bagian dari ibadah.

 

C. Al-Qur’an Sebagai Tafsir Sosial Kependidikan

Al-Qur’an secara teks kontekstual memang tidak berubah, tetapi penafsiran atas teks yang selalu berubah sesuai dengan konteks ruang dan waktu manusia. Karenanya, Al-Qur’an selalu membuka diri untuk dianalisis, dipersepsi, dan diinterpretasikan (ditafsirkan) dengan berbagai alat, metode, dan pendekatan untuk menguak isi sejatinya. Aneka metode dan tafsir diajukan sebagai jalan untuk membedah makna terdalam dari Al-Qur’an itu.

Al-Qur’an seolah menantang dirinya untuk dibedah. Tetapi, semakin dibedah, rupanya semakin banyak saja yang tidak diketahui. Semakin ditelaah, nampaknya semakin kaya pula makna yang terkuak darinya. Barang siapa yang mengaku tahu banyak tentang Al-Qur’an, justru semakin tahulah bahwa mereka tahu hanya sedikit. Keuniversalan Al-Qur’an terletak pada cakupan pesannya yang menjangkau ke seluruh lapisan umat manusia, kapan saja dan di mana saja.[16]

Salah satu tafsir yang hendak digunakan untuk membedah noktah al-Qur’an adalah tafsir tematik. Tafsir tematik mencoba menelaah agar ditemukan titik konvergensi antara satu ayat dengan ayat lainnya secara logis, agar bisa ditemukan kuantum epistemologis secara relevan agar dapat menjawab tuntunan realitas social yang bergerak cepat.

Al-Qur’an mendeklarasikan dirinya untuk menyapa seluruh umat manusia dari segenap suku bangsa tanpa terkecuali dan di zaman masyarakat dahulu, modern, neomodern, hingga di akhir zaman. Upaya meraih kebenaran teks dan konteks sebuah ayat, membutuhkan ilmu alat agar lebih mudah mengaplikasikan makna-makna Al-Qur’an dalam kehidupan social. Apalagi ayat-ayat yang berkategori mutasyabihat.[17]

Dalam menafsirkan Al-Qur’an diperlukan pengetahuan tertentu yang berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan seperti yang dikemukakan oleh Imam Al-Sayuthiy[18] dan T.M. Hasbi Ash-Shiddiqey.[19] Nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an harus menerobos batas-batas geografis dan demokrafis dengan segala implikasinya, juga harus menembus lapisan-lapisan cultural dan sosial dengan segala keragaman dan keunikannya. Pada saat yang sama, nilai-nilai Al-Qur’an diperhadapkan pada keharusan mewujudkan tuntunannya melalui penafsiran yang berdandarkan pada realitas budaya, dan keharusan mempertahankan kontinuitas dan keautentikannya sepanjang zaman.

Dinamika sosial yang semakin dramatis itu, terutama akumulasi prestsi yang dicapai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern, semakin komplekslah permasalahan umat Islam ini.

Al-Qur’an yang berisi petunjuk bagi umat manusia, baik dalam rangka perumusan sistem-sistem sosial, pendidikan dan kemasyarakatan maupun dalam mengantisipasi dampak negative dari suatu sistem, senantiasa membuka diri dalam melakukan dialog cultural, kapan dan di manapun juga. Al-Qur’an sendiri menjelaskan hal tersebut dalam surat Muhammad ayat 24 bahwa manusia senantiasa dihadapkan pada tantangan moral: memperhatikan isi Al-Qur’an secara benar, ataukah hati mereka terkunci karena menolak memperhatikan Al-Qur’an.

Kemajuan ilmu pengetahuan, pendidikan tentang agama dan tentang ilmu mengajar kedua belah pihak mengetahui batas masing-masing. Agama mengakui bahwa di luar daerahnya sendiri ada daerah yang dapat diserahkan kepada ilmu untuk diselidiki dan dikupas masalah-masalahnya kemudian ternayata pula bahwa pengetahuan yang dihasilkan ilmu itu dapat menjadi bahan bagi agama untuk memperkuat keyakinannya.

Q.S. Al-A’Raf ayat 187; Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada Tuhanku, tidak seorangpun dapat menjelaskannya selain Dia. Demikian pula dalam Q.S. Al-Isra’ ayat 85 bahwa: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tiadalah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.

 

  1. IV. KESIMPULAN

Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk mengandung tiga konsep: pertama, bahwa Al-Qur’an itu adalah sebuah kitab yang berisikan petunjuk, pedoman atau pimpinan yang disebut hudan. Orang-orang yang berhasil memperoleh petunjuk tersebut disebut muhtadin. Kedua, Al-Qur’an bukan hanya sebagai petunjuk yang mungkin dirumuskan dalam satu atau dua kalimat, tetapi Al-Qur’an memberikan pula penjelasan atau bayan mengenai petunjuk itu (Al-Qur’an bi Al-Qur’an). Ketiga, petunjuk itu sekaligus merupakan criteria atau tolok ukur untuk menilai segala sesuatu, terutama untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil. Dengan demikian, Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai petunjuk penafsiran tafsir sosial kependidikan.

Metode pendidikan dan pembelajaran yang dapat dijadikan hudan dalam Al-Qur’an dapat diidentifikasi dalam metode deduktif, induktif, diskusi, tanya jawab, metode kisah atau bercerita, discovery and inquiry, suri toladan, dan problem solving. Al-Qur’an memang benar bahwa masih banyak dan terdapat adanya bidang-bidang dimana jangkauan ilmu pengetahuan manusia terbatas, seperti hal ruh, hari kiamat, dan sebagainya

Daftar Pustaka

Agustian, Ary Ginanjar, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual (ESQ) Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, Cet. VII, Jakarta: Arga, 2002

 

Al-Sayuthiy, Jalal al-Din Abd. Al-Rahman, Al-Itqan Fiy Ulum Al-Qur’an, Juz II, Mesir: Mustafa al-Babiy al-Halabiy wa Auladuh, 1951

 

Al-Shalih, Subhy, Mababis Fiy Ulum Al-Qur’an, Bairut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 1977

 

Ash Shiddiqy, Hasbi T.M., Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Jakarta: Bulan Bintang, 1980

Dawan M. Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an: tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, Cet. II., Jakarta: Paramadina, 2002

 

Departemen Agama RI., AlQur’an dan Terjemahnya, Jakarta: 1985

 

Hasan Langgulung, Tujuan Pendidikan dalam Islam, Diktat, Fakultas PPs IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, t.t.

 

Madani, Malik Madani dan Hamim Ilyas, Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, Miszan, Bandung, 1987

 

Muhammad Abdul mun’im Al-Jamal, Al-Tafsir Al-Farid li Al-Qur’an Al-Majid. Dar Al-Kitab Al-Jadid, t.t.p.

 

Mursi, Abdul Hamid, Sumber Daya Manusia Yang Produktif: Pendekatan Al-Qur’an dan Sains, Jakarta: Gema Insani Press, 1998

 

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003


[1] Kepala Tata Usaha Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Parepare

 

[2] Departemen Agama RI., AlQur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 1985

[3] M.Dawan Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an: tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, Cet. II., Jakarta: Paramadina, 2002, h. xviii

[4] Hasan Langgulung, Tujuan Pendidikan dalam Islam, Diktat, Fakultas PPs IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, t.t, h. 2

[5] Departemen Agama RI., Op Cit., 379

[6] Ibid, h. 172

 

[7] Ibid, h. 497

 

[8] Muhammad Abdul mun’im Al-Jamal, Al-Tafsir Al-Farid li Al-Qur’an Al-Majid. Dar Al-Kitab Al-Jadid, t.t.p., Juz, h.88

[9] Departemen Agama RI, Op Cit., 426

 

[10] Ibid, 826

 

[11] M. Dawan Rahardjo, Op Cit., h. 541

[12] Departemen Agama RI., Op Cit., 431

[13] Ibid, h. 623

 

[14] Lihat, kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha dalam Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 23.

[15] Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003

[16] M.H. Thabathaba’i menjelaskan bahwa keuniversalan Al-Qur.an terbukti karena tidak mengkhususkan pembicaraannya kepada umat Islam saja, melainkan juga berbicara kepada umat non-Islam termasuk orang kafir, musyrik, Yahudi dan Nasrani. Lihat Thabathaba’i dalam A. Malik Madani dan Hamim Ilyas, dengan Judul  Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1987, h. 33

 

[17] Secara garis besar, ayat-ayat Al-Qur’an terbagi atas dua bagian yaitu ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat (QS. Ali Imran:7). Ayat Muhkamat adalah ayat yang maksudnya jelas dan tidak ada ruang bagi kekeliruan. Sedangkan ayat-ayat Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang makna lainnya bukan yang dimaksudkan, makna hakikat yang merupakan takwilannya hanya diketahui oleh Allah.  Lihat Subhy Al-Shalih, Mababis Fiy Ulum Al-Qur’an, (Bairut: Dar al-Ilm li al-Malayin), 1977, h. 282

 

[18] Dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an, Imam Al-Sayuthiy menyebutkan lima belas macam ilmu yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin menafsirkan Al-Qur.an, yaitu, Al-Lughah, Nahwu, Sharaf, Al-Isytiqaq, Al-Ma’aniy, Al-Bayan, Al-Ba’di’, Al-Qira’ah, Ushul al-din, Ushul al Fiqh, Asbab al-nuzul, Nasikh wa almasnsukh, Al-hadits, Maubabah. Lihat: Jalal al-Din Abd. Al-Rahman Al-Sayuthiy, Al-Itqan Fiy Ulum Al-Qur’an, Juz II, Mesir: Mustafa al-Babiy al-Halabiy wa Auladuh, 1951, h. 180.

 

[19] Dari kelima belas  ilmu yang ditawarkan oleh Al-Sayuthiy di atas, diperkecil oleh Hasbi Ash Shiddiqey, menjadi tujuh ilmu, yaitu: (1) Al-Lughah al ‘arabiyah, (2) Undang-undang bahasa Arab, (3) Ilmu al-Ma’aniy, al-Bayan dan al-badi, (4) Mubbam meliputi Asbab al-Nuzul, Nasikh wa al-Mansukh dan al-Musthalah al-Hadits, (5) Ijmal dan Tabyin, ‘am dan Khas, Muthlaq dan Muqayyad, Amr dan Nahyi, (6) Ilmu Qalam, (7) Ilmu Qira’at. Lihat: Hasbi Ash Shiddiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Jakarta: Bulan Bintang, 1980, h. 207.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: