Oleh: muhdahlan | 20 November 2010

PERKEMBANGAN ISLAM DI MALAYSIA

PERKEMBANGAN ISLAM DI MALAYSIA

Oleh : Muh. Dahlan Thalib

  1. I. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang

Islam sebagai suatu kekuaan yang diperhitungkan di masa pra kolonialisme dan dalam batas tertentu perjuangan kemerdekaan dalam abad dua puluh, kekuatan dan sumbangan Islam bagi perubahan sosial politik selama ini sering diabaikan, sehingga mucullah pergolakan-pergolakan di dunia Islam mengalami kebangkitan termasuk di Malaysia.

Pada awalnya, Malaysia[1] Malaysia adalah kerajaan federal di Asia Tenggara yang terletak di semananjung Malaka dan sebagian Kalimantan Timur yang penduduknya mayoritas Islam dan konstitusi sebagai agama resmi negara, sehigga syarit Islam ditegakan dengan baik dan benar. Munculnya Islam di Malaysia berkat jasa para pedagang  yang mempunyai semangat yang tinggi dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam dari Arab melalui Malaka.[2] yang saat itu sebagai pusat perdagangan. Karena memang jalur perdagangan merupakan salah satu media yang efektif dalam mengembangkan dan menyiarkan ajaran Islam.

Malaysia dominan masyarakatnya muslim, tampak kelihatan sangat heterogen terutama bila dilihat dari segi etnis, suku dan ras mereka. Karena itu, di Malaysia dapat dijumpai sejumlah kelompok masyarakat muslim Indo-Melayu, bahkan suku Bugis dan Makassar, banyak di sana. Walaupun Malaysia sebagai salah satu negara yang masyarakatnya dominan muslim, namun tentu masih saja menimbulkan pertanyaan mengenai tempat asal datangnya Islam di sana dan bagaimana pola perkembangannya.

Perkembangan Islam di Malaysia ditandai dengan tumbuhnya institusi-institusi dengan baik hal ini peningkatan kesadaran beragama dalam sosial keagamaan, politik, ekonomi dan lain-lainnya, sebagai contoh sebuah oposisi Islam berkembang yaitu organisasi Kesatuan Nasional Melayu (UMNO) berusaha menyokong oposisi keagamaannya sendiri melalui perekrutan tokoh-tokoh agama dan berjanji memperjuangkan kepentingan Islam dan Pan-Melayu Islamic Party (P.M.I.P) yang menjadi juru bicara bagi permusuhan komunitas Muslim terhadap warga cina dan India. Orientasi keislaman P.M.I.P tidak hanya kepudulian ekonomi tetap juga kepedulian terhadap Perkembangan Islam.[3] Malaysia  dewasa ini semakin menunjukkan adanya pluralitas keberagamaan yang dapat memberi perlindugan bagi masyarakat non melayu yang pada umumnya menganut agama non Islam, sehingga mereka hidup berdampingan satusama lain tanpa menimbulkan gejolak.

  1. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang tersebut, maka penulis akan mengemukakan pokok masalah yang akan dikaji adalah Bagaimana Perkembangan Islam di Malaysia, namun untuk lebih sistimatis kajiannya maka dipokuskan pada sub-sub masalah, sebagai berikut :

  1. Bagaiamana Lintasan Sejarah Malaysia?
  2. Bagaimana Proses Masuknya Islam d Malaysia ?
  3. Bagaimana Perkembangan Islam di Malaysia ?
    1. Tujuan dan Kegnaannya

Adapun Tujuan yang ingin dicapai pada penulisan makalah ini adalah sejauhmana pengetahuan secara jelas tentang kondisi malaysia baik dilihat dari segi geografis maupun perkembangan Islam di Malaysia, sedangkan keguanaannya adalah diharapkan dapat memperoleh informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan agama Islam di Malaysia.

  1. II. PEMBAHASAN.
    1. Lintasan Sejarah Malaysia

Malaysia sebagai negara persekutuan tidak pernah ada sampai tahun 1963. Sebelumnya, sekumpulan koloni didirikan oleh Britania Raya pada akhir abad ke-18, dan paro barat Malaysia modern terdiri dari beberapa kerajaan yang terpisah-pisah. Kumpulan wilayah jajahan itu dikenal sebagai Malaya Britania hingga pembubarannya pada 1946, ketika kumpulan itu disusun kembali sebagai Uni Malaya. Karena semakin meluasnya tentangan, kumpulan itu lagi-lagi disusun kembali sebagai Federasi Malaya pada tahun 1948 dan kemudian meraih kemerdekaan pada 31 Agustus 1957. Singapura, Sarawak, Borneo Utara, dan Federasi Malaya bergabung membentuk Malaysia pada 16 September 1963. Tahun-tahun permulaan persekutuan baru diganggu oleh konflik militer dengan Indonesia dan keluarnya Singapura pada 9 Agustus 1965.[4]

Bangsa-bangsa di Asia Tenggara mengalami ledakan ekonomi dan menjalani perkembangan yang cepat di penghujung abad ke-20. Pertumbuhan yang cepat pada dasawarsa 1980-an dan 1990-an, rata-rata 8% dari tahun 1991 hingga 1997, telah mengubah Malaysia menjadi negara industri baru. Karena Malaysia adalah salah satu dari tiga negara yang menguasai Selat Malaka, perdagangan internasional berperan penting di dalam ekonominya. Pada suatu ketika, Malaysia pernah menjadi penghasil timah, karet dan minyak kelapa sawit di dunia. Industri manufaktur memiliki pengaruh besar bagi ekonomi negara ini. Malaysia juga dipandang sebagai salah satu dari 18 negara berkeanekaragaman hayati terbesar di dunia.

Malaysia merupakan negara yang mempunyai peranan strategik di kawasan Asia Tenggara pada khususnya dan dunia pada umumnya. Di samping berada pada kedudukan geografik yang menjadi laluan perdagangan antarabangsa sejak zaman dahulu. Negara Malaysia adalah negara berkembang dan masih digolongkan pada negara yang berpenghasilan menengah kebawah, tetapi beberapa sektor mendapat  prestasi dunia yang telah dicapai Malaysia yaitu record kembar Petronis tertinggi di dunia, selainitu posisi mata uang ringgit cukup tangguh.

Terletak di semanjung Malaka Asia Tenggara Malaysia yang ibu kotanya Kualalumpur mempunyai luas wilayah 332.370 Km2 atau 2,5 kali pulau Jawa. Sebagian besar wilayahnya mempunyai luas  wilayah berada 1.036 Km menyeberangi laut China selatan tepatnya di utara pulau Kalimantan dan lainnya ada di pulau Penang. Pada tahun 2002 jumlah penduduk Malaysia berkisar 22.229.040,  bahasa resminya bahasa Melayu. Sedangkan agama mayoritas Islam (53 %), Budha (17 %), KongFu Chu, Tao, Chinese (11 %), Kristen (8,6 %) dan Hindu (7 %).[5] Namun data yang terakhir penulis temukan bahwa sejalan dengan waktu perkembangan jumlah penduduk dan penganut agama semakin meningkat dengan  rata-rata 2,0 %.

Geografi daerah : 329.748 kiometer persegi (127.315 mil persegi) agak lebih besar dari Meksiko, Ibukota Kuala Lumpur, kota-kota lainnya, Penang, Ipoh, Malaka, Johor Baru, Shah Alam, Klangtan, Kucing, Kota inabalu, Kota Baru, Kuala Trengganu, Petaling Jaya. Malaysia dengan penduduk tahun 2008 populasinya 27,5 juta jiwa, laju pertumbuhan 2,0 % kelompok etnis terdiri atas : melayu 53 %, cina 26 %, asi 11,8 %, indian 7,7 % lainya 1,2 %. Bahasa terdiri bahasa melayu resmi, cina dialek macam, inggris, tamil, asli.[6]

Malaysia terdiri dari dua bagian, Malaysia Barat dan Malaysia Timur. Malaysia Barat merupakan sebuah semananjung yang tepanjang di dunia, di bagian tengahnya membujur pegunungan dari utara ke selatan. Pegunungan tersebut tediri dari beberapa rangkaian sejajar. Daratan rendah utama adalah daratan rendah Kedah di utara, daratan rendah Selangor di Barat, daratan rendah Johor di Selatan dan daraytan rendah  Kelantang dan Pahang di Pantai Timur, daratan rendah di pantai Timur makin ke Selatan makin melebar.[7]

Negara ini dipisahkan ke dalam dua kawasan oleh Laut Cina Selatan Malaysia berbatasan dengan Thailand, Indonesia, Singapura, Brunei, dan Filipina. Malaysia terletak di dekat khatulistiwa dan beriklim tropika. Kepala negara Malaysia adalah Yang di Pertuan Agong dan pemerintahannya dikepalai oleh seorang Perdana Menteri. Model pemerintahan Malaysia mirip dengan sistem parlementer Westminister. Berikut ini dapat dilihat dalam peta semenanjung Malaysia Barat dan Timur.

Suku Melayu menjadi bagian terbesar dari populasi Malaysia. Terdapat pula komunitas Tionghoa-Malaysia dan India-Malaysia yang cukup besar. Bahasa Melayu dan Islam masing-masing menjadi bahasa dan agama resmi negara.

Penduduknya sebagian besar  atau 61 % terdiri dari suku Melayu pribumi, pendatang terdiri dari orang muslim dan non Muslim yaitu orang muslim dari Indonesia (Minangkabau, Jawa, Banjar, Bugis, Aceh, Mandailing) dan orang muslim dari India, Cina, Pakistan, Persia dan Turki, Sedangkan orang non muslim adalah Cina dan India. Mayoritas penduduknya adalah muslim Suni pengikut Mazhab Syafií, Islam agama resmi.[8]

  1. Proses masuknya Islam di Malaysia

Sejarah masuknya Islam di Malaysia tidak bisa terlepas dari kerajaan-kerajaan Melayu, jauh sebelum datangnya Inggris di kawasan tersebut. Sebab kerajaan ini dikenal dalam sejarah sebagai Kerajaan Islam, dan oleh pedagang Gujarat melalui daerah kerajaan tersebut mendakwahkan Islam ke Malaysia pada sekitar abad kesembilan.[9]

Dari sini kemudian dipahami bahwa Islam sampai ke Malaysia belakangan ketimbang sampainya Islam di Indonesia yang sudah terlebih dahulu pada abad ketujuh.[10] Berdasarkan keterangan ini, maka asal usul masuknya Islam ke Malaysia berdasar pada yang dikemukakan Azyumardi Azra bahwa Islam datang dari India, yakni Gujarat dan Malabar.

Sebelum Islam datang wilayah Asia Tenggara, Malaysia adalah berada di jalur perdagangan dunia yang menghubungkan kawasan-kawasan di Arab dan India dengan wilayah China, dan dijadikan tempat persinggahan sekaligus pusat perdagangan yang amat penting.[11] Maka tidak heranlah jika wilayah ini juga menjadi pusat bertemunya pelbagai keyakinan dan agama (a cross-roads of religion) yang berinteraksi secara kompleks.[12]

Agama dan keyakinan itu pun telah mempengaruhi susunan sosial, budaya, ekonomi, dan politik di wilayah ini. Menurut Prof. DR. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) bahwa ada tiga isu masuknya Islam di Malaysia yaitu Perbincangan tentang proses yang membawa kepada penyebaran Islam ke Alam Melayu akan melibatkan perbincangan yang membabitkan tiga isu. Isu-isu tersebut ialah bila tarikh sebenar Islam diperkenalkan kepada orang Melayu, dari manakah asal-usul pendakwah yang menyebarkan agama tersebut dan bagaimanakah proses ini boleh berlaku dengan begitu berkesan sekali. Dalam menghuraikan ketiga-tiga isu ini kelebihan yang terdapat dalam hujah yang diberikan oleh beliau telah mempelopori pendekatan yang memberikan perspektif tempatan tentang proses yang membawa kepada penyebaran Islam ke Alam Melayu.

Isu pertama yang menimbulkan perbincangan tentang penyebaran Islam di Alam Melayu adalah berkaitan dengan bilakah tarikh tepat agama Islam mula disebarkan di rantau ini. Dalam tulisannya, Hamka cenderung berpendapat bahawa agama Islam telah diperkenalkan di rantau ini pada awal abad Hijrah (abad ketujuh Masihi). Pendapat yang beliau kemukakan ini adalah berdasarkan kajian yang lakukan dengan merujuk sumber Cina.[13] Pendapat yang dikemukakan juga adalah dengan  bersandar kepada tulisan oleh seorang sarjana Barat, iaitu T.W. Arnold  yang mengaitkan penyebaran agama Islam dengan peranan yang dimainkan oleh pedagang-pedagang Arab. Dalam kajiannya, T.W. Arnold mendapati bahawa pedagang-pedagang Arab telahpun menjalin hubungan perdagangan dengan rantau sebelah timur sejak sebelum abad Masihi lagi. Pada abad kedua Sebelum Masihi hampir  keseluruhannya perdagangan di Ceylon berada di tangan orang Arab. Menjelang abad kesembilan Masihi kegiatan perdagangan orang Arab dengan Ceylon semakin meningkat apabila meningkatnya hubungan perdagangan antara orang Arab dengan China. Menurut rekod sejarah, menjelang pertengahan abad kelapan Masihi pedagang-pedagang Arab dapat ditemui dengan ramainya di Canton. Dari  abad ke-10 hingga abad ke-15, sebelum kedatangan Portugis, orang  Arab merupakan pedagang yang unggul dan hampir tidak tercabar dalam menjalankan kegiatan perdagangan dengan Timur.

Berdasarkan pandangan yang diberikan oleh T.W Arnold ini, Hamka berpendapat bahawa sudah semestinya apabila orang Arab memeluk agama Islam mereka akan berusaha menyebarkan agama tersebut di kawasan-kawasan di mana mereka menjalankan kegiatan perdagangan. Namun begitu, hujah yang dikemukan ini sukar untuk dibuktikan karena ketiadaan maklumat bertulis yang konklusif bagi menyokong pendapat yang diberikan. Lantaran itu, dari segi rekod Hamka setuju dengan pandangan yang umumnya disepakati, termasuklah oleh sarjana Barat bahawa Samudera-Pasai (abad ke-13-14) adalah merupakan  kerajaan Melayu-Islam yang pertama yang diwujudkan di rantau ini.

Islam masuk ke Malaysia pada abad pertama Hijrah dibawa oleh para pedagang India, Persia, dan juga Arab melalui suatu proses damai dan secara cepat diterima oleh masyarakat kerana mampu berbaur dengan adat dan kebudayaan masyarakat tempatan.

Isu kedua para penyebar Islam tersebut menurut T. W. Arnold.[14] tidak datang sebagai penakluk dengan menggunakan kekuatan pedang untuk menyebarkan Islam, sebagaimana yang terjadi di wilayah Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika. Mereka juga tidak menguasai hak-hak penguasa tempatan untuk menekan rakyat, sebaliknya mereka hanya sebagai pedagang yang memanfaatkan kepintaran dan peradaban mereka yang lebih tinggi untuk kepentingan penyebaran Islam dengan memperkenalkan toleransi dan persamaan antara manusia. Bagi penganut Hindu, yang agama mereka mengajarkan sistem kasta dalam masyarakat, agama Islam yang baru mereka kenali adalah amat menarik perhatian, khususnya di kalangan pedagang yang cenderung kepada orientasi kosmopolitan.[15] itulah sebabnya penerimaan orang Melayu terhadap agama Islam adalah berkait erat dengan keluhuran agama tersebut.

Isu ketiga suatu proses perubahan kebudayaan tidak akan berlaku jika tidak ada titik-titik kesamaan yang saling menghubungkan, begitu juga yang terjadi pada Islam dan kebudayaan Malaysia. Seandainya Islam dengan serta merta menghapuskan segala kebudayaan dan tradisi yang wujud sebelumnya, mungkin ia sama sekali tidak akan menemukan tempat untuk memasuki pulau-pulau di kawasan ini. Islam sebenarnya telah masuk di pelbagai wilayah Malaysia berabad-abad sebelum pengislaman besar-besaran dimulai. Para pedagang asing telah lama menetap di bandar-bandar dan kerajaan-kerajaan Islam pertama yang terdapat di Sumatera bahagian Utara dan Pantai Barat Semenanjung sejak lebih kurang Abad ke-13, atau mungkin lebih awal daripada itu. Akan tetapi, menurut Harry J.Benda.[16] Baru pada Abad ke 15 dan 16 agama Islam menjadi kekuatan kebudayaan dan agama utama di kepulauan Nusantara. Perubahan yang agak mendadak ini mungkin disebabkan semakin meluasnya ajaran sufisme (mistik Islam) oleh para sufi yang berperanan sebagai pendorong gerak maju agama ini.[17]

Ajaran mistik Islam ini ternyata menemukan banyak titik kesamaan dengan ajaran Hindu dan banyak disebarkan oleh orang daripada India yang beragama Islam. Melalui pelbagai hubungan titik persamaan ini, Islam ternyata mempunyai banyak kesesuaian dengan budaya masyarakat tempatan. Oleh itu unsur tasawuf menjadi aspek yang lebih dominan dalam proses Islamisasi di wilayah ini.[18]

Menurut ahli sejarah Malaysia, Islam masuk ke semenanjung ini sebelum abad ke-12 berbeda pendapat penulis barat yang mengatakan sekitar abad ke-13 atau 14. Penulis Malaysia didasarkan pada mata uang dinar emas yang ditemukan di Klantang tahun 1914, bagian pertama mata uang itu bertuliskan al-julus kelatan dan angka arab 577 H, yang bersamaan dengan tahu 1161 M, bagian kedua bertuliskan äl-Mutawakkil, gelar pemerintahan Kelantang. Dan jika kita lihat batu nisan tua tertulis arab ditemukan ke Kedah tahun 1963 pada makam Syekh Abdul Kadir bin Syekh Husen Shah Alam (w. 291 H), abad ke-9 merupakan awal perkembangan Islam di kawasan selat Malaka dan kawasan-kawasan yang menghadap ke laut Cina Selatan, sebagaimana diakui Dinasti Sung (960-1279), bahwa masyarakat Islam telah tumbuh di sepanjang pantai laut Cina Selatan.[19]

Sekitar tahun 1276 M di masa Sultan Muhammad Syah bertahta di Malaka, datang sebuah kapal dagang dari Jeddah yang dipimping kapten kapal yang bernama Sidi Abdul Aziz, yang juga seorang ulama Islasm, Sidi Abdul Aziz lalu menganjurkan raja Malaka saat itu yang telah di Islamkan untuk menukar namanya menjadi Sultan Muhammad Syah.[20] Dalam sejarah negeri Kedah disebutkan bahwa Islam masuk ke Kedah pada tahun 1501 M, pada suatu hari datanglah seorang alim bangsa Arab di Kedah yang bernama Syekh Abdullah Yamani yang kemudian mengislamkan raja dan pembesar serta anak negeri Kedah. Raja Pramawangsa akhirnya dianjurkan oleh Syekh Abdullah menukar namanya etelah masuk Islam menjadi sultan Muzafar Syah. Syekh Abdullah mendapat kiriman Al- Qurán dari sahabatnya pendakwah di Aceh yaitu Sykh Nuruddin Makki.[21]

Kedatangan Islam dan proses islamisasi berlangsung melalui jalur perdagangan atas peranan para pedagang muslim dan mubaliq dari Arab dan Gujarat, para dai’ setempat dan penguasa Islam. Sejak awal abad ke-7 semananjung Malaka dan nusantara merupsakan jalur perdagangan utama antara Asia Barat dan Timur jauh serta kepulauaan rempah-rempah Maluku, semananjung tidak dapat dipisahkan dari gugusan pulau-pulau nusantara, mereka juga singgah di pelabuhan-pelabuhan semenanjung.[22]

Bahwa proses islamisasi di Malaysia yang memainkan peranan penting dalam mengembangkan ajaran Islam adalah ulama atau pedagang dari jasirah Arab, yang pada tahun 1980-an Islam di Malysia mengalami perkembanga dan kebangkitan yang ditandai dengan semaraknya kegitan dakwah dan kajian Islam oleh kaum intelektual dan setiap tahun menyelenggarakan kegiatan Internasional yaitu Musabaqh Tilawatil Al-Qurán yang selalu diikuti oleh Qari dan Qariah Indonesia.[23]

Negara Malaysia yang menganut agama resmi Islam menjamin agama-agama lain dan oleh pemerintah diupayakan menciptakan ketentraman, kedamaiaan bagi masyarakat, walaupun pemegang jabatan adalah pemimpn-pemimpin muslim, tidak berarti Islam dapat dipaksakan oleh semua pihak, sebagai konsekwensi semua masyarakat termasuk non muslim harus menghargai dan menjunjung tinggi konstitusi negara kebangsaan Malysia.

  1. Perkembangan Islam di Malaysia

Azyumardi Azra menyatakan bahwa tempat asal datangnya Islam ke Asia Tenggara termasuk di Malaysia, sedikitnya ada tiga teori. Pertama, teori yang menyatakan bahwa Islam datang langsung dari Arab (Hadramaut). Kedua, Islam datang dari India, yakni Gujarat dan Malabar. Ketiga, Islam datang dari Benggali (kini Banglades).[24] Sedangkan mengenai pola penerimaan Islam di Nusantara termasuk di Malaysia dapat kita merujuk pada peryataaan Ahmad M. Sewang bahwa, penerimaan Islam pada beberapa tempat di Nusantara memperlihatkan dua pola yang berbeda. Pertama, Islam diterima terlebih dahulu oleh masyarakat lapisan bawah, kemudian berkembang dan diterima oleh masyarakat lapisan atas atau elite penguasa kerajaan. Kedua, Islam diterima langsung oleh elite penguasa kerajaan, kemudian disosialisasi-kan dan berkembang ke masyarakat bawah. Pola pertama biasa disebut bottom up, dan pola kedua biasa disebut top down.[25] Pola ini menyebabkan Islam berkembang pesat sampai pada saat sekarang di malaysia.

Pola pertama melalui  jalur perdagangan dan ekonomi yang melibatkan orang dari berbagai etnik dan ras yang berbeda-beda bertemu dan berinteraksi, serta bertukar pikiran tentang masalah perdagangan, politik, sosial dan keagamaan. Di tengah komunitas yang majemuk ini tentu saja terdapat  tempat mereka berkumpul dan menghadiri kegiatan perdagangan termasuk dirancang strategi penyebaran agama Islam mengikuti jaringan-jaringan emporium yang telah mereka bina sejak lama. Seiring itu pola kedua mulai menyebar melalui pihak penguasa dimana istana sebagai pusat kekuasaan berperan di bidang politik dan penataan kehidupan sosial, dengan dukungan ulama yang terlibat langsung dalam birokrasi pemerintahan, hukum Islam dirumuskan dan diterapkan,  kitab sejarah ditulis sebagai landasan legitimasi bagi penguasa Muslim.

Sisa-sisa peninggalan sejarah yang juga membuktikan perkembangan Islam di Malaysia dapat dilihat sesudah abad ke sepuluh, pada abad ke-15 misalnya dan ketika itu Brunei masih bergabung dengan malaysia, Salah satu sumber dari cina menyebutkan ada enam masjid di Malaysia dan ditemukan batu nisan silsilah keturunan raja-raja Brunei. Sultan Brunei ketika itu adalah Abdul Djalil Jabar tahun 1660, isterinya adalah putri sultan Sukadana dari Sambas. Kemudian pada tahun 1852 ada masjid jami dibangun di daerah Kucing, pada tahun 1917 dibangun madrasah di Malaysia yang disebut Madrasah Al-Mursyidah[26]. Fakta-fakta sejarah ini mengindikasikan bahwa Islam di Malaysia terus mengalami perkembangan yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetauan dan pendidikan Islam semakin mengalami kemajuan.

Memasuki awal abad ke-20, bertepatan dengan masa pemerintahan Inggris, urusan-urusan agama dan adat Melayu lokal di Malaysia di bawah koordinasi sultan-sultan dan hal itu diatur melalui sebuah departemen, sebuah dewan ataupun kantor sultan. Setelah tahun 1948, setiap negara bagian dalam federasi Malaysia telah membentuk sebuah departemen urusan agama. Orang-orang muslim di Malaysia juga tunduk pada hukum Islam yang diterapkan sebagai hukum status pribadi, dan tunduk pada yurisdiksi pengadilan agama (mahkamah syariah) yang diketua hakim agama. Bersamaan dengan itu, juga ilmu pengetahuan semakin mengalami perkembangan dengan didirikannya perguruan tinggi Islam dan dibentuk fakultas dan jurusan agama.[27] Perguruan tinggi kebanggaan Malaysia adalah Universitas Malaya yang kini kita kenal Universistas Kebangsaan Malaysia.

Memasuki masa pasca kemerdekaan, jelas sekali bahwa pola perkembangan Islam tetap dipengaruhi oleh pihak penguasa (top down). Sebab, penguasa atau pemerintah Malaysia menjadikan Islam sebagai agama resmi negara. Warisan undang-undang Malaka yang berisi tentang hukum Islam yang berdasarkan konsep Qur’aniy berlaku di Malaysia.

Di samping itu, ada juga undang-undang warisan Kerajaan Pahang diberlakukan di Malaysia yang di dalamnya terdapat sekitar 42 pasal di luar keseluruhan pasal yang berjumlah 68, hampir identik dengan hukum mazhab Syafii.[28] Pelaksanaan undang-undang yang berdasarkan Alquran, dan realisasi hukum Islam yang sejalan dengan paham Syafii di Malaysia sekaligus mengindikasikan bahwa Islam di negara tersebut sudah mengalami perkembangan yang signifikan.

Dengan adanya proses islamisasi di Malaysia yang memainkan peranan penting dalam mengembangkan ajaran Islam adalah ulama atau pedagang dari jazirah Arab yang pada tahun 1980-an Islam di Malaysia mengalami perkembangan dan kebangkitan yang ditandai dengan semaraknya kegiaan dakwah dan kajian Islam oleh kaum itelektual dan menyelenggarakan kegiatan intenasional yaitu Musabaqah ilawatil Al-Qur’an yang selalu diikuti qari qariah Indonesia[29]. Selain tersebut perkembangan Islam di Malaysia makin bertambah maju dan pesat, dengan bukti banyaknya masjid-masjid yang dibangun, juga terlihat dalam penyelenggaraan jamaah haji yang begitu baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa perkemabangan Islam di Malaysia, tidak banyak mengalami hambatan. Bahkan, ditegaskan dalam konstitusi negaranya bahwa Islam merupakan agama resmi negara. Di kelantan, hukum hudud (pidana Islam) telah diberlakukan sejak 1992.

Namun demikian Malaysia yang menganut agama resmi Islam tetap menjamin agama-agama lain dan oleh pemerintah diupayakan menciptakan ketentraman, kedamaian bagi masyarakat walaupun pemegang jabatan adalah pemimpin-pemimpin muslim, tidak berarti Islam dapat dipaksakan oleh semua pihak, sebagai konsekwensi semua masyarakat termasuk non muslim harus menghargai dan menjunjung tingi konstitusi negara kebangsaan Malaysia.

  1. III. KESIMPULAN

Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan dan kaitannya dengan uraian-uraian yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan bahwa :

  1. Malaysia pada awalnya merupakan bagian dari Malaka, sebagaimana Indonesia, Malaysia dalam sejarahnya pernah dikuasai oleh Inggris, namun pada akhrnya Malaysia mendeklarsikan kemerdekaannya pada tanggal 13 Agustus 1957, Singapuara dan Brunei ketika tu masih tegabung Malysia. Setelah taun 1965 Singapura memisahkan diri dengan Malaysia dan pada tahun 1971 Brunei juga memisahkan diri. Akan tetapi Malaysia merupakan negara sedang berkembang di kawasan Asia Tenggara yang bisa memulihkan perekonomiannya tanpa bantua dana  monoter internasional (IMP).
  2. Islam masuk pertama kali di Malaysia dibawah oleh pedagang Gujarat sekitar abad kesembilan dengan pola penerimaan bottom up yang selanjutnya mengalami perkembangan melalui proses pola top down. Setelah memasuki abad ke-15 Islam di Malaysia mengalami perkembangan yang signifikan dengan ditandai banyaknya bangunan masjid bahkan telah dibangun lembaga pendidikan Madrasah Al-Mursyidiyah. Dan awal abad ke-20 dengan ciri khas perkembangan Islam oleh adanya koordinasi sultan-sultan di setiap negara bagian dalam menegakkan hukum Islam. Setelah masa kemerdekaan perkembangan pemeluk Islam dari segi kuantitasnya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
  3. Masyarakat muslim Malaysia dengan jumlah besar senantiasa menjalankan ajaran keagamaannya dengan baik dan benar. Mereka tekun menjalankan ibadah baik yang wajib maupun yang sunnat, merekaa memiliki moralitas yang baik (akhlakul karimah).

DAFTAR PERPUSTAKAAN

Abdullah, Abdul Rahman Haji, Pemikiran Islam di Malaysia: Sejarah dan Alian, Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1997.

Al-Attas, Syed Naquib. Islam dalam Sejarah Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Cet.I; Bandung: Mizan, 1990.

Azra, Azyumardi,  Islam Reformis : Dinamika Intelektual dan Geakan, Cet. I; Jakart: PT. Raja Grafindo Persada, 1999.

Abdullah , Taufik, dkk., Sejarah Ummat Islam Indonesia, (Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 1991)

Arnold , Thomas W, Sejarah Da’wah Islam, diterjemah A. Nawawi Rambe, (Jakarta: Penerbit Widjaya, 1981),

Benda , Harry J, Kontinuitas dan Perubahan Dalam Islam di Indonesia, dalam Taufik Abdullah (ed.), Sejarah dan Masyarakat: Lintasan Historis Islam di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Firdaus dan Yayasan Obor Indonesia, 1987),

Boechari, Sidi Ibrahim. Pengaruh Timbal Balik antara Pendidikan Islam dan Pergerakan Nasional di Minangkabau. Jakarta: Gunung Tiga Serangkai, 1981.

Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam,  Ensiklopedia Islam Jilid III, (et. III; Jakarta Ictiat BaruVan Hoeve, 1994.

Esfito, Jhon L, Islam and Development : Religion and Sociopolitecal Change, diterjemahkan oleh Warda Hafidz dengan judul Islam dan Perubahan Sosial Politik di Negara Sedang Berkembang,  Cet. I; Yokyakarta : PLP2M, 1985.

HAMKA, Sejarah Umat Islam, (edisi baru), (Singapura: Pustaka Nasional PTE Ltd, 1997).

Hodgson, Marsal GS, The Ventural of Islam vol. II (Chicago: University of Chicago Pres, 1997)

http://id.wikipedia.org/wiki/Malaysia, disadur tanggal, 18 Juni 2009

http://www. State gover pabgn, 2777 htm diakses pada tanggal 18 Juni 2009

http:www.ai-shia.com/html/id/service/Info-Negara Muslim/Malaysia.

http:www.ai-shia.com/html/id/service/Info-Negara-Muslim/ Malaysia. htm.

http://urniasih.blogspot.com/2005/06/travel-Malaysia-Kuching.html

http:www.ai-shia.com/html/id/service/Info-Negara-Muslim/Malaysia. htm.

Johns , A. H., Sufism as a Category in Indonesian Literature and History, Journal of Southeast Asian History, 2 (2), 1961, h. 10-23; A. H. Johns,  “Sufism in Southeast Asia: Reflections and Reconsiderations,”  Journal of Southeast Asian History, 26 (1), 1995

Kenneth Perry Landon, Southeast Asia: Cross-roads of Religion, (Chicago: University of Chicago Press), 1949

Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Cet. VIII; Bandung: Mizan, 1998.

Lapidus, Ira M,  A History of Islamic Societies,  dterjemahkan Ghufron A Masádi dengan judul  Sejarah Sosial Umat Islam Bagian Ketiga,  Cet. I; Jakarta: PT Raja  Grafindo Persada, 1999.

Mahayudin Haji Yahaya, Islam di Alam Melayu, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1998)

Muhammad Syamsu AS,  Ulama Pembawa Islam di  Indonesia dan Sekitarnya,  Cet. II; Jaskarta: PT. Lentera Basritama, 1999.

Munawir, Kebangkitan Islam dan Tantangan yang dihadapi dari Masa ke Masa, Cet. II; Surabaya: Bina Ilmu, 1984.

Mudzani, Syaiful (ed),  Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, Cet. I; Jakarta: LP3ES, 1993

RS. Milne dan Diana K. Manay, Malaysia Tradition Modernity and Islam, USA: Weatview Press, 1986

Sewang, Ahmad M. Islamisasi Kerajaan Gowa. Cet. II; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.

Thohir, Ajid. Perkembangan Peradaban Islam di Kawasan Dunia Islam. Cet. I; Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada, 2002.

Yusuf, Yusri Mohmed,  Perkembangan Madrasah Balambi Pasir Putih, Kualalumpur: Persatuan Sejarah Malaysia, 1987

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Cet.XI; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Zuhairini, et all, Sejarah Pendidikan Islam, (Cet. II; Jakarta: Proyek Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1986)

Abdullah, Taufiq dan Sharon Siddique (ed),  Beberapa Dimensi Pendidikan Islam, dalam Islam and Society in Southeast Asia, diterjemahkan oleh : Rachman Achwan, Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, Cet. I; Jakarta : LP3ES, 1995.

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Bandung: Mizan, 1994.

Departemen Agama RI, Team Penyusun Textbook Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. Sejarah dan Kebudayaan Islam, jilid II. Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1982/1983

Esposito, John L (ed), The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, vol. 3. New York: Oxford University, 1995.

Farouk, Omar. “Muslim Asia Tenggara dari Sejarah Menuju Kebangkitan Islam”, dalam Saiful Muazni (ed), Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES, 1993

Gayo, Iwan (ed), Buku Pintar Seri Senior Plus 20 Negara Baru. Cet. VI; Jakarta: Dipayana, 2000.

Hasbullah, Searah Pendidikan Islam di Indonesia. Cet. IV; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2001.

Internet Malaysia http:www.ai-shia.com/html/id/service/Info-Negara-Muslim/ Malaysia. htm.

. Travel: Malaysia Kuching dalam http://urniasih.blogspot.com/2005/ 06/travel-Malaysia-Kuching.html.

. http:www.ai-shia.com/html/id/service/Info-Negara-Muslim/Malaysia. htm.

. http://www.yahoo.com/islammalaysia/panduasia/e-01lamd/ep-lan-12.htm

Lapidus, Ira M. Sejarah Sosial Umat Islam Bagian Kesatu dan Dua. Cet. III; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003

Nugroho, E.  (ed), Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 2. Cet. II; Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka, 1988.

Salleh, Muhammad Syukri. “Perkembangan Kontemporer Gerakan Islam di Malaysia; Pergeseran dari Konfrontatif ke Kooperatif” dalam Moeflich Hasbullah, ed, Asia Tenggara Konsentrasi Baru Kebangkitan Islam. Cet. II; Bandung: Fokusmedia, 2005.

Sewang, Ahmad M. Islamisasi Kerajaan Gowa. Cet. II; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.

Thohir, Ajid. Perkembangan Peradaban Islam di Kawasan Dunia Islam. Cet. I; Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada, 2002.

Vatikotis, Michael R.J. “Kebangkitan Islam di Indonesia dan Malaysia” dalam Moeflich Hasbullah, ed, Asia Tenggara Konsentrasi Baru Kebangkitan Islam. Cet. II; Bandung: Fokusmedia, 2005.

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Cet.XI; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada,


[1]merupakan bagian dari Kepulauan Nusantara yang dikuasai Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Islam masuk ke Malaysia dibawa oleh para pedagang dari Gujarat pada sekitar abad ke-9, bersamaan dengan masuknya Islam ke Kepulauan Nusantara. Pengaruh Barat masuk bersamaan dengan mendaratnya para pelaut Portugis di pesisir Malaka pada tahun 1511. Dari sini, mereka meluaskan koloninya ke Kepulauan Nusantara yang kemudian dikenal sebagai Indonesia. Lihat http://www.al-shia.org/html/id/service/Info-Negara-Muslim/Malaysia.htm

[2] Marsal GS Hodgson, The Ventural of Islam vol. II (Chicago: University of Chicago Pres, 1997), h. 548.

[3]Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam : BagianKetiga diterjemahkan Ghufron A Mas’adi dengan judu A History of Islamic Soietes (Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), h. 357.

[4]Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Malaysia, disadur tanggal, 18 Juni 2009

[5] Jonh Esposito, The Oxfort Encyclopedia of The Modern Islamic Word Volume III, (New York: Oxford Unversity Press, 1995), h. 35.

[6]Menurut data dari US Departement of State, jumlah keseluruhan penduduk Malaysia pada tahun 2008 adalah 27.5 juta orang. 60,4% (16,2476 juta) adalah penganut Islam, 19,2% (5,1648 juta) adalah Budha, 9,1% (2,4479 juta) adalah Kristen, 6,3% (1,6947 juta) adalahHindu, 2,6% (0.6994 juta) adalah Konfusiu, 0,8%  (0,2152 juta) adalah agama kaum pribumi, 0,4% (0,1076 juta) adalah lain-lain dan 1,2% (0,3228 juta) tidak diketahui agamanya, lihat http://www. State gover pabgn, 2777 htm diakses pada tanggal 18 Juni 2009

[7] Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedia Islam Jilid III, (Cet. II; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), h. 137.

[8] Ibid.

[9]Kota Kuala Lumpur dalam http:www.ai-shia.com/html/id/service/Info-Negara-Muslim/Malaysia.

[10]Memang abad ke-13 M disebut-sebut masa awal mulai masuk Islam ke di Indonesia. Tetapi ditemukan juga data-data kuat bahwa Islam masuk ke Indonesia ke-7. Lihat Sidi Ibrahim Boechari, Pengaruh Timbal Balik antara Pendidikan Islam dan Pergerakan Nasional di Minangkabau (Jakarta: Gunung Tiga, 1981), h. 32. Lihat juga Hasbullah, Searah Pendidikan Islam di Indonesia (Cet. IV; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2001), h. 17. Seminar masuknya agama Islam di Indonesia yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1963 menyimpulkan sebagai berikut :(1). Islam pertama kali datang di Indonesia pada abad ke-7 M (abad ke-1 H), dibawa oleh pedagang dan muballig dari negeri Arab; (2) Daerah yang pertama dimasuki ialah pantai Barat Sumatera yaitu di daerah Baros, tempat kelahiran ulama besar bernama Hamzah Fansyuri. Adapun kerajaan Islam yang pertama ialah di Pase; (3) Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang-orang Islam bangsa Indonesia ikut aktif mengambil bagian yang berperan dan proses itu berjalan secara damai; (4) Kedatangan Islam di Indonesia ikut mencedaskan rakyat dan membina karakter bangsa. Uraian lebih lanjut, lihat Zuhairini, et all, Sejarah Pendidikan Islam (Cet. II; Jakarta: Proyek Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1986), h. 133.

[11]Abdul Rahman Haji Abdullah, Pemikiran Umat Islam Di Nusantara: Sejarah dan Perkembangannya Hingga Abad Ke-19, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1990), h.  24-30.

[12]Kenneth Perry Landon, Southeast Asia: Cross-roads of Religion, (Chicago: University of Chicago Press), 1949.

[13]Lihat Prakata, HAMKA, Sejarah Umat Islam, (edisi baru), (Singapura: Pustaka Nasional PTE Ltd, 1997). h. 670

[14] Thomas W. Arnold, Sejarah Da’wah Islam, diterjemah A. Nawawi Rambe, (Jakarta: Penerbit Widjaya, 1981), h. 319.

[15]Taufik Abdullah, dkk., Sejarah Ummat Islam Indonesia, (Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 1991), h. 38

[16] Harry J. Benda, “Kontinuitas dan Perubahan Dalam Islam di Indonesia,” dalam Taufik Abdullah (ed.), Sejarah dan Masyarakat: Lintasan Historis Islam di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Firdaus dan Yayasan Obor Indonesia, 1987), h. 31-32.

[17]Pengaruh sufi dalam penyebaran Islam di Nusantara, lihat dalam Mahayudin Haji Yahaya, Islam di Alam Melayu, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1998), h. 7-13

[18]Lihat dalam A. H. Johns, “Sufism as a Category in Indonesian Literature and History,” Journal of Southeast Asian History, 2 (2), 1961, h. 10-23; A. H. Johns,  “Sufism in Southeast Asia: Reflections and Reconsiderations,” Journal of Southeast Asian History, 26 (1), 1995, h. 169-183

[19]Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, op. cit, h. 137

[20] Muhammad Syamsu AS, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, (Cet. II; Jakart: PT. Lentera Basritama, 1999), h. 118

[21] Ibid.

[22]Dewan Redaksi Ensiklopedia Islsam, op. cit, h. 138.

[23] Ibid, h. 139

[24]Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Bandung: Mizan, 1994), h. 15-21

[25]Ahmad M. Sewang, Islamisasi Kerajaan Gowa (Cet. II; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005), h. 86

[26]Lihat,Travel Malaysia Kucing dalam http://urniasih.blogspot.com/205/06/travel-Malaysia Kucing, html. disadur tanggal 12 Januari 2010

[27]Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Islam di Kawasan Dunia Islam (Cet. I; Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 268-269.

[28]Ibid. h. 266-267

[29]Ibid, h.139

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: