Oleh: muhdahlan | 26 Agustus 2011

Oleh: muhdahlan | 7 Maret 2012

Tv one

<a href=”http://www.binhakim.com/&#8221; target=”_blank”><img src=”http://images.cooltext.com/2150682.png&#8221; width=”159″ height=”59″ alt=”BIN HAKIM” /></a>

Oleh: muhdahlan | 20 Desember 2011

Islam-Download.net

Technology Tips Tricks

Tips Trik Teknologi

Oleh: muhdahlan | 24 Agustus 2011

muhdahlanthalib

Oleh: muhdahlan | 10 Agustus 2011

ISLAM DI SPANYOL (KEMUNDURAN DAN HAPUSNYA)

ISLAM  DI SPANYOL

( Kemunduran dan Hapusnya Islam )

Oleh Muh. Dahlan Thalib

I.       PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Penyerbuan (Invasi) yang dilakukan bani Abbasiyah terhadap pemerintahan bani Umayyah yang berpusat di Damaskus menjadikan kekhalifahan berpindah ke tangan bani Abbasiah. Sebagaimana diketahui bahwa setelah merebut kekuasaan tidak berhenti sampai disitu, melainkan pengikut-pengikut bani Abbasiah membantai seluruh keluarga Bani Umayyah dengan semena-mena, walaupun demikian salah seorang anggota keluarga bani Umayyah, Abdur Rahman I berhasil lolos dari ancaman maut tersebut.

Nama Lengkap beliau adalah  Abdur Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam bin Abdul Malik. Ia cucu Hasyim Abdul Malik, Khalifah ke 10 dinasti Umayyah di Damascus. Abdur Rahman I digelar ad-Dakhil ( penakluk; yang masuk ), gelar  ini terkait dengan keberhasilan menaklukkan dan memasuki Spanyol setelah melalui perjuangan berat[1].  beliau melakukan perjalanan menuju Pelestina, Mesir, Aprika Utara dan akhinya masuk ke Andalusia  ( Spanyol ) yang kemudian tahun 138 H / 755 M didirikanlah kerajaan baru di negeri itu.

Sejak Amir Abdur Rahman I berkuasa berhasil membawa rakyat  Spanyol hidup tenteram demikian pula pada Amir Abdrur Rahman II sampai kepada pemerintahan khalifah[2] Abdur Rahman III bahkan umat Islam Spanyol pada masa ini mencapai puncak kemajuan dan Kejayaan menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Bagdad.

Abdur Rahman III memerintah sejak 300-350 H/912-961 M dan merupakan penguasa Umayyah terbesar di Spanyol, seluruh gerakan pengacau dan komplik politik dapat diatasinya sehingga negara dapat diamankannya. Keberhasilan tersebut diikuti penaklukan kota Elvira, Jain, Siville dan kekuatan Kristen dipaksa menyerah kepadanya, ia juga berhasil menggagalkan cita-cita Fatimiyah untuk memperluas wilayah kekuasaan di Spanyol[3].

Dan sesudah itu beliau berhasil  menciptakan kemakmuran dan kemajuan Spanyol, ini dapat dilihat jalan raya dan sarana pengadaan air minum, pertanian, industri, perdagangan dan pendidikan mengalami kemajuan yang pesat pada masa itu.

Setelah pemerintahan Abdur Rahman III wafat digantikan oleh anaknya Al- Hakam II dan Islam masih berdiri dengan kokoh, Akan tetapi kekuasan Islam Spanyol mengalami perobahan struktur Kekuasaan yang mengakibatkan awal dari kehancuran Khalifah Bani Umayyah di Spanyol ketika Hasyim II naik tahta dalam usia baru sepuluh tahun[4]. Karena usianya masih muda sehingga yang menjalankan seluruh roda pemerintahan sepenuhnya dilakukan oleh Muhammad Ibn Abi Amir.

Sejak periode ini para penguasa sudah tidak mampu mempertahan kan kejayaan spanyol sebagai pusat peradaban dunia bagian barat, dan bahkan kemajuan peradaban Islam hancur dan berakhir dengan pengusiran secara paksa seluruh umat Islam di Spanyol.

B. Rumusan Masalah

Dengan berdasar uraian latar belakang tesebut dimana umat Islam di Spanyol mengalami masa-masa  perkembangan kemudian kehancuran, maka dalam makalah ini penulis akan mencoba mengangkat suatu permasalahan yaitu mengapa terjadi kemunduran yang berakhir dengan lenyapnya Islam di Andalusia ( Spanyol ).

II. PEMBAHASAN

A. Mundurnya Islam di Spanyol

Kemunduran Islam yang berakibat patal terhadap seluruh sendi-sendi Islam di Spanyol,maka penulis membagi dua factor penyebab Yaitu :

a. Penyebab dari dalam ( Internal )

1.    Sistem pengangkatan ke Khalifahan kurang jelas.

Karena sistem pengangkatan khalifah kurang jelas, maka di antara anggota keluarga bani Umayyah saling memperebutkan  kekuasaan, mereka saling mengklaim dirinya bahwa ia merasa lebih berhak untuk menjadi khalifah, di samping itu pula  boleh jadi dikalangan pembesar-pembesar kerajaan yang bukan dari kalangan mereka juga berambisi menduduki kekhalifahan.

Ketika Khalifah Hakam II pada tahun 350 H/ 961 M dalam usia 45 tahun naik menjadi khalifah menggantikan bapaknya Abdur Rahman III (921-961 M), beliau merupakan khalifah kedua dalam sejarah daulat Bani Umayyah di Andalusia[5]. Beliau wafat pada tahun  976 M dalam usia 62 tahun dan masa pemerintahannya 17 tahun lamanya, kemudian digantikan putranya Hisyam II (976-1009 M) yang masih usianya 10 tahun, oleh karena masih muda belia maka jabatan mursyih lil-Amri ( pemangku kuasa ) bagi pelaksanaan pemerintahan umum dijabat oleh Mughairah ibn Abdur Rahman III saudara bapaknya[6].

Amir Mughairah tidak lama berkuasa, karena mati dalam perebutan kekuasaan, tragedi tersebut buat pertama kali dalam sejarah daulat Umayyah di Spanyol, dan merupakan persekongkolan istana yang dikepalai oleh Al-Hajib[7] Ja’far ibn Ustman Al-Shahfi yang semenjak Khalifah Al-Hakam II telahMemangku jabatan Al-Hajib. Selanjutnya pelaksana kekuasaan berada pada wasir Muhammad ibn Abi Amir ia mendapat gelar Mulk al- Mansur yang kemudian menjadi tokoh terkenal di kemudian hari, ia terjun kemedan perang membawa tentaranya dan berhasil memenagkan setiap peperangan yang dihadapinya, sedangkan khalifah hanya tinggal terkurung didalam pekarangan istana, hal ini pula awal melemahnya otoritas kekhalifahan.

Sepeninggal Mulk Al-Mansur yang berkuasa sejak tahun 976-1003 M maka tejadilah kemelut yang berkelanjutan didalam perebutan kekuasaan sampai daulat Umayyah di Spanyol runtuh, peristiwa ini dalam tempo 29 tahun saja sepeninngal Mulk Al- Manshur yaitu antara tahun 393/ 1003 M dengan 422 H / 1031 M.

Semua kejadian tersebut menandakan bahwa peralihan dari satu khalifah ke khalifah berikutnya tidak ada peraturan yang mengikat, akibatnya di antara keluarga istana merasa punya hak untuk menduduki jabatan khalifah, sehingga dengan mudah terjadi perebutan kekuasaan di antara keturunan-keturunan bani Umayyah, yang datang kemudian lebih lemah dari pada yang terdahulu,  perang saudara tak terhindarkan, padahal mereka sesama umat Islam.

2.    Munculya Kerajaan-Kerajaan Kecil.

Tidak berapa lama Hisyam II merebut kembali khalifah untuk kedua kalinya, Cordova sebagai pusat kekhalifahan di Spanyol dilanda kekacauan politik akhirnya pada tahun 1031 M dewan menteri yang memerintah cordoba menghapuskan jabatan Khalifah[8].

Permusuhan antara elit propensial elit pedagang perkotaan, antara warga kota dan tentara berber, antara non Arab yang baru masuk Islam dengan bangsa Arab, menjadikan negara muslim Spanyol tidak mampu memperkokoh rezim. Sebuah pemerintahan imperial dipusat digantikan oleh sejumlah rezim propensial yang lebih kecil, Kesatuan pemerintahan kekhalifaan terhapus dan Spanyol terbagi-bagi menjadi kesultanan kecil , yang disebut Muluk thawa’if , atau sejumlah kerajaan kecil ( antara 1030-1090 ), tentara Arab, Slavia dan tentara Berber serta kalangan elit lokal masing-masing menjadi berkuasa[9].

Meskipun tejadi rezim propensial, tetapi ada suatu hal yang perlu dicatat bahwa masyarakat Spanyol tidak turut tepecah–pecah, hukum Islam dan sebuah identitas muslim Arab tetap diterima secara univesal, peradaban dan ilmu pengetahuan, kesenian dan kebudayaan Islam Spanyol memuncak perkembangannya, setiap dinasti ( raja ) di Malaga, Toledo, Sevilla, Granada dan lain-lain berusaha menyaingi Cordova. Akan tetapi beberapa tahun kemudian perpecahan politik yang sedemikian menghangat sangat mengancam keberadaan peradaban Islam bangsa Spanyol.

3.    Fanatisme Kesukuan

Semenjak kematian  Abdur Rahaman III, Pemeluk-pemeluk Islam yang baru tidak dapat menerima sistem aristokrasi kearaban, mereka ini merupakan pihak pertama yang menentang kekhalifahan Umayyah, sehingga muncul dua kekuatan tebesar yaitu Berber dan Slavia. Beberapa suku saling memperebutkan supremasi kesukuannya dan bahkan berusaha

Mendirikan sebuah negara yang merdeka[10].

Kalangan orang Spanyol dan Berber memandang bangsa Arab sebagai orang asing atau kaum pendatang , maka keberadaan pemerintahan Arab Islam di Spanyol tidak berhasil menegakkan ikatan kebangsaan di tengah-tengah keragaman ras dan suku, akibatnya imperium Islam Spanyol tepecah menjadi sejumlah kelompok yaang saling bertentangan sehingga mempercepat kehancuaran pemerintahan muslim di Spanyol.

4. Kesulitan Ekonomi

Pada paruh kedua para penguasa Islam Spanyol, membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat serius, sehingga lalai membina perekonomian, akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi kondisi politik dan militer[11].Dengan munculnya dinasti-dinasti kecil menyebabkan Kondisi politik yang tidak stabil dan menyebabkan perekonomian morat marik.

b.  Penyebab dari Luar ( Eksternal )

1. Karena Wilayah Spanyol Terpencil

Kondisi wilayah turut mempengaruhi kemunduran Islam di Spanyol, Spanyol bagaikan daerah terpencil dari dunia Islam yang lain, mereka selalu berjuang sendirian tanpa mendapat bantuan kecuali dari  Afrika Utara. Dengan demikian tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen di Spanyol[12].

2. Komplik Antara Islam dengan Kristen

Sejak Islam masuk di spanyol, para penguasa Islam tidak melakukan Islamisasi  secara sempurna, kerajaan-kerajaan Kristen yang ditaklukkan dibiarkan pada hukum dan adat mereka, asal mereka membayar upeti[13], disamping itu kehadiran orang Arab memperkuat rasa kebangasaan (nasionalisme) orang Kristen Spanyol, sehingga tidak pernah berhenti pertentangan antara Islam dengan Kristen dan setelah beberapa abad kemudian raja-raja Kristen mempersiapkan diri untuk merebut kembali Spanyol.

Dengan munculnya disintegrasi negara-negara muslim pada abad sebelas mengantarkan pada pesatnya ekspansi sejumlah kerajaan Kristen, guna mempersatukan kerajaan Castile, Leon dan Galicia,  pada tahun 1085 Alfonso VI menaklukkan Toledo, ini merupakan awal pecahnya perang antara pihak Muslim dengan Kristen. Selanjutnya dimenangkan oleh Kristen. Tidak lama kemudian secara berurutan kerajaan Aragon merebut Huesca (1096), Saragossa (1118), Tortosa (1148) dan Lerida (1149)[14].

Kemajuan pihak Kristen diimbangi oleh pihak Muslim, pada tahun 1082 sebuah delegasi ulama[15] mengundang pihak al-Murabithun untuk terlibat demi membela umat Muslim Spanyol, sehingga pada tahun 1086 pasukan kerajaan dari Maroko menyeberangi Spanyol dan akhirnya mengalahkan Alfonso VI dan tahun 1090 sampai 1145 pasukan Afrika Utara tersebut berhasil menundukkan  kota-kota Muslim Spanyol[16].

Kerajaan al-Murabithun tidak lama berkuasa terpecah akibat perlawana lokal dan bangkitnya gerakan kerajaan  Muwahhidun juga dari Aprika Utara dan memenangkan perlawan pada tahun 1147, selanjutnya Al-Muwahidun dikalahkan pada tahun 1212 oleh pasukan gabungan Leon, Castile, Navarre dan Argon dalam perang Las Navas de Tolosa[17]. Dengan kekalahan Al- Muwahhidun negara muslim Spanyol kembali menjadi independen tetapi tidak berdaya menghadapi kekuatan Kristen.

Penggabungan kekuatan dari kerajaan Castile dan Leon pada tahun 1230 M, membuka jalan untuk penaklukan Cordova tahun 1236 dan kota Seville tahun  1248. Sementara itu pasukan Argon bergerak kewilayah Valencia pada tahun 1238 dan Murcia Tahun 1243, pada pertengahan abad tiga belas hanya Granada yang tetap bertahan dalam kekuasaan Muslim, lantaran warganya berjumlah besar, wilayahnya berbukit dan ekonominya produktif untuk membayar pajak kepada para sultan Castile[18]. Yang perlu juga diketahui ketika itu adalah daulat Nasariah ( daulat Bani Al-Ahmar ) yang mendirikan istana Al-Hambra di kota Granada, Kerajaan ini dapat berkuasa dari tahun 629 H / 1232 sampai 897 H / 1492 M.

B.   Hapusnya Islam Spanyol

Kebesaran dan Keagungan Granada pun tidak dapat bertahan karena pada tahun 1469 Kerajaan Ferdinand dari Argon dan Kerajaan Isabella dari Castilia bersatu menyerang kekuatan Islam dibawah kekuasaan Muhammad ibn Al-Ahmar di Granada, dimana daerah itu terkenal dengan nama Alhambra[19], pada tanggal 2 januari 1492 M  bertepatan 2 Rabiulawal 897 H, ibu kota Granada dikepung dan ditaklukkan oleh penguasa Kristen[20]. Dengan jatuhnya Granada kepada pihak Kristen merupakan awal berakhirnya sejarah warga muslim Spanyol. Pada waktu itu Abu Abdillah Muhammad raja dari kerajaan bani Al-Hamrah yang terakhir.

Setelah orang Kristen menguasai orang Andalusia, gerakan Kristenisasi dilaksanakan yaitu memaksa orang Islam menganut kembali agama Kristen. Dalam tahun 1499 di bawah pimpinan bapak akudosa ( confessor ) yaitu Kardinal Ximenes de Cisneros dimulailah suatu gerakan  yang memaksa orang Islam menganut agama Kriten, kemudian berusaha menyingkirkan semua buku Arab yang menguraikan tentang agama Islam dangan jalan membakarnya[21].

Pada tahun 1556, Raja Spanyol bernama Raja Philip II (1556- 1598 ) mengumumkan suatu undang-undang agar kaum Muslimin yang masih tinggal di Andalusia membuang kepercayaannya, bahasa, adat istiadat dan cara hidupnya. Kemudian pada tahun 1609, Raja Philip III ( 1598 – 1621 ) mengusir secara paksa semua kaum Muslimin dari Andalusia atau mereka dihadapkan pada dua pilihan, masuk Kristen atau keluar dari Andalusia[22], dengan demikian hapuslah kekuasaan Islam di seluruh wilayah Spanyol.

III. KESIMPULAN

1.    Andalusia dibawah kekuasan Islam mengalami kemajuan pesat dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, sehingga menjadi tujuan pencari ilmu di abad pertengahan, kemajuan tersebut berangsur-angsur pudar dan aklhirnya hilang.

2.    Kemunduran bahkan sampai hapusnya Islam di Spanyol dipengaruhi dua faktor penyebab yaitu faktor dari dalam yang intinya bahwa antara umat Islam itu sendiri saling memerangi antara satu dengan yang lainnya, sedangkan faktor yang berasal daru luar adalah muncul dari pihak Kristen yang memang sejak semula kedatangan Islam di Spanyol telah tertanam dendam kesumat, mereka merasa terhina dan terpinggirkan akibat kekuasaannya  direbut oleh pejuang Islam, mereka berabad-abad lamanya menunggu momentum yang tepat untuk menyerang raja-raja Islam guna menguasai kembali kekuasaan di Spanyol dan akhirnya mengusir secara paksa seluruh umat Islam yang ada pada zaman itu.

3.    Kota Granada  satu-satunya  kerjaan kecil  pada waktu itu yang masih berdiri dan merupakan benteng pertahanan terakhir umat Islam di Spanyol akhirnya pada tahun 1492 M jatuhlah kota Granada ditangan umat Kristen.

4.    Sesungguhnya orang-orang Spanyol mengakui asal usul mereka yaitu dari bangsa Arab sebagai contoh Alcala Zamora adalah Presiden pertama dari Republik Spanyol, asal kata nama beliau adalah Al- Qal’ah (benteng) Zamurah.

DAFTAR PUSTAKA

Ali K, Prof. A Study of Islamic History diterjemahkan oleh Ghufron A. Mas’udi dengan judul Sejarah Islam Tarikh Pramodern, Cet. III; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000

Asmuni, Yusran,Drs, Dirasah Islamiyah II Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemnikiran, Cet. II; Jakarta : ajawali Press, 1996

Israr, C, Sejarah Kesenian Islam, Jilid I, Cet. II; Jakarta : Bulan Bintang, 1978

Hamka, Prof. DR, Sejarah Umat Islam, Jilid II, Cet.V; Jakarta : Bulan Bintang, 1981

K. Hitti, Philip Dunia Arab Sejarah Ringkas diterjemahkan oleh Usuludin Hutagalung dan O.D.P Sihombing,  Cet. VII; Bandung : Sumur Bandung

Lapidus, Ira M, Sejarah Sosial Umat bagia kesatu dan kedua, Cet.II; Jakarta : PT. Raja Grafindo Perasada, 2000

Sou’yb, Yusuf, Sejarah  Daulat Bani Umayyah II di Cordoba, Cet.I; Jakarta : Bulan Bintang, 1997

Yatim, Badri, DR,MA, Sejarah Peradaban Islam Dirsah Islamiyah II,Cet.II; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002


[1] Lihat Dewan Resaksi Ensiklopedia, Ensiklopedian Islam, Jilid I, (Cet.II; Jakarta : PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 1994 ), h. 25-26.

[2] Penggunaan gelar Khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdur Rahman III, bahwa khlifah Al – Muktadir  dari bani Abbas di Bagdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri, Keadaan ini menunjukkan suasana pemerintahan Abbasiyah sedang dalam kemelut, ia berkesimpulan bahwa saat ini paling tepat memakai gelar Khalifah yang telah hilang dari kekuassan Bani Umayyah selam 150 tahun lebih, gelar ini mulai dipakai tahun 929 M. Lihat Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, ( Ed.I, Cet.II; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000 ),  h.96.

[3] K. Ali, Sejarah Islam, ( Ed.I,Cet.II; Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1997 ), h.308

[4] Badri Yatim, op.cit, h. 97

[5]Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Umayyah, jilid II, (Cet.I; Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 133

[6] Ibid., h. 143

[7] Al-Hajib dalam ketatanegaraan Umayyah masa itu ialah menjabat kepala Rumah Tangga Istana.  Dan dalam kehidupan sehari-hari khalifah erat hubungannya dengan pejabat Al-Hajib itu, maka pejabat al-Hajib sangant menentukan didalam urusan pemerintahan sebagai penguasa bayangan. Kalau di Indonesia merupakan protokuler presiden, lihat Joesoef Sou’yb, ibid., h.144

[8] lihat K. Ali , op.cit., h.312

[9] Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam  Bagian kesatu dan dua, ( Ed.I, Cet.II; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h.588

[10]Lihat K. Ali, op.cit., h.318

[11] Lihat Badri Yatim, op.cit., h. 107-108

[12] Ibid., h. 108

[13] Lihat Yusran Asmuni,Dirasah Islamiah II, ( Ed. I, Cet. II; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1996 ), h. 16

[14] Lihat Ira Lapidus, op.cit., h. 590

[15] Ulama yang dimaksud adalah Al-Muktamid ibn Ubbadd salah seorang dari raja-raja Ubbaad Spanyol, Lihat Hamka, Sejarah Umat Islam , Jilid II ( Cet. V; Jakarta : Bulan Bintang ,  1981) h. 143

[16] Lihat Ira M Lapidus, loc. Cit.

[17] Op.cit., h. 591

[18] Lihat Ira M Lapidus, op. cit.

[19] Al-Hambra adalah sebuah monumen ( puri ) yang didirikan diatas daratan sebuah bukit kecil yang tingginya kira-kira 150 meter diatas kota Granada, dari jauh kelihatan laksana sebuah benteng yang kokoh dengan menara yang menjulang megah, Lihat C. Israr, Sejarah Kesenian Islam, Jilid I, ( Cet. II; Jakarta : Bulan Bintang, 1978 ), h.227

[20] lihat Dewan Redaksi Ensklopedia Islam, op.cit., h 148

[21] Pjilip K. Hitti, Dunia Arab Sejarah Ringkas diterjemahkan oleh Usuludin Hutagalung dan O.D.P Sihombing, ( Cet. VII; Bandung : Sumur Bandung ), h . 191

[22] lihat Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, loc.cit.

Oleh: muhdahlan | 25 Mei 2011

tv online streaming

#wb_fs_tvinternetplayers{display:none;visibility:hidden;}Warung Bebas TV Streamingwbwidget(‘loadtvcodeinternetplayers’,’calltvcodeonlineindonesia’,4,2,10)fsCallListTVOnline(430,310,45,0);

Oleh: muhdahlan | 20 November 2010

PETUNJUK AL-QUR’AN TENTANG BELAJAR DAN PEMBELAJARAN



PETUNJUK AL-QUR’AN TENTANG BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Oleh: Muh. Dahlan Thalib[1]

 

  1. I. PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah

Secara historis dapat dipahami bahwa pada empat belas tahun yang lalu diturunkan kitab suci Al-Qur’an. Sebelum Al-Qur’an turun, di dunia sudah terdapat banyak agama dan banyak kitab yang dianggap suci oleh penganut-penganutnya. Agama Kristen dengan kitab perjanjian lama dan kitab perjanjian baru. Selain agama Kristen, orang arab juga banyak menganut agama Yahudi.

Di Negeri Arab hidup orang-orang Persia yang juga mempercayai seorang nabi dan sebuah kitab suci Zend Avesta. Kitab ini telah mengalami banyak perubahan-perubahan oleh kelakuan tangan manusia akan tetapi masih banyak penganutnya. Di India, kitab Weda dan kitab Gita oleh Shri Krisna dan ajaran Budha. Agama Kong Hu Cu menguasai Negeri Tiongkok akan tetapi pengaruh agama Budha lebih kuat dan makin meluas di negeri itu.[2]

Eksistensi kitab-kitab yang dipandang suci oleh pengikut-pengikutnya dan ajaran-ajaran itu, apakah alam dunia ini masih memerlukan kitab suci yang lain lagi? Adalah satu pertanyaan yang ada pada setiap orang yang mempelajari Al-Qur’an. Jawabannya dapat diberikan dalam beberapa bentuk, yaitu:

Pertama, Apakah adanya berbagai agama itu tidak menjadi alasan yang cukup untuk datangnya agama yang baru lagi untuk menyatukan agama-agama itu semua.

Kedua, apakah akal manusia itu tidak mengalami proses evolusi sebagai mana badannya? Dan karena evolusi fisik itu akhirnya mencapai bentuk yang sempurna, apakah evolusi mental dan rohani itu tidak menuju ke arah kesempurnaan yang terakhir, yang sebenarnya merupakan tujuan dari pada adanya manusia itu?

Ketiga, apakah agama-agama yang dahulu turun menganggap ajaran-ajaran yang dibawanya adalah ajaran yang terakhir, apakah mereka tidak mengharapkan perkembangan kerohanian yang terus menerus. Apakah mereka tidak selalu memberitahukan kepada pengikut-pengikutnya tentang akan datangnya juru selamat yang akan menyatukan seluruh umat manusia dan membawa mereka ke arah tujuan yang terakhir?

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah jawaban yang mengharuskan supaya Al-Qur’an diturunkan, sekalipun sudah ada kitab-kitab yang dianggap suci oleh umat-umat yang dahulu.

Dunia ini telah maju, orang tidak perlu berusaha untuk membuktikan bahwa apabila dunia ini mempunyai pencipta, maka Ia harus pencipta Yang Esa. Tuhan dari orang-orang Israil, Tuhan dari orang-orang Yahudi, orang-orang Hindu, Tuhan dari Negeri Tiongkok, Negeri Eropah, Iran, Arab, Afghanistan, Indonesia adalah tidak berbeda.

Tuhan adalah Esa, dan hukum yang mengatur dunia ini juga satu hukum. Sistem yang menghubungkan satu bagian dari dunia ini dengan yang lainnya adalah juga satu sistem. Ilmu pengetahuan memberikan keyakinan bahwa semua perubahan-perubahan alami dan mekanis di mana saja adalah pernyataan dari hukum yang sama. Dunia ini hanya mempunyai satu prinsip yaitu gerak. Demikian pula dunia ini hanya mempunyai satu pencipta, yaitu Allah Swt. Apabila Tuhan itu satu, mengapa dunia ini mempunyai banyak agama? Apakah agama itu adalah hasil dari pemikiran otak manusia, maka tiap-tiap kelompok bangsa dan tiap-tiap kelompok umat manusia menyembah Tuhan-nya sendiri-sendiri.

Persoalan apakah agama dan kitab sucinya itu adalah hasil pemikiran manusia, jawabnya sudah barang tentu adalah bukan hasil pemikiran manusia. Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 164 berbunyi:

“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri. Ia membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu, mereka berada dalam kesesatan yang nyata”.

 

Demikian pula dalam surat Al-Baqarah ayat 185 menegaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan berisikan petunjuk bagi manusia serta penjelasan tentang petunjuk tersebut. Selain itu, Al-Qur’an disamping berisikan petunjuk dan penjelasannya juga berisikan instrument dan alat ukur untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang buruk dan yang baik.

Berdasarkan konsep fenomena di atas, dapat dipahami bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk dalam berbagai aspek kehidupan. Al-Qur’an tidak terbatas pada masalah keagamaan yang dogmatis saja tetapi juga masalah social, budaya, politik, ekonomi, maupun masalah pendidikan. Dengan demikian, apakah Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai petunjuk yang absolute? Dan apakah di dalam Al-Qur’an terdapat petunjuk, metode dan strategi pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam setiap proses pembelajaran?

 

  1. Rumusan Masalah

Menyimak uraian latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka focus pengkajian dan permasalahan pada kajian ini adalah bagaimana Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam proses belajar dan pembelajaran? Permasalahan ini, secara operasional dapat digambarkan sebagai berikut:

(1)     Apakah Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai petunjuk yang absolute dalam berbagai aspek kehidupan?

(2)     Apakah di dalam Al-Qur’an terdapat petunjuk, metode dan strategi pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam setiap proses pembelajaran?

(3)     Apakah Al-Qur’an dapat dijadikan petunjuk dalam penafsiran tafsir sosial kependidikan?

 

II. PEMBAHASAN

  1. A. Al-Qur’an Sebagai Petunjuk

Dalam surat Al-Baqarah ayat 185 dikatakan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan (pertama kali) dalam bulan Ramadhan berisikan petunjuk bagi manusia, serta penjelasan tentang petunjuk itu yang di dalamnya terkandung pula kriteria atau tolok ukur yang membedakan segala sesuatu.

Ayat tersebut mengandung tiga konsep: pertama, bahwa Al-Qur’an itu adalah sebuah kitab yang berisikan petunjuk, pedoman atau pimpinan yang disebut hudan. Orang-orang yang berhasil memperoleh petunjuk tersebut disebut muhtadin. Kedua, Al-Qur’an bukan hanya sebagai petunjuk yang mungkin dirumuskan dalam satu atau dua kalimat, tetapi Al-Qur’an memberikan pula penjelasan atau bayan mengenai petunjuk itu. Ketiga, petunjuk itu sekaligus merupakan criteria atau tolok ukur untuk menilai segala sesuatu, terutama untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil.

Keterangan di atas dapat ditafsirkan bahwa Al-Qur’an yang dewasa ini merupakan kompilasi ayat-ayat atau wahyu Allah adalah sebuah kitab atau buku yang berisikan petunjuk yang langsung berasal dari Allah. Biasanya jika ingin petunjuk dari Allah maka jalannya adalah dengan berdoa. Dalam shalat selalu membaca ihdinal shirathal mustaqim yang artinya (ya Allah) pimpinlah aku ke jalan yang lurus (benar).

Surah Al-Fatihah sebenarnya adalah sebuah doa yang meminta agar diberi petunjuk (hudan) ke jalan yang konsisten dan istiqamah dengan kebenaran. Dalam shalat doa ini diucapkan secara rutin, tetapi mungkin tidak disadari arti dan maknanya. Doa bagi kebanyakan orang dapat disadari apabila sedang dalam menghadapi masalah atau persoalan. Karena Al-Qur’an akan memberikan petunjuk, tentu saja tidak menyajikan jawaban secara mendetail mengenai masalah kongkrit yang dihadapi tetapi memberikan pedoman secara umum yang perlu dianalisis berdasarkan petunjuk umum yang berbentuk pedoman moral.

Al-Qur’an di samping sebagai hudan juga sebagai bayan mengenai hudan itu. Hal ini berarti bahwa Al-Qur’an itu menjelaskan dirinya sendiri yang ayat-ayat itu satu sama lain saling menjelaskan walaupun kerap kali penjelasannya terdapat pada surah-surah dan ayat-ayat lain. Hipotesis ini menimbulkan metode tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an, yaitu penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an juga.[3]

Kaum muslimin berkeyakinan bahwa Al-Qur’an sebagai wahyu Allah merupakan petunjuk dan rahmat bagi segenap bangsa yang berlaku sepanjang waktu dan semua tempat. Al-Qur’an sebagai kitab suci tidak akan mengalami perubahan. Timbul pertanyaan, apakah umat Islam yang menganut keyakinan tidak ketinggalan zaman dan menjadi golongan yang paling awam, jumud dan konservatif di dunia?

Al-Qur’an memang tidak pernah berubah dan tidak akan direvisi oleh kaum muslim. Wahyu Allah tersebut akan berlaku sepanjang zaman karena seluruh isi Al-Qur’an bersifat potensial. Nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an berlaku abadi, seperti keadilan, kejujuran, amanah, kesabaran, dan sebagainya.

Meskipun demikian, tafsiran orang-orang tentang keadilan biasa berkembang dari waktu ke waktu. Dalam proses penafsiran akan selalu terjadi perbedaan seperti istilah Qalam dalam surat Al-Alaq yaitu suatu alat tulis tertentu. Gambaran sekarang tentang Qalam tentunya sudah jauh berbeda dengan pengertian dahulu. Qalam yang arti harfiahnya adalah suatu alat tulis, penafsiran simbolisnya bisa berubah menjadi komuter. Kalam dalam Al-Qur’an tidak pernah berubah akan tetapi penafsiran akan kata itu biasa berubah walaupun esensi maknanya tetap sama.

Sudah sewajarnya kalau setiap muslim mempunyai akses langsung kepada Al-Qur’an. Setiap muslim terbiasa melafalkan ungkapan-ungkapan Al-Qur’an setidaknya dalam shalat atau dalam berdoa, malah ada yang membacanya dalam setiap ba’da subuh, magrib dan setiap malam jum’at. Tetapi kebanyakan mereka hanya membaca Al-Qur’an saja tanpa tertarik sedikitpun untuk mengetahui artinya, apalagi memaknai secara mendalam. Dengan kata lain, kebanyakan kaum muslim belum memiliki akses yang wajar terhadap sumber petunjuk yakni Al-Qur’an

  1. B. Al-Qur’an Sebagai Petunjuk dalam Belajar dan Pembelajaran

Suatu kecenderungan positif yang tampak di kalangan masyarakat dewasa ini adalah pengkajian ayat-ayat Al-Qur’an untuk menemukan kedalaman maknanya. Pengkajian itu tidak terbatas pada masalah keagamaan yang dogmatis saja, tetapi juga masalah social, budaya, politik, ekonomi maupun pendidikan.

Dengan kesadaran ini, Al-Qur’an harus dipandang sebagai panutan dalam berbagai aspek kehidupan, tidak hanya mencakup ajaran dogmatis, tetapi juga ilmu pengetahuan, dan salah satu cabang ilmu pengetahuan itu adalah ilmu pendidikan. Meskipun Al-Qur’an tidak menjelaskan secara terinci tentang bagaimana esensi pendidikan, namun ada berbagai patokan dasar yang telah digariskannya. Untuk membuktikan hal tersebut maka terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian pendidikan.

Pendidikan adalah upaya penyampaian konsep atau ide kepada peserta didik agar peserta didik yang belum tahu menjadi tahu. Pengertian pendidikan ini merupakan pewarisan kebudayaan.[4]

Manusia yang akan dididik bagaikan alam kecil (mikrokosmos) yang penuh dengan bermacam-macam kekayaan. Dengan kata lain bahwa manusia bagaikan perut bumi yang penuh dengan barang tambang seperti emas, perak, intan, dan berlian. Kekayaan terpendam itu belum berguna sebelum ia diangkat dari perut bumi. Ia harus diangkat dan digali serta digarap untuk mengeluarkan kekayaan tersebut. Begitu halnya dengan manusia, dalam dirinya tersimpan banyak potensi yang bila dieksploitasi dengan cermat akan menjadi manusia yang professional yang berguna bagi diri dan masyarakatnya.

Peserta didik adalah raw input (bahan mentah) yang siap untuk diproses dalam lingkungan transformasi pendidikan untuk mencapai output tujuan pendidikan yaitu perubahan sikap. Bukankah sains dan teknologi itu adalah hasil kecerdasan dan kreatifitas manusia? Karena mengeksploitasi potensi-potensi manusia adalah tugas pendidikan dalam bentuk proses pembelajaran. Dengan demikian, pendidikan adalah suatu upaya transformasi nilai dan pengembangan potensi manusia.

Telaah atas esensi pendidikan dan pembelajaran akan meliputi cakupan identifikasi ciri-ciri inti, sebagai berikut:

  1. Potensi pendidikan adalah usaha sadar untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan.
  2. Proses pendidikan mencakup usaha perkembangan secara optimal kualitatif atas semua aspek kepribadian dan kemampuan (cognitive, affective, psychomotor) serta semua aspek peranan manusia dalam kehidupannya.
  3. Proses pendidikan berlangsung dalam semua lingkungan pengalaman hidup (tripusat pendidikan).
  4. Proses pendidikan berlangsung dalam seluruh tahapan perkembangan seorang sepanjang hayatnya (life long education).

Dasar pemikiran yang menggambarkan harapan atau tujuan setiap bentuk pendidikan dan makna telaah mengenai esensi kependidikan tersebut sejalan dengan tujuan Al-Qur’an, yakni mengadakan perubahan-perubahan positif. Dasar pemikiran ini dijelaskan dalam surat Ibrahim ayat 1 berbunyi:

Terjemahnya:

Alif, laam raa, (ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa Lagi Maha Terpuji. [5]

 

Dari berbagai teori pendidikan yang dihasilkan oleh para pakar ilmu pendidikan telah disepakati bahwa matei pendidikan harus disampaikan. Dengan demikian, pendidikan adalah suatu peristiwa penyampaian atau proses transformasi. Al-Qur’an menegaskan hal serupa ketika menyampaikan materinya kepada penerimanya, yaitu Nabi Muhammad saw, sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 67, yang artinya:

Hai Rasul sampakanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu berjalan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.[6]

Dalam proses transformasi pendidikan itu terdapat faktor-faktor atau unsur-unsur pendidikandi dalamnya, yaitu faktor tujuan pendidikan, faktor pendidik, faktor peserta didik, faktor bahan/materi pendidikan, metode, dan faktor lingkungan pendidikan sehingga terjadi komunikasi pendidikan.

Komunikasi pendidikan tersebut tentunya tidak dapat berlangsung dalam ruang hampa, melainkan dalam suasana yang mengandung makna dan tujuan yang harus diusahakan pencapaiannya dengan menggunakan faktor pendidikan tersebut. Gambaran tentang eksistensi pendidikan yang dikemukakan serta pengamatan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an mengantarkan pada kejelasan maknanya bahwa ada patokan fundamental tentang pendidikan dalam Al-Qur’an.

Kandungan makna dan tujuan yang ingin dicapai dalam setiap interaksi pembelajaran adalah terjadinya kehidupan manusia dan seluruh makhluk-Nya yang ber-ekosistem antara satu dengan yang lainnya. Al-Qur’an telah menyatakan dengan isyarat tentang tujuan penciptaan alam raya ini seperti yang terdapat dalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 16 bahwa: “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main”.[7]

Ayat ini memberikan pemahaman bahwa bumi dan planet-planet yang telah diciptakan oleh Allah Swt bertujuan tertentu dan untuk kepentingan makhluknya.[8] Patokan dasar tujuan pendidikan telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (Q.S. Al-Isra’ ayat 9).[9]

Al-Qur’an sebagai petunjuk dengan tujuan membina manusia guna mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Manusia yang dibinanya adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur materil yaitu jasmani dan non materil yaitu akal dan jiwa. Pembinaan akal menghasilkan kecerdasan dan keterampilan (adabud-dun-ya) sedangkan pembinaan jiwa menghasilkan etika dan budi pekerti (adabud-din).

Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaaf ayat 23 berbunyi: Ia berkata: “pengetahuan (tentang hal itu) hanya pada Allah, dan aku (hanya sekedar) menyampaikan kepada kamu apa yang dengan itu aku diutus, tetapi aku melihat kalian seperti orang-orang yang bodoh[10]. Mengapa engkau tidak mempergunakan pendengaranmu, penglihatanmu, dan kalbumu serta akalmu. Alam ini terbentang luas yang patut untuk dibaca dan dianalisis (Iqra’). Semua itu adalah alat untuk memperoleh pengetahuan untuk memahami kebenaran ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah Swt.[11]

Al-Qur’an dalam mengerahkan pendidikannya kepada makhluk manusia menghadapi dan memperlakukan makhluk tersebut sejalan dengan unsur penciptaannya, yaitu jasmani, akal, dan jiwa. Oleh karena itu, materi-materi pendidikan yang disajikan Al-Qur’an selalu mengarah pada jiwa, akal, dan raga manusia.

Dalam penyajian materi pendidikan membutuhkan metode pembelajaran, sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an surat Al-Israa’ ayat 49-51 yang berbunyi:

“Dan mereka berkata: “apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu”. Maka mereka akan bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali? “Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama”. Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata, “kapan itu (akan terjadi)? Katakanlah: mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”.[12]

 

Tafsiran Al-Qur’an di atas dapat dipahami adanya metode pembelajaran yang menggambarkan keberatan-keberatan mereka (anak didik) yang tidak percaya pada hari kebangkitan dengan mengatakan apakah bila kami telah menjadi tulang belulang atau benda-benda yang hancur akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru? Al-Qur’an yang ingin melibatkan penalaran manusia dalam penemuan keyakinan tentang hari kebangkitan.

Pada saat itu, Al-Qur’an mengajak manusia (anak didik) menggunakan daya nalarnya dan bertanya. Siapakah yang menghidupkan semua itu kembali? Jawabnya pasti Dia yang pertama kali mewujudkannya.

Dengan dimikian, metode pembelajaran yang tergambar pada rangkaian ayat-ayat tersebut adalah metode diskusi. Metode ini mengarahkan anak didik untuk menemukan sendiri kebenaran melalui penalaran akalnya.

Di samping metode pembelajaran di atas, Al-Qur’an juga menggunakan metode kisah atau metode bercerita sebagai salah satu metode untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap kisah dan cerita menunjang materi yang disajikan, baik kisah itu benar-benar terjadi maupun hanya kisah simbolik.

Dalam mengemukakan kisah, Al-Qur’an tidak segan-segan menceritakan kelemahan-kelemahan manusia. Namun, hal tersebut digambarkan sebagaimana adanya, tanpa menonjolkan segi-segi yang dapat mengundang rangsangan. Kisah tersebut biasanya diakhiri dengan menekankan akibat dari kelemahan diri seseorang yang digambarkannya, pada saat kesadaran manusia dan kemenangannya mengatasi kelemahan itu. Sebagai contoh dalam surat Al-Qashash ayat 78-81:

Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi berita harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat dari padanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).[13]

 

Al-Qur’an mengemukakan kisah-kisahnya sama dengan pengarang novel yang mengungkapkan seperti kisah nabi Yusuf dan Sulaiha.[14] Al-Qur’an justru menggambarkan sebagai suatu kenyataan dalam diri manusia yang tidak perlu ditutup-tutupi dan tidak dianggap sebagai suatu kekejian akan tetapi suatu pendidikan.

Al-Qur’an juga menggunakan kalimat-kalimat yang menyentuh hati, untuk mengarhkan manusia kepada ide yang dikehendakinya. Akan tetapi materi pendidikan yang disampaikannya selalu berkaitan dengan metode panutan atau suri toladan dari subyek pendidikan (pendidik). Hal ini terhimpun dalam diri Rasulullah Saw. Ketika mendengar ajaran-ajaran Al-Qur’an yang terlihat dengan nyata adalah penjelmaan ajarannya terdapat pada diri beliau. Yang selanjutnya mendorong manusia (anak didik) untuk menyakini keistimewaan dan mencontohi pelaksanaannya.

Itulah selayang pandang sebagian metode yang terdapat dalam Al-Qur’an dalam rangka proses pembelajaran. Kalau metode pembelajaran dalam Al-Qur’an itu digunakan untuk menyoroti pendidikan khususnya pendidikan agama, maka sering kali ditemukan dalam kenyataan hal-hal yang tidak sejalan dengan metode pendidikan Al-Qur’an tersebut.

Pendidikan yang dipelajari oleh anak didik bersifat menyeluruh dan luas, tidak mungkin dapat diraih secara sempurna. Oleh karena itu, dia harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan sesuatu yang akan diraihnya dengan tuntutan belajar secara terus-menerus.

Konsep belajar secara terus menerus ini terdapat dalam hadis yang menyatakan bahwa tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahad. Terlepas dari sahih atau lemahnya penisbian ungkapan tersebut kepada Nabi namun sejalan dengan konsep Al-Qur’an tentang keharusan menuntut ilmu dan memperoleh pendidikan sepanjang hidup.

Dari ungkapan tersebut menunjukkan ide yang terdapat dalam khasanah pemikiran Islam melalui ide life long education yang dipopulerkan oleh Paul Lengrand. Pendidikan seumur hidup yang dikemukakan itu tidak hanya terlaksana melalui jalur-jalur pendidikan formal, akan tetapi juga melalu jalur pendidikan informal dan nonformal. Jalur pendidikan ini ditegaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan itu berlangsung dalam lingkungan pendidikan formal, informal dan nonformal.[15]

Identifikasi esensi pendidikan adalah usaha sadar yang dilaksanakan oleh seseorang yang menghayati tujuan pendidikan. Hal ini berarti bahwa tugas pendidikan dibebankan kepada seseorang yang lebih dewasa dan matang, yaitu orang yang mempunyai integritas kepribadian dan kemampuan yang professional. Orang tua atau guru dapat menghayati pengalaman tugasnya, arif, mengenai tujuan yang ingin dicapainya, lebih dewasa dan matang dari anak didik yang menjadi asuhannya.

Aktualisasi pengembangan kepribadian dan kemampuan anak didik merupakan peran sentral yang koheren dengan fungsi dan tanggung jawab moralnya. Peran pendidik alaimiah diserahkan kepada setiap orang tua terhadap anak kandungnya, karena hubungan kodrati secara biologis. Sedangkan pendidik professional diserahkan kepada setiap guru atau dosen terhadap anak didiknya sebagai hubungan fungsi profesionalnya. Dengan demikian, pendidikan berlangsung seumur hidup adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa tujuan pendidikan pada hakekatnya adalah membentuk manusia seutuhnya yang beriman, berilmu dan beramal. Untuk mencapai tujuan tersebut, secara umum Al-Qur’an dapat dijadikan petunjuk yang menggambarkan metode pendidikan dan pembelajaran yang dapat menyentuh akal dan jiwa peserta didik. Semboyang pendidikan seumur hidup life long education and education for all and all for education harus dijadikan prinsip hidup. Belajar adalah bagian dari ibadah.

 

C. Al-Qur’an Sebagai Tafsir Sosial Kependidikan

Al-Qur’an secara teks kontekstual memang tidak berubah, tetapi penafsiran atas teks yang selalu berubah sesuai dengan konteks ruang dan waktu manusia. Karenanya, Al-Qur’an selalu membuka diri untuk dianalisis, dipersepsi, dan diinterpretasikan (ditafsirkan) dengan berbagai alat, metode, dan pendekatan untuk menguak isi sejatinya. Aneka metode dan tafsir diajukan sebagai jalan untuk membedah makna terdalam dari Al-Qur’an itu.

Al-Qur’an seolah menantang dirinya untuk dibedah. Tetapi, semakin dibedah, rupanya semakin banyak saja yang tidak diketahui. Semakin ditelaah, nampaknya semakin kaya pula makna yang terkuak darinya. Barang siapa yang mengaku tahu banyak tentang Al-Qur’an, justru semakin tahulah bahwa mereka tahu hanya sedikit. Keuniversalan Al-Qur’an terletak pada cakupan pesannya yang menjangkau ke seluruh lapisan umat manusia, kapan saja dan di mana saja.[16]

Salah satu tafsir yang hendak digunakan untuk membedah noktah al-Qur’an adalah tafsir tematik. Tafsir tematik mencoba menelaah agar ditemukan titik konvergensi antara satu ayat dengan ayat lainnya secara logis, agar bisa ditemukan kuantum epistemologis secara relevan agar dapat menjawab tuntunan realitas social yang bergerak cepat.

Al-Qur’an mendeklarasikan dirinya untuk menyapa seluruh umat manusia dari segenap suku bangsa tanpa terkecuali dan di zaman masyarakat dahulu, modern, neomodern, hingga di akhir zaman. Upaya meraih kebenaran teks dan konteks sebuah ayat, membutuhkan ilmu alat agar lebih mudah mengaplikasikan makna-makna Al-Qur’an dalam kehidupan social. Apalagi ayat-ayat yang berkategori mutasyabihat.[17]

Dalam menafsirkan Al-Qur’an diperlukan pengetahuan tertentu yang berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan seperti yang dikemukakan oleh Imam Al-Sayuthiy[18] dan T.M. Hasbi Ash-Shiddiqey.[19] Nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an harus menerobos batas-batas geografis dan demokrafis dengan segala implikasinya, juga harus menembus lapisan-lapisan cultural dan sosial dengan segala keragaman dan keunikannya. Pada saat yang sama, nilai-nilai Al-Qur’an diperhadapkan pada keharusan mewujudkan tuntunannya melalui penafsiran yang berdandarkan pada realitas budaya, dan keharusan mempertahankan kontinuitas dan keautentikannya sepanjang zaman.

Dinamika sosial yang semakin dramatis itu, terutama akumulasi prestsi yang dicapai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern, semakin komplekslah permasalahan umat Islam ini.

Al-Qur’an yang berisi petunjuk bagi umat manusia, baik dalam rangka perumusan sistem-sistem sosial, pendidikan dan kemasyarakatan maupun dalam mengantisipasi dampak negative dari suatu sistem, senantiasa membuka diri dalam melakukan dialog cultural, kapan dan di manapun juga. Al-Qur’an sendiri menjelaskan hal tersebut dalam surat Muhammad ayat 24 bahwa manusia senantiasa dihadapkan pada tantangan moral: memperhatikan isi Al-Qur’an secara benar, ataukah hati mereka terkunci karena menolak memperhatikan Al-Qur’an.

Kemajuan ilmu pengetahuan, pendidikan tentang agama dan tentang ilmu mengajar kedua belah pihak mengetahui batas masing-masing. Agama mengakui bahwa di luar daerahnya sendiri ada daerah yang dapat diserahkan kepada ilmu untuk diselidiki dan dikupas masalah-masalahnya kemudian ternayata pula bahwa pengetahuan yang dihasilkan ilmu itu dapat menjadi bahan bagi agama untuk memperkuat keyakinannya.

Q.S. Al-A’Raf ayat 187; Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada Tuhanku, tidak seorangpun dapat menjelaskannya selain Dia. Demikian pula dalam Q.S. Al-Isra’ ayat 85 bahwa: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tiadalah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.

 

  1. IV. KESIMPULAN

Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk mengandung tiga konsep: pertama, bahwa Al-Qur’an itu adalah sebuah kitab yang berisikan petunjuk, pedoman atau pimpinan yang disebut hudan. Orang-orang yang berhasil memperoleh petunjuk tersebut disebut muhtadin. Kedua, Al-Qur’an bukan hanya sebagai petunjuk yang mungkin dirumuskan dalam satu atau dua kalimat, tetapi Al-Qur’an memberikan pula penjelasan atau bayan mengenai petunjuk itu (Al-Qur’an bi Al-Qur’an). Ketiga, petunjuk itu sekaligus merupakan criteria atau tolok ukur untuk menilai segala sesuatu, terutama untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil. Dengan demikian, Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai petunjuk penafsiran tafsir sosial kependidikan.

Metode pendidikan dan pembelajaran yang dapat dijadikan hudan dalam Al-Qur’an dapat diidentifikasi dalam metode deduktif, induktif, diskusi, tanya jawab, metode kisah atau bercerita, discovery and inquiry, suri toladan, dan problem solving. Al-Qur’an memang benar bahwa masih banyak dan terdapat adanya bidang-bidang dimana jangkauan ilmu pengetahuan manusia terbatas, seperti hal ruh, hari kiamat, dan sebagainya

Daftar Pustaka

Agustian, Ary Ginanjar, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual (ESQ) Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, Cet. VII, Jakarta: Arga, 2002

 

Al-Sayuthiy, Jalal al-Din Abd. Al-Rahman, Al-Itqan Fiy Ulum Al-Qur’an, Juz II, Mesir: Mustafa al-Babiy al-Halabiy wa Auladuh, 1951

 

Al-Shalih, Subhy, Mababis Fiy Ulum Al-Qur’an, Bairut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 1977

 

Ash Shiddiqy, Hasbi T.M., Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Jakarta: Bulan Bintang, 1980

Dawan M. Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an: tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, Cet. II., Jakarta: Paramadina, 2002

 

Departemen Agama RI., AlQur’an dan Terjemahnya, Jakarta: 1985

 

Hasan Langgulung, Tujuan Pendidikan dalam Islam, Diktat, Fakultas PPs IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, t.t.

 

Madani, Malik Madani dan Hamim Ilyas, Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, Miszan, Bandung, 1987

 

Muhammad Abdul mun’im Al-Jamal, Al-Tafsir Al-Farid li Al-Qur’an Al-Majid. Dar Al-Kitab Al-Jadid, t.t.p.

 

Mursi, Abdul Hamid, Sumber Daya Manusia Yang Produktif: Pendekatan Al-Qur’an dan Sains, Jakarta: Gema Insani Press, 1998

 

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003


[1] Kepala Tata Usaha Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Parepare

 

[2] Departemen Agama RI., AlQur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 1985

[3] M.Dawan Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an: tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, Cet. II., Jakarta: Paramadina, 2002, h. xviii

[4] Hasan Langgulung, Tujuan Pendidikan dalam Islam, Diktat, Fakultas PPs IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, t.t, h. 2

[5] Departemen Agama RI., Op Cit., 379

[6] Ibid, h. 172

 

[7] Ibid, h. 497

 

[8] Muhammad Abdul mun’im Al-Jamal, Al-Tafsir Al-Farid li Al-Qur’an Al-Majid. Dar Al-Kitab Al-Jadid, t.t.p., Juz, h.88

[9] Departemen Agama RI, Op Cit., 426

 

[10] Ibid, 826

 

[11] M. Dawan Rahardjo, Op Cit., h. 541

[12] Departemen Agama RI., Op Cit., 431

[13] Ibid, h. 623

 

[14] Lihat, kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha dalam Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 23.

[15] Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003

[16] M.H. Thabathaba’i menjelaskan bahwa keuniversalan Al-Qur.an terbukti karena tidak mengkhususkan pembicaraannya kepada umat Islam saja, melainkan juga berbicara kepada umat non-Islam termasuk orang kafir, musyrik, Yahudi dan Nasrani. Lihat Thabathaba’i dalam A. Malik Madani dan Hamim Ilyas, dengan Judul  Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1987, h. 33

 

[17] Secara garis besar, ayat-ayat Al-Qur’an terbagi atas dua bagian yaitu ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat (QS. Ali Imran:7). Ayat Muhkamat adalah ayat yang maksudnya jelas dan tidak ada ruang bagi kekeliruan. Sedangkan ayat-ayat Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang makna lainnya bukan yang dimaksudkan, makna hakikat yang merupakan takwilannya hanya diketahui oleh Allah.  Lihat Subhy Al-Shalih, Mababis Fiy Ulum Al-Qur’an, (Bairut: Dar al-Ilm li al-Malayin), 1977, h. 282

 

[18] Dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an, Imam Al-Sayuthiy menyebutkan lima belas macam ilmu yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin menafsirkan Al-Qur.an, yaitu, Al-Lughah, Nahwu, Sharaf, Al-Isytiqaq, Al-Ma’aniy, Al-Bayan, Al-Ba’di’, Al-Qira’ah, Ushul al-din, Ushul al Fiqh, Asbab al-nuzul, Nasikh wa almasnsukh, Al-hadits, Maubabah. Lihat: Jalal al-Din Abd. Al-Rahman Al-Sayuthiy, Al-Itqan Fiy Ulum Al-Qur’an, Juz II, Mesir: Mustafa al-Babiy al-Halabiy wa Auladuh, 1951, h. 180.

 

[19] Dari kelima belas  ilmu yang ditawarkan oleh Al-Sayuthiy di atas, diperkecil oleh Hasbi Ash Shiddiqey, menjadi tujuh ilmu, yaitu: (1) Al-Lughah al ‘arabiyah, (2) Undang-undang bahasa Arab, (3) Ilmu al-Ma’aniy, al-Bayan dan al-badi, (4) Mubbam meliputi Asbab al-Nuzul, Nasikh wa al-Mansukh dan al-Musthalah al-Hadits, (5) Ijmal dan Tabyin, ‘am dan Khas, Muthlaq dan Muqayyad, Amr dan Nahyi, (6) Ilmu Qalam, (7) Ilmu Qira’at. Lihat: Hasbi Ash Shiddiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Jakarta: Bulan Bintang, 1980, h. 207.

KONSEP PENDIDIKAN AL-QABISI DAN M. RASYID RIDHA:

KOEDUKASI DAN KURIKULUM

Oleh : M. Dahlan Thalib

  1. I. PENDAHULUAN
  2. A. Latar Belakang

Posisi manusia sebagai homo educandum (makhluk yang dapat didik), homo education (makhluk pendidik), dan homo religious (makhluk beragama) mengindikasikan bahwa perilaku keberagamaan manusia, dapat diarahkan melalui pendidikan. Pendidikan yang dimaksud di sini adalah pendidikan Islam, yakni dengan cara membimbing dan mengasuhnya agar dapat memahami, menghayati ajaran-ajaran Islam, sehingga tampak perilaku keberagamaan secara simultan dan terarah pada tujuan hidup manusia. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang sangat ideal,[1] karena menyelaraskan antara pertumbuhan fisik dan mental, jasmani dan rohani, pengembangan individu dan masyarakat, serta dunia dan akhirat.

Menanamkan perilaku keberagamaan terhadap peserta didik diharapkan memberikan pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan. Besar kecil pengaruh yang dimaksud sangat tergantung berbagai faktor yang dapat memotivasi untuk memahami nilai-nilai agama, sebab pendidikan agama pada hakekatnya merupakan pendidikan nilai. Oleh karena itu, pendidikan agama lebih dititik beratkan pada bagaimana membentuk kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama.[2] Disinilah letak pentingnya rumusan kurikulum yang mampu mengakomodir dan terjewantahkan ke seluruh dimensi ranah pembelajaran di sekolah (madrasah). Letak permasalahan selanjutnya adalah kurikulum Pendidikan Islam yang selama ini diterapkan belum mampu secara maksimal menjadi tolok ukur utama keberhasilan pendidikan secara simultan.

Sistem pendidikan Islam memiliki keunikan tersendiri, akibat adanya aturan-aturan nilai yang terkadang dianggap menyimpang dari pemenuhan nilai-nilai pendidikan Islami. Salah satu yang urgen dikaji bahwa pendidikan berlaku kepada seluruh manusia, tidak mengenal adanya perbedaan streotipe jenis kelamin. Namun terdapat pandangan berbeda dalam kesamaan pria dan wanita dalam sistem pemerolehan pendidikan dengan memandang sisi posistif dan negatifnya.

Kaitannya dengan komponen kurikulum dan sistem koedukasi di atas, maka tujuan pendidikan Islam melalui sistem persekolahan/madrasah patut diberikan penekanan yang istimewa. Hal ini disebabkan oleh pendidikan sekolah/madrasah mempunyai program yang teratur, bertingkat dan mengikuti syarat yang jelas dan ketat. Hal ini mendukung program pendidikan Islam yang lebih akomodatif, transformatif dan relevan dengan tujuan pendidikan Islam. Para tokoh pembaharu dan pemikir Pendidikan Islam menanggapi tentang kurikulum dan koedukasi pendidikan dengan beragam pandangan.  Abu al-Hasan al-Qabisy dan Rasyid Ridha adalah dua sosok pemikir Pendidikan Islam yang memiliki pandangan signifikan tentang kedua obyek kajian pendidikan ini.

 

  1. B. Rumusan Masalah

Menyimak uraian latar belakang di atas, maka dalam makalah ini akan membahas beberapa pokok permasalahan yang relevan, sebagai berikut:

  1. Bagaimana biografi dan pembaharuan pemikiran Al-Qabisy dan Rasyid Ridha dalam dunia pendidikan Islam pada umumnya?
  2. Bagaimana maksud/pengertian kurikulum dan koedukasi  tersebut?
  3. Bagaimana konsep pendidikan Al-Qabisy dan Rasyid Ridha tentang koedukasi dan kurikulum?
    1. II. PEMBAHASAN
      1. A. Biografi al-Qabisy dan Rasyid Ridha sebagai Tokoh Pemikir Pendidikan Islam.
        1. 1. Biografi Al-Qabisy dan Pandangan Umumnya tentang Pendidikan.

Nama lengkap Al-Qabisiy  adalah Abu Al-Hasan Muhammad  bin Khalaf Al-Ma‘arifi Al-Qairawaniy.  Al-Qabisiy adalah penisbahan kepada sebuah bandar yang terdapat di Tunis. Kalangan ulama lebih mengenal namanya dengan sebutan Al-Qabisiy. Ia lahir di Kota Qairawan Tunisia  pada tahun 324 H-935M.[3] Literatur-literatur tidak menyebutkan  perihal kedudukan  orang tuanya. Barangkali Al-Qabisiy bukan dari keturunan ulama yang termasyhur, atau bangsawan ataupun hartawan sehingga asal keturunannya tidak banyak digambarkan sejarah, namun namanya terkenal setelah ia menjadi  ilmuan yang berpengaruh dalam dunia Islam.

Semasa kecil dan remajanya belajar di Kota Qairawan. Ia mulai mempelajari Al-Qur’an, hadits, fikih, ilmu-ilmu bahasa Arab dan Qira’at dari beberapa ulama yang terkenal di kotanya. Di antara ulama yang besar sekali memberi pengaruh pada dirinya adalah Abu Al-‘Abbas Al-Ibyani yang  amat menguasai fikih mazhab Malik. Al-Qabisiy pernah mengatakan tentang gurunya ini: “saya tidak pernah menemukan di Barat dan di Timur ulama seperti Abu al-‘Abbas. Guru-guru lain  yang banyak ia menimba ilmu dari mereka adalah  Abu Muhammad Abdullah bin Mansur Al-Najibiy, Abdullah bin Mansur Al-Ashal, Ziyad bin Yunus Al-Yahsabiy, Ali Al-Dibagh dan  Abdullah bin Abi Zaid.[4]

Al-Qabisiy pernah sekali melawat ke wilayah Timur Islam dan menghabiskan waktu selama 5 tahun, untuk menunaikan ibadah haji dan sekaligus  menuntut ilmu. Ia pernah menetap di bandar-bandar besar  seperti  Iskandariyah dan Kairo (Negara Mesir) serta Hejaz dalam waktu yang relatif tidak begitu lama. Di Iskandariyah ia  pernah belajar pada Ali bin Zaid Al-Iskandariy, seorang ulama yang masyhur dalam meriwayatkan hadits Imam Malik dan  mendalami mazhab fikihnya.[5] Al-Qabisiy mengajar pada  sebuah madrasah yang diminati oleh penunut-penuntut ilmu. Madrasah ini lebih memfokuskan pada ilmu hadits dan fikih. Pelajar-pelajar yang menuntut ilmu di madrasah ini banyak yang datang  dari Afrika dan  Andalus.  Murid-muridnya yang terkenal adalah  Abu Imran Al-Fasiy, Abu Umar Al-Daniy, Abu Bakar bin Abdurrahman, Abu Abdullah Al-Maliki, Abu Al-Qasim Al-Labidiy Abu Bakar ‘Atiq Al-Susiy dan lain-lain.[6]

Al-Qabisiy terkenal luas pengetahuannya dalam bidang hadits dan fikih di samping juga sastera Arab.[7] Ia menjadi rujukan ummat dan dibutuhkan untuk menjawab masalah-masalah hukum Islam, maka ia diangkat menjadi mufti dinegerinya. Sebenarnya, ia tidak menyukai jabatan ini, karena ia memiliki sifat tawadlu‘ (merendah diri), wara‘ (bersih dari dosa) dan zuhud (tidak mencintai kemewahan hidup duniawi).[8] Salah satu karyanya dalam bidang pendidikan  Islam yang sangat monumental adalah kitab “Ahwal al-Muta’allim wa Ahkam Mu’allimin wa al-Muta’allimin”, sebagai kitab yang terkenal pada abad 4 dan sesudahnya.

Konsep pemikiran tujuan pendidikannya Al-Qabisy secara umum, sebagaimana dirumuskan oleh al-Jumbulati, yaitu: (1) mengembangkan kekuatan akhlak anak, (2) menumbuhkan rasa cinta agama, (3) berpegang teguh terhadap ajarannya, (4) mengembangkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang murni, dan (5) anak dapat memiliki keterampilan dan keahlian pragmatis yang dapat mendukung kemampuan mencari nafqah.[9] Sedangkan Abudin Nata memahami tujuan pendidikan Islam al-Qabisy bercorak normatif, yaitu mendidik anak menjadi seorang muslim yang mengetahui ilmu agama, sekaligus mengamalkan agamanya dengan menerapkan akhlak mulia.[10] Dengan demikian, dipahami bahwa pandangan intisari pendidikan al-Qabisy menurut Abudin Nata bukan hanya pada ranah pengetahuan kognitif, namun sekaligus pada ranah afektif dan psikomotorik.

  1. 2. Biografi Rasyid Ridha dan Pandangan Umumnya tentang Pendidikan.

Sayyid Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha’uddin al-Qalmuny al-Husaini, namun lebih dikenal dengan Muhammad Rasyid Ridha dan masih memiliki pertalian darah ahlul al-bait yakni Husain bin Ali bin Abi Thalib. Lahir di Qalamun (Kota Tripoli, Libanon) pada 22  J.Awal 1282 H (1865 M) dan ia wafat pada Agustus 1935.[11] Ia hidup dalam lingkungan keluarga yang mengutamakan ilmu pengetahuan dan taat beragama, sehingga mendapatkan didikan dari orang tuanya membaca dan menghatamkam hafalan Al-Quran hingga usia 17 tahun.

Pada tahun 1882 M., belajar di Madrasah Rusydiyyah di Tripoli, kemudian pindah ke Madrasah al-Wathaniiyah al-Islamiyyah, milik pemerintahan Kota Tripoli yang dipimpin oleh Syaikh al-Jisr seorang alim ulama yang tergolong modernis. Namun mendapat tantangan dari pemerintah akibat konstalasi politik Kerajaan Usmani, hingga melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Diniyyah di Kota yang sama, namun tetap melakukan komunikasi ilmiyah dengan guru-gurunya (utamanya Syaik al-Jisr) saat di Madrasah sebelumnya, sehingga tetap memperoleh Ijazah, kemudian belajar hadis dan memperoleh ijazah dari Syekh Mahmud Kamil al-Rafi’u. selain itu, guru-gurunya adalah Sykeh Abd. Ghani al-Rafi’, Syekh Muhammad al-Husain, dan Syekh Muhammad Abduh yang banyak mengispirasi pikirannya untuk bertemu dan berguru kepada Syekh ini. [12]

Akibat besarnya tantangan untuk bertemu dengan Syekh Abduh, maka pada tahun 1898, melanjutkan pendidikannya ke Al-Azhar (Mesir) menjadi mahasiswa, hingga akhirnya secara bersama-sama menerbitkan majalah Al-Manar dan kemudian menyusun sekaligus melanjutkan Tafsir Al-Manar sepeninggal Syekh Muhammad Abduh pada tahun 1905 M., hingga ia pun wafat pada Agustus 1935 M., dengan meninggalkan beberapa karya-karyanya.[13] Sebagai seorang guru/pendidik dan penanggugjawab pendidikan, Rasyid Ridha selalu berupaya merubah pola pikir masyarakat untuk lebih maju dan dinamis.

Salah satu pemikiran Pendidikan Islamnya, ia berpendapat bahwa umat Islam akan maju jika menguasai pendidikan. Olehnya itu, ia banyak menghimbau dan mendorong umat Islam untuk menggunakan kekayaan, potensi dan wewenangnya bagi pembanguna lembaga-lembaga pendidikan. Rasyid Ridha berupaya memajukan ide pengembangan kurikulum dengan memadukan muatan ilmu agama dan umum. Kepeduliannya ini dibuktikan dengan mendirikan lembaga pendidikan pada tahun 1912 di Kairo yang diberi nama Madrasah Ad-Dakwah wal-Irsyad.[14] Dari setting biografi Rasyid Ridha dipahami bahwa pemikirannya dalam bidang pendidikan Islam lebih dominan dipengaruhi oleh inspirasi para guru, lingkungan pendidikannya selaku seorang guru, madrasah-madrasah tempat mengecap ilmu, dan  madrasah yang dibangunnya.

  1. B. Konsep Pendidikan Al-Qabisy dan Rasyid Ridha; Koedukasi dan Kurikulum
    1. 1. Koedukasi Pendidikan

Koedukasi,[15] berasalal dari kata “co” yang berarti sama, sedangkan “ducation” adalah proses latihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, keterampilan dan karakter. Utamanya dilaksanakan oleh lembaga formal melalui pengajaran dan latihan.[16] Ali Al-Jumbulati lebih detail menjelaskan bahwa koedukasi berarti “co educational class” yang berarti percampuran antara laki-laki dan perempuan dalam suatu kelas.[17] Dengan demikian, koedukasi yang dimaksud adalah sistem pendidikan yang dilakukan melalui proses belajar mengajar yang menggambungkan pria dana wanita dalam suatu ruangan (kelas), atau sering pula dikenal dengan pendidikan campuran.

Munculnya sistem koedukasi pendidikan dilandasi oleh diizinkannya keberadaan lembaga-lembaga Asing di negeri-negeri Islam, dan biasanya melaksanakan pendidikan melalui kebebasan penuh, tanpa pengawasan dari pihak pemerintah.[18] Artinya, segala sistem operasional yang dijalankan terselubung ke dalam sistem pendidikan dan berkedok sebagai sistem pendidikan Islam.

Al-Qabisiy menyatakan bahwa anak mempunyai hak sepenuhnya untuk belajar. Anak-anak tidak boleh disibukkan dengan pekerjaan sehingga mereka tidak sempat belajar Al-Qur’an dan menuntut ilmu pengetahuan. Ketika seorang laki-laki  melapor kepada  Sahnun (seorang pendidik abad III), bahwa ia tidak  menghambat anaknya  yang sedang menuntut ilmu dengan pekerjaan, tapi semua pekerjaan diselesaikan sendiri, Sahnun berkata kepadanya: “sesungguhnya fahala engkau  lebih besar  daripada fahala  menunaikan ibadah haji dan ibadah jihad”. Demikian Al-Qabisiy mengutip pendapat Sahnun tentang pentingnya pendidikan bagi anak remaja.

Al-Qabisiy tidak menyetujui materi pelajaran diberikan kepada anak perempuan selain pelajaran agama. Mengajar  menulis  dan syair bagi mereka dapat merusak kehidupan masa depan mereka. Ia memisahkan antara ilmu-ilmu yang patut diajarkan kepada anak perempuan dan ilmu-ilmu yang tidak boleh diberikan kepada mereka. Sebagian ilmu, kalau diajarkan kepada anak perempuan, dapat membawa kepada  fitnah dan  membahayakan kehidupannya sendiri.[19] Al-Qabisiy melihat bahwa syair-syair pada zaman kemajuan pendidikan Islam banyak yang  mengarah pada pujian kecantikan perempuan, ghazal (cumbu rayu) dan kisah-kisah cinta muda-mudi. Maka ia melarang anak perempuan diberikan pelajaran mengarang syair-syair yang dikhawatirkan terjerumus ke dalam bahaya semacam itu.

Namun demikian, Al-Qabisy berpendapat bahwa tidak baik anak pria dan wanita bercampur dalam suatu kelas, karena dikhawatirkan rusak moralnya.[20] Hal yang demikian dapat memperburuk tingkah laku anak-anak. Maka pemisahan tempat pendidikan wajib dilakukan demi terjaga keselamatan anak-anak dari  penyimpangan-penyimpangan akhlak.

Tidak diketahui secara pasti tentang batasan umur tentang tidak bolehnya anak pria dan wanita bercampur dalam suatu kelas, namun al-Qabisy hanya mengatakan bahwa anak yang berusia muharriqah (masa pubertas/remaja) tidak memiliki ketenangan jiwa dan timbul dorongan yang kuat untuk mempertahankan jenis kelaminnya hingga ia sampai pada usia dewasa. Jika demikian, berarti anak dewasa dapat saja diadakan koedukasi pendidikan. Dapat dipahami pula, bahwa al-Qabisy dapat saja menerima koedukasi, hanya saja dengan syarat koedukasi diterapkan dalam batas kewajaran dan tidak menjadikan kerusakan moral.

Sementara Rasyid Ridha yang dikenal sebagai seorang tokoh pembaharu abad XIX yang sangat memperhatikan pendidikan wanita, menolak adanya manfaat dari koedukasi. Ia melihat bahwa koedukasi bukan sekedar memiliki kekurangan, namun dapat mendatangkan malapetaka. Menurutnya, tradisi sistem edukasi merupakan adopsi dari orang-orang Eropa, bukan dari pengetahuan sempurna dan kebebasan berpikir, bukan pandangan yang halus dan lembut dan bukan pula dari hasil pertimbangan yang mendapatkan manfaat.[21] Dengan demikian, Rasyid Ridha menolak adanya koedukasi itu dari segi negatifnya, dan tidak memandang adanya segi positif atau manfaat dari sistem koedukasi dalam pendidikan Islam.

Diasumsikan bahwa, Rasyid Ridha lebih menekankan pada tujuan atau hasil dari pendidikan campuran ini. Sehingga pandanganya yang lebih ekstrim ini mampu menghasilkan  tokoh-tokoh pendidik dari wanita muslim,  yang justru berupaya lebih memikirkan masa depan wanita. Artinya, implikasi yang muncul sesudahnya adalah merupakan upaya pemberontakan bagi wanita untuk lebih melihat sisi negatif dan positif dari sistem koedukasi ini. Apakah menimbulkan hasil yang cukup signifikan dan memiliki akses manfaat yang lebih luas terhadap perjuangan kaum wanita. Olehnya itu, pandangan Rasyid Ridha menggugah dunia pendidikan untuk lebih berhati-hati terhadap penerapan sistem koedukasi dalam pendidikan Islam, yang mesi dipahami secara arif, bijaksana dan kondisional dalam meraih tujuan pendidikan yang ideal pada setiap ruang dan waktu. Utamnya bagi pengelola lembaga pendidikan untuk super hat-hati dari kemungkinan hasil atau manfaat dari lembaga pendidikan bersangkutan.

Bertitik tolak pada pandangan pemikiran Al-Qabisy dan Rasyid Ridha di atas, berbeda halnya dengan Qasim Amin mengemukakan bahwa pendidikan kaum pria dan wanita tidak ada perbedaan dalam dimensi-dimensi tertentu, utamanya terhadap pembatasan dengan ketat pergaulan antara pria dan wanita, mereka harus diberikan kesempatan untuk bergaul, bertukarpikiran, serta bersama-sama membangun pendidikan dan keutuhan negara.[22] Tampaknya, ia menginginkan kemajuan kaum wanita dan memberikan kebebasan untuk mendapatkan kesamaan derajad dalam dunia pendidikan. Meskipun tidak ditemukan data secara tegas menyatakan bahwa sistem koedukasi dalam pendidikan, namun dapat dikongklusikan bahwa pemikiran tentang kebebasan dan kesamaan wanita Islam aktif sebagaimana wanita Barat, identik dengan tidak ada penolakan terhadap koedukasi dalam pendidikan.

  1. 2. Kurikulum Pendidikan

Kurikulum pendidikan Islam merupakan bagian integral yang sangat vital dalam capaian hasil atau tujuan pendidikan. [23] sehingga kemudian menghasilkan mutu pendidikan,[24] yang lebih konfrehensif dan paripurna sebagai wujud penghambaan kepada Sang Pencipta dan Pemelihara terhadap keutuhan alam-ilmiyah. Kurikulum adalah sejumlah pengalaman, pendidikan, kebudayaan, sosial, keolaragaan dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid di dalam dan diluar sekolah dengan maksud menolong mereka untuk berkembang dan mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan.[25] Bahkan Hasan langgulung menggambarkan pada tiga materi yang harus ada dalam kurikulum yaitu, pertama, ilmu yang diwahyukan yang meliputi al-Qur’an dan Hadits serta bahasa Arab. Kedua, ilmu-ilmu yang mengkaji tentang manusia. Ketiga, adalah sains tabi’I yang meliputi fisika, biologi, astronomi dan lain sebagainya. Hanya saja menurut Hasan Langgulung pada esensinya ilmu itu satu yang membedakan adalah analisa.[26]

Pada dasarnya, implementasi kurikulum pada suatu sekolah merupakan suatu alat atau usaha mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan sekolah tertentu yang dianggap cukup tepat dan krusial untuk dicapai. Salah satu langkah yang harus dilakukan adalah meninjau kembali tujuan yang selama ini digunakan oleh sekolah. Dalam pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan, tujuan-tujuan tersebut harus dicapai secara bertahap yang saling mendukung. Sedangkan keberadaan kurikulum disini adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.

Sebagaimana substansi obyek bahasan ini, Al-Qabisiy membagi tujuan pengajaran kepada dua tujuan utama; yaitu tujuan agama dan tujuan akhlak. Ini dipahami dari tulisan-tulisan yang dikemukakannya  yang dianalisis kemudian  oleh para peneliti yang mengkaji ide-idenya di kemudian hari.

Al-Qabisiy selalu menyeru, di manapun ia berada, agar ummat Islam harus berpegang teguh pada dasar-dasar agama. Ia selalu mengisyaratkan pada ummat Islam untuk memperhatikan kelebihan para pemimpin periode pertama ummat Islam ini. Ummat Islam pertama amat memperhatikan Al-Qur’an, mencari guru-guru yang mengajar Al-Qur’an  dan mendalami maksud kandungan isi Al-Qur’an. Setelah mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak, diberikan pengajaran praktis yaitu cara-cara berwudluk dan praktek shalat. Anak perlu dilatih secara kontinyu untuk melaksanakan shalat sampai ia merasa senang mengerjakan ibadah dan merasa bersalah jika ia meningalkannya. Pengajaran Al-Qur’an, menurut Al-Qabisiy, adalah suatu ilmu yang kekal yang harus dimiliki oleh anak-anak dan itulah kejayaan yang paling abadi jika anak memperolehnya.[27] Pernyataan Al-Qabisiy di atas dapat dipahami bahwa kalau anak-anak menghafal Al-Qur’an dan memahami maksudnya, maka  itu kelak akan menjadi inspirasi berharga untuk mengembangkan sejumlah ilmu pengetahuan  islami yang dikuasainya dan tidak akan melenceng dari tujuan-tujuan Islam. Anak dapat saja menekuni matiq, filsafat, Ilmu Pengetahuan Alam, matemateka dan lain-lain sebagainya sementara ia memilki asas Al-Qur’an yang kuat. Maka bidang apa saja yang dikembangkannya kelak ia selalu berlandaskan  pada asas yang kuat yaitu dengan berorientasi pada ayat-ayat Al-Qur’an.

Menyangkut dengan pendidikan akhlak, Al-Qabisiy  meminta para pendidik agar berpegang pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang  didasarkan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.  Ia berkata: ”siapa yang mengajar anaknya dan memperbagus pengajarannya dan siapa saja yang mendidik anaknya  serta memperbagus pendidikannya, orang tersebut telah berbuat baik kepada anaknya dan akan mendapat fahala di sisi Allah”. Al-Qabisiy menyatakan bahwa antara pendidikan dengan pengajaran saling mengisi. Akhlak mesti dibina oleh keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat umum. Kalau anak menyimpang ataupun melakukan hal-hal yang buruk, itu lebih  disebabkan oleh keluarga yang tidak melaksanakan kewajiban mereka. Anak-anak yang telah  menyimpang dari prilaku agama  perlu diberikan hukuman serta mendidik ke arah yang benar.[28]

Ketika membahas isi sebuah kurikulum pendidikan, Al-Qabisi  mengklasifikasi pengajaran ke dalam dua  bagian besar yaitu ilmu-ilmu asasi/wajib (ijbari) dan ilmu-ilmu yang bukan asasi/tidak wajib (ikhtiyariy). Ilmu-ilmu tersebut meliputi  ilmu-ilmu  berikut:[29]

1)    Al-Quran. Al-Qur’an merupakan mata pelajaran yang asasi dan wajib dipelajari oleh setiap anak pada setiap ma‘had. Al-Qur’an wajib diperhafalkan kepada anak-anak, karena Al-Qur’an merupakan modal dasar dalam upaya mengembangkan pengetahuannya di masa yang akan datang.

2).   Fiqih. Fiqih yang dimaksudkan oleh al-Qabisiy adalah dasar-dasar hukum Islam yang wajib diketahui oleh setiap anak agar ia dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya. Guru wajib membebankan kepada mereka  untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, demikian juga mengajarkan cara berwudluk yang benar. Selain itu perlu juga diberikan dasar-dasar tauhid kepada mereka agar mereka mengagumi Allah sebagai  Tuhan mereka.

3).   Akhlak. Akhlak sangat penting diberikan kepada anak-anak, karena sisi ini ada yang menyangkut dengan Allah sendiri dan ada juga terkait dengan sesama manusia. Anak-anak perlu ditanam dalam diri mereka sifat-sifat yang baik sejak dini dan  diarahkan tingkah laku mereka pada jalan yang benar.

4).  Khat, Mengheja dan Membaca. Anak-anak sangat perlu mempelajari khat serta dapat mengheja dan membaca Al-Qur’an. Hal ini penting sekali dalam pengajaran Al-Qur’an. Guru, menurut Al-Qabisiy, wajib menuntun anak-anak pada dasar-dasar cara membaca Al-Qur’an sesuai dengan cara bacaan yang benar sampai mereka dapat membaca dengan bagus.

5).   Bahasa Arab.  Yang dimaksud dengan bahasa Arab  di sini adalah dasar-dasar ilmu nahwu, namun bukan pembahasannya yang mendetil. Tujuannya adalah agar anak-anak dapat membaca setiap teks dengan benar dan dapat memahami kesalahan bacaan.

Sedangkan ilmu-ilmu yang tidak termasuk dalam katagori asasi (ikhtiyariy), sebagai berikut: [30]

1)        Ilmu Hisab (berhitung). Al-Qabisiy tidak menuntut pada guru untuk mengajar mata pelajaran ini sebagai mata pelajaran yang wajib, tapi guru boleh  memberi pelajaran ini sebagai pilihan pada murid-muridnya. Ia  mengaitkan urgensi pelajaran ini dengan tujuan keagamaan, karena mempelajarinya akan membantu untuk memahami ilmu faraidl (pembagian pusaka). Nampaknya, Al-Qabisiy menjadikan mata pelajaran ini diberikan pada jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

2)        Sastra Arab. Kalau dasar-dasar bahasa Arab dianggap asas, tapi  mengkaji sastra  adalah ilmu yang bukan asasi lagi. Mempelajari syair, prosa dan pidato tokoh-tokoh Arab  merupakan  mata pelajaran pilihan. Menghafal syair-syair dapat membantu anak-anak untuk memngembangkan kemampuan bahasanya dan dapat berbicara dengan bahasa yang santun. Faedah lain dari syair adalah menjadi hiburan pada waktu-waktu sengggang.

3)         Sejarah. Sejarah bukan materi pelajaran yang asasi menurut Al-Qabisiy, tapi pelajaran sejarah  dapat melatih anak-anak untuk bertingkah laku yang baik dan berperilaku mulia. Sejarah orang-orang yang baik sangat berguna bagi anak-anak untuk menjadi pedoman hidup bagi mereka. Jadi pelajaran sejarah, menurut Al-Qabisiy lebih ditekankan pada agar anak-anak bercermin pada perbuatan-perbuatan yang baik.

Sedangkan Rasyid Ridha lebih menekankan kurikulum pada aspek muatan kurikulum ilmu agama dan umum, sebagaimana ia terapkan di Madrasah al-Dakwah wa al-Irsyad. Implementasi dari kurikukum yang ia terapkan di Madrasah tampaknya memilah antara ruang ilmu peribadatan yang wajib dilakukan pada setiap pelajar. Dalam hal ini aspek pertama, masalah materi Alquran dan Hadis harus diajarkan dan diimpelementasikan secara asasi kepada lingkup lembaga pendidikan, tanpa ditolerir lagi meskipun situasi masyarakat terus berubah dan berkembang. Sementara aspek  kedua, yakni aspek mu’amalah (yang berhubungan dengan manusia), seperti ilmu-ilmu yang berhubungan dengan keadilan, persamaan, politik, ilmu alam, dan lain-lain, diserahkan kepada komponen pelaksana/pengelola dan penanggungjawab pendidikan untuk menentukan potensi dan kondisi yang dihadapi peserta didik, selama tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.[31]

Penekakan Rasyid Ridha terhadap kurikulum Qur’any, dengan alasan bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang telah diwahyukan-Nya kepada nabi Muhammad bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an merupakan petunjuk yang lengkap, pedoman bagi manusia yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang bersifat universal. Keuniversalan ajarannya mencakup ilmu pengetahuan yang tinggi sekaligus merupakan mulia yang esensinya tidak dapat dimengerti, kecuali bagi orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas.[32] Al-Qur’an merupakan sumber pendidikan yang terlengkap, baik itu pendidikan kemasyarakatan (sosial), moral (akhlak), maupun spiritual (kerohanian), serta material(kejasmanian) dan alam semesta. Al-Qur’an merupakan sumber nilai yang absolut dan utuh. Eksistensinya yang tidak pernah mengalami perubahan. Kemungkinan terjadi perubahan hanya sebatas interpretasi manusia terhadap teks ayat yang menghendaki kedinamisan pemaknaannya, sesuia dengan konteks zaman, situasi, kondisi, dan kemampuan manusia dalam melakukan interpretasi. Ia merupakan pedoman normatif teoritis bagi pelaksanaan pendidikan Islam yang memerlukan penafsiran lebih lanjut bagi operasional pendidikan Islam.

Menurut Rasyid Ridha, bahwa cakupan materi kurikulum mencakup seluruh dimensi manusia dan mampu menyentuh seluruh potensi manusia, baik itu motivasi untuk mempergunakan pancaindra dalam menafsirkan alam semesta bagi kepentingan formulasi lanjut pendidikan manusia (pendidikan Islam), motivasi agar manusia mempergunakan akalnya, lewat tamsilan-tamsilan Allah SWT. Al-Qur’an, maupun motivasi agar manusia mempergunakan hatinya untuk mentransfer nilai-nilai pendidikan Ilahiah, dan lain sebagainya. Semua proses ini merupakan sistem umum pendidikan yang ditawarkan Al-Qur’an, agar manusia dapat menarik kesimpulan dan melaksanakan semua petunjuk tesebut dalam kehidupannya.

  1. III. KESIMPULAN

Menyimak beberapa uraian bahasan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan, sebagai berikut:

  1. Abu Al-Hasan Muhammad  bin Khalaf Al-Ma‘arifi Al-Qairawaniy, (dikenal Al-Qabisiy), lahir di Kota Qairawan Tunisia  pada 324 H/935 M, dan wafat 403 H/1012 M. Merupakan pemikir pendidikan Islam di samannya yang berpengaruh dalam dunia Islam. Konsep pemikiran tujuan pendidikannya Al-Qabisy secara umum, yaitu: (1) mengembangkan kekuatan akhlak anak, (2) menumbuhkan rasa cinta agama, (3) berpegang teguh terhadap ajarannya, (4) mengembangkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang murni, dan (5) anak dapat memiliki keterampilan dan keahlian pragmatis yang dapat mendukung kemampuan mencari nafqah.
  2. Sayyid Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha’uddin al-Qalmuny al-Husaini (dikenal Muhammad Rasyid Ridha), Lahir di Qalamun Tripoli, Libanon, 1282 H/1865 M.,  wafat tahun 1935 M. Dalam dunai pemikiran Pendidikan Islam, menganggap bahwa kemajuan umat Islam terletak pada Pendidikan, sehingga Ia menghimbau dan mendorong umat Islam untuk menggunakan kekayaan dan wewenangnya bagi pembangunan lembaga-lembaga pendidikan.
  3. Koedukasi berarti “co educational class” yang berarti percampuran antara laki-laki dan perempuan dalam suatu kelas, sistem pendidikan yang dilakukan melalui proses belajar mengajar yang menggambungkan pria dan wanita dalam suatu ruangan (kelas), atau sering pula dikenal dengan pendidikan campuran. Sedangkan kurikulum pendidikan Islam merupakan bagian integral yang sangat vital dalam capaian hasil atau tujuan pendidikan. Kemudian menghasilkan mutu pendidikan, yang lebih konfrehensif dan paripurna sebagai wujud penghambaan kepada Sang Pencipta dan Pemelihara terhadap keutuhan alam-ilmiyah.
  4. Penerapan sistem koedukasi dalam pendidikan Islam bagi Al-Qabisy bahwa   tidak baik anak pria dan wanita bercampur dalam suatu kelas, karena dikhawatirkan rusak moralnya, maka pemisahan tempat pendidikan wajib dilakukan demi terjaga keselamatan anak-anak dari  penyimpangan-penyimpangan akhlak. Sedangkan Rasyid Ridha menolak adanya manfaat dari koedukasi, dan menganggap bahwa koedukasi bukan sekedar memiliki kekurangan, namun dapat mendatangkan malapetaka, utamanya kaum wanita.
  5. Al-Qabisy mengklasifikasi kurikulum pendidikan Islam ke dalam dua  bagian besar yaitu ilmu-ilmu asasi/wajib (ijbari) dan ilmu-ilmu yang bukan asasi/tidak wajib (ikhtiyariy). Sedangkan Rasyid Ridha lebih menekankan kurikulum pada aspek muatan kurikulum ilmu agama dan umum, Implementasi dari kurikukum yang ia terapkan di Madrasah tampaknya memilah antara ruang ilmu peribadatan yang wajib dilakukan pada setiap pelajar. Dalam hal ini aspek pertama, masalah materi Alquran dan Hadis harus diajarkan dan diimpelementasikan secara asasi kepada lingkup lembaga pendidikan. Sementara aspek kedua, yakni aspek mu’amalah, diserahkan kepada komponen pelaksana/pengelola dan penanggungjawab pendidikan yang dapat dikondisionalkan.

DAFTAR PUSTAKA

al- Abrasyi, Athiya, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1984.

al- Adawy, Ibrahim Ahmad. Rasyid Ridha al-Imamul Mujtahid, (Kairo: Al-Muassah al-Mishriyyah al-Ammah li al-Ta’lif wal Anfa’ wa al-Nasyr, t.th

al-Nu’my, Abdullah al-Amin. Kaedah dan Tekhnik Pengajaran Menurut Ibnu Khaldun dan Al-Qabisy. Jakarta: t.pt., 1995.

Amin, Qasim. Tahrir al-Mar’ah. Kairo: Dar al-Ma’arif al-Islamiyyah, t,th

Asmuni, Yusran. Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan pembaharuan dalam Dunia Islam. Jakarta: Raja Grapindo Persada, 1996.

Echols, John, M.M., An English- Indonesia Dictionary, diterjemahkan oleh Hasan Shadily dengan judul “Kamus Inggris-Indonesia”. Jakarta: Gramedia, 1988.

Jalaluddin, Psikologi Agama . Cet.I; Jakarta:  Grafindo Persada, 1996.

al- Jumbulati, Ali. Dirasatun Muqaranatun fit Tarbiyyatil Islamiyyah, terj. M. Arifin, dengan judul Perbandingan Pendidikan Islam. Jakarta: Rineka Cipta, 1994.

Langgulung, Hasan. Pendidikan dan Peradaban Islam; Suatu Analisa Sosio-Psikologi, Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1985.

________, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial. Jakarta: Pustakan Husna, 2004.

Mappanganro, Implementasi Pendidikan Islam di Sekolah. Ujungpandang: Yayasan Ahkam, 1996.

Mursi, Muhammad Abdul Alim. Al-Targhib fi al-Ta’lim fi Alamil al-Islamy, diterjemahkan oleh Majid Khan dengan judul “Westernisasi dalam Pendidikan Islam”. Jakarta: Fikahati Aneska, 1992.

Mushlich, Mashur. Seri Standar Nasional Pendidikan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan) Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Nahdlawi, Abdurrahman. Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha fi al-Bayt wa al-Madrasah wa al-Mujtama’ diterjemahkan oleh Shibabuddin dengan judul Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat. Cet. II; Jakarta: Gema Insani Press, 1995.

Nata, Abuddin. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2003

Ridha, Muhammad Rasyid. Tafsir al-Manar, Mesir, Dar al-Manar, IV/1373, Juz I.

________,. Al-Jam’u baina al-Mas’alat al-Zukuran wa al-Madaris. Al-Manar XXX No.2, 1348 H/1929 M.

Tafisr, Ahmad. “Perkembangan Sisteim Pendidikan Islam”, Dinamika, 8. Edisi Mei-Juni 1998

Tirtaraharja, Umar. Optinialisasi Sumber Daya Manusia dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan, “Makalah” disampaikan dalam (IMDI). Parepare: t.p., 1993.

Webster, Noah. Webster New Twentieth Century Dictionary of The English Language. US of America: Williams Collins Publisher, 1972.

 

KONSEP PENDIDIKAN AL-QABISI DAN M. RASYID RIDHA:

KOEDUKASI DAN KURIKULUM

Makalah

Dalam Matakuliah Studi Pemikiran Pendidikan Islam

Program Doktor (S3) UIN Alauddin

Makassar

Oleh :

MUH. DAHLAN THALIB

Dosen/ Pemandu :

PROGRAM DOKTOR (S3)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

ALAUDDIN MAKASSAR

2009/2010

 

 

 


[1]Pendidikan Islam mencakup kehidupan manusia seutuhnya, memperhatikan segi akidah, ibadah, serta akhlak, bahkan pendidikan dapat bermakna merubah dan memindahkan nilai kebudayaan kepada masayarakat dan individu. Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam; Suatu Analisa Sosio-Psikologi, (Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1985,), h. 3. Lihat juga Mappanganro, Implementasi Pendidikan Islam di Sekolah (Ujungpandang: Yayasan Ahkan, 1996), h. 10.

[2]Jalaluddin, Psikologi Agama (Cet.I; Jakarta:  Grafindo Persada, 1996), h. 206. Pengaruh pembentukan jiwa keagamaan dan perilaku keberagamaan pada lembaga pendidikan, khususnya pada lembaga pendidikan formal banyak tergantung dari bagaimana karakteristik pendidikan agama yang diterapkan. Sekolah atau madrasah dalam perspektif Islam, berfungsi sebagai media realisasi pendidikan berdasarkan tujuan pemikiran, aqidah dan syariah dalam upaya penghambaan diri terhadap Allah dan mentauhidkan-Nya sehingga manusia terhindar dari penyimpangan fitrahnya. Abdurrahman al-Nahdlawi, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha fi al-Bayt wa al-Madrasah wa al-Mujtama’ diterjemahkan oleh Shibabuddin dengan judul Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat (Cet. II; Jakarta: Gema Insani Press, 1995), h. 152.

[3] Ali al-Jumbulati, Dirasatun Muqaranatun fit Tarbiyyatil Islamiyyah, terj. M. Arifin, dengan judul Perbandingan Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 76. Menurut data yang ada, bahwa ia lahir pada bulan Rajab, 224 M (13 Mei 936 M), dan wafat di negeri asalnya pada tanggal 3 R. Awal 403 H (23 Oktober 1012 M).

[4] Abdullah al-Amin al-Nu’my, Kaedah dan Tekhnik Pengajaran Menurut Ibnu Khaldun dan Al-Qabisy, (Jakarta: t.pt., 1995), h.184

[5] Ibid, h. 186-187, lihat juaga pada Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2003), h. 25-26.

[6] Al-Nu’my, op.cit., h.185

[7] Selain dikenal sebagai pemikir dalam bidang pendidikan, ia pun dikenal sebagai ulama hadis dan fiqih yang terkemuka di samannya, bahkan dalam bidang hadis sebagai ulama terkemuka dalam menghafal hadis dan alim dalam sanad dan matan. Abuddin Nata, loc.cit.

[8] Setelah wafat Ibnu Syilun, mufti negeri Tunis, ia terpaksa mengisi jabatan yang kosong ini karena dialah yang pantas mengisinya. Keluasan ilmunya pernah dipuji oleh Ibnu Syilun di hadapan orang banyak: bukalah pintu fatwa kepadanya, karena ia termasuk orang yang wajib memberi fatwa. Ia lebih berilmu dari orang lain yang ada di Qairawan, maka setelah wafatnya, ia menerima jabatan tersebut.Ibid.

[9] Ali al-Jumbulati,

[10] Abudin Nata, op.cit., h. 30

[11] Ibrahim Ahmad al-Adawy, Rasyid Ridha al-Imamul Mujtahid, (Kairo: Al-Muassah al-Mishriyyah al-Ammah li al-Ta’lif wal Anfa’ wa al-Nasyr, t.th), h. 19.

[12] Ibid, h. 30. Selain menekuni aktifitas di sekolahnya, Ia pun mengikuti perkembangan dunia Islam melalui surat kabat “Al’Urwatul al-Wushqa’” yang dikelola oleh Jamaluddin al-Afghani (pembaharu dari Afghanistan) dan Muhammad Abduh (pembaharu dari Mesir). Dari kedua tokoh pemikir dan pembaharu inilah yang banyak menggerakkan akal dan pikirannya untuk bergambung dan berguru kepadanya.

[13] Adapun karya-karyan yang dihasilka Rasyid Ridha, antara lain: Tarik al-Uastadz al-Imam asy-Skeh Muhammad Abduh (Sejarah Hidup Imam Syekh Muhammad Abduh), Nida’ li al_jins al-Latif (Panggilan terhadap Kaum Wanita), Al-Wahy Muhammad (Wahyu kepada Muhammad SAW.), Munawarah al-Mushlih wa al-Muqallid (Dialog antara kaum pembaharu dan konservatif), dan Huquq al-Mar’ah al-Shalihah (hak-hak wanita muslim). Lihat Al-dawy, Ibid.

[14] Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan pembaharuan dalam Dunia Islam, (Jakarta: Raja Grapindo Persada, 1996), h. 85.

[15] Menurut Echols, koedukasi berasal dari kata co-operate yang berarti kerjasama, dan kata educational bermakna pendidikan. Lihat John, M.M. Echols, An English- Indonesia Dictionary, diterjemahkan oleh Hasan Shadily dengan judul “Kamus Inggris-Indonesia” (Jakarta: Gramedia, 1988), h. 147.

[16] Noah Webster, Webster New Twentieth Century Dictionary of The English Language, (US of America: Williams Collins Publisher, 1972), h. 345 & 576.

[17] Ali Al-Jumbulati, op. cit., h. 94.

[18] Koedukasi ini berlangusng pada masa Pemerintahan Muhammad Ali di Mesir, yang mana banyak mengirim pelajar Mesir ke Perancis dan banyak mendatangkan tenaga pendidik dari luar, sehingga pemikkiran mereka tentang kemajuan Eropa saat itu banyak mempengaruhi kondisi pendidikan Mesir dan dunia Islam pada umumnya. Muhammad Abdul Alim Mursi, Al-Targhib fi al-Ta’lim fi Alamil al-Islamy, diterjemahkan oleh Majid Khan dengan judul “Westernisasi dalam Pendidikan Islam” (Jakarta:Fikahati Aneska, 1992), h.108.

[19] Al-Nu’my, op.cit., h. 216.

[20] Pandangan serupa muncul dari Sachnun dan Abd. Alim Mursi yang menyolong pandangan al-Qabisy. Sachnun menyatakan bahwa guru yang paling tidak disukai adalah guru yang mengajar anak-anak wanita remaja kemudian dicampurkan dengan anak-anak pria remaja, maka akan mengakibatkan kerusakan fatal, terutama bagi wanita remaja. Demikian halnya Mursi, mengatakan bahwa menuntut ilmu pengetahuan merupakan hak bagi setiap wanita, namun tempat belajarnya harus terpisah karena mudharatnya lebih besar dibandingkan dengan manfaatnya. Ali Al-Jumbulati, lo.cit.

[21] Rasyid Ridha, Al-Jam’u baina al_Mas’alat al-Zukuran wa al-Madaris, (Al-Manar XXX No.2, 1348 H/1929 M.), h. 122.

[22] Qasim Amin, Tahrir al-Mar’ah, (Kairo: Dar al-Ma’arif al-Islamiyyah, t,th), h.41.

[23] Mengenai tujuan pendidikan kita tak dapat menarik satu kesimpulan saja. Sebab tujuan pendidikan yang secara umum di tentukan oleh zaman dan kebudayaan di tempat kita hidup dan ditentukan oleh pandangan hidup. Karena pandangan hidup manusia itu berlain-lainan, berbeda-beda pula apa yang hendak dituju berbeda-beda pula. Menurut al-Abrasyi menghendaki tujuan pendidikan haruslah orang yang berakhlak mulia menurut Munir Marsyi berpendapat bahwa tujuan pendidikan ialah manusia sempurna. Abdul Fattah Jalal berpendapat bahwa tujuan pendidikan ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah.  Ahmad Tafisr, “Perkembangan Sisteim Pendidikan Islam”, Dinamika, 8 (Edisi Mei-Juni 1998), h. 20.

[24] Umar Tirtaraharja dalam sebuah analisisnya menguraikan bahwa hal yang dapat dijadikan sebagai standar penilaian sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas adalah terletak pada hasil dan prosesnya. Dari segi hasilnya, paling tidak manusia output pendidikan harus cerdas otaknya (head), kuat, otot dan terampil tangannya (hand) serta mulia hatinya (heath). Sedangkan dari segi prosesnya adalah kemampuan sebuah lembaga pendidikan menghadapi masalah yang berkaitan dengan partisipasi, efisiensi, efektifitas dan relefansi pendidikan. Umar Tirtaraharja, Optinialisasi Sumber Daya Manusia dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan, “Makalah” disampaikan dalam Seminar Ikatan Mahasiswa DDI (IMDI),  (Parepare: t.p., 1993.), h. 3‑4.

[25] Dari definsi di atas, disimpulkan bahwa kurikulum itu mempunyai empat unsur atau aspek utama: (1) Tujuan dan obyektif yang ingin dicapai oleh pendidikan, (2) Pengetahuan dan informasi, data, aktivitas, dan pengalaman yang membentuk kurikulum itu, (3) Metode atau cara mengajar yang digunakan oleh guru untuk mengajarkan dan mendorong murid belajar dan membawa mereka ke arah yang dikehendaki oleh kurikulum, dan (4) Metode dan cara penilaian yang digunakan dalam mengukur dan menilai kurikulun serta hasil pembelajaran pendidikan yang dirancang dalam kurikulum, seperti ujian catur wulan. Hasan Langgulung, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial, h. 241.

[26] Ibid, h. 36. Sedangkan dalam Undang-Undang RI., Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidika Nasional Pasal 1 ayat 19, disebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lihat Mashur Mushlich, Seri Standar Nasional Pendidikan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan) Dasar Pemahaman dan Pengembangan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 1

[27] Al-Nu’my, op.cit. h. 202-204

[28] Ibid., h. 203-205

[29] Ibid, h. 230-236

[30] Ibid, h. 236-242

[31] Al-Adlawy, op.cit., 25-26. Lihat pula Rasyid Ridhah, op.cit., h. 139-140.

[32] Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Mesir, Dar al-Manar, IV/1373, Juz I, h. 262.

Oleh: muhdahlan | 20 November 2010

SAMPUL MAKALAH

TAKDIR DAN SUNNATULLAH

(Suatu Kajian Tafsir Maudhu’í)

 

 

 

 

MAKALAH REVISI

Mata Kuliah Tafsir Maudhu’i

Program Doktor (S3)

UIN Alauddin

Makassar

 

 

 

Oleh:

 

MUH. DAHLAN THALIB

 

 

 

 

Dosen / Pemandu:

 

Prof Dr. H. M. Ghalib M, MA

Dr. H. Mustamin Arsyad, MA

PROGRAM DOKTOR (S3)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

(UIN) MAKASSAR

TAHUN 2009/2010

PENDIDIKAN ISLAM

DI ANDALUSIA DAN SISILIA

 

 

 

 

MAKALAH REVISI

Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam

Program Doktor (S3)

UIN Alauddin

Makassar

 

 

 

Oleh:

 

MUH. DAHLAN THALIB

 

 

 

 

Dosen / Pemandu:

 

Prof Dr. H. Mappanganro, MA

Prof. Dr. H. Abd. Rahman Halim, M.Ag

PROGRAM DOKTOR (S3)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

(UIN) MAKASSAR

TAHUN 2009/2010

HADIS TENTANG PENDIDIKAN

(Suatu Kajian Hadis Mawdhu’i)

 

 

 

MAKALAH REVISI

Mata Kuliah Hadis Maudhu’i

Program Doktor (S3)

UIN Alauddin

Makassar

 

 

 

Oleh:

 

MUH. DAHLAN THALIB

 

 

 

 

Dosen / Pemandu:

 

Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah

Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, MA

PROGRAM DOKTOR (S3)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

(UIN) MAKASSAR

TAHUN 2009/2010

PERKEMBANGAN ISLAM  DI MALAYSIA

 

 

 

 

MAKALAH REVISI

Mata Kuliah Sejarah Dunia Islam Modern

Program Doktor (S3)

UIN Alauddin

Makassar

 

 

 

Oleh:

 

MUH. DAHLAN THALIB

 

 

 

 

Dosen / Pemandu:

 

Prof Dr. H. Ahmad Sewang, MA

Prof. Dr. H. Saleh Putuhena, MA

PROGRAM DOKTOR (S3)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

(UIN) MAKASSAR

TAHUN 2009/2010

FILSAFAT ISLAM:

UNSUR-UNSUR HELLENISME DI DALAMNYA

 

 

 

 

MAKALAH REVISI

Mata Kuliah Studi Kritis Pemikiran Islam

Program Doktor (S3)

UIN Alauddin

Makassar

 

 

 

Oleh:

 

MUH. DAHLAN THALIB

 

 

 

 

Dosen / Pemandu:

 

Prof Dr. H. Moch. Qasim Mathar, MA

Dr. H. Kamaluddin Abu Nawas, MA

PROGRAM DOKTOR (S3)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

(UIN) MAKASSAR

TAHUN 2009/2010

NEGARA-NEGARA TIMUR TENGAH

 

 

 

 

 

MAKALAH

Dipresentasikan dalam Forum Diskusi

Mata Kuliah Sejarah Dunia Islam Modern

Program Doktor (S3)

UIN Alauddin

Makassar

 

 

 

Oleh:

 

MUH. DAHLAN THALIB

 

 

 

 

Dosen / Pemandu:

 

Prof Dr. H.Ahmad M Sewang, MA

Prof. Dr. H. Saleh Putuhena, MA

PROGRAM DOKTOR (S3)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

(UIN) MAKASSAR

TAHUN 2009

POLIGAMI

DALAM PERSPEKTIF HADIS MAUDHU’I

 

Makalah Mandiri

Diajukan sebagai tugas Pelengkap Ujian Tulis

Semester Ganjil, Mata Kuliah Hadis Maudhu’i

PPS UIN Alauddin Makassar

 

 

 

Oleh :

Mukhtar Lutfi

NIM. 80100307010

 

 

 

 

Dosen/Pemandu :

Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah
H. Zulfahmi Alwi, M.Ag.,Ph.D

 

PASCASARJANA UIN ALAUDDIN

PROGRAM DOKTOR (S3)

MAKASSAR

2008

 

TAKDIR DAN SUNNATULLAH

(Suatu Kajian Tafsir Maudhu’íy)

 

 

 

 

MAKALAH

Dipresentasikan dalam Forum Diskusi

Mata Kuliah Tafsir Maudhu’iy

Program Doktor (S3)

UIN Alauddin

Makassar

 

 

 

Oleh:

 

MUH. DAHLAN THALIB

 

 

 

 

Dosen / Pemandu:

 

Prof Dr. H. M. Ghalib M, MA

Dr. H. Mustamin Arsyad, MA

PROGRAM DOKTOR (S3)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

(UIN) MAKASSAR

TAHUN 2009

PENDIDIKAN ISLAN DI ANDALUSIA DAN SISILIA

 

 

 

 

MAKALAH

Dipresentasikan dalam Forum Diskusi

Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam

Program Doktor (S3)

UIN Alauddin

Makassar

 

 

 

Oleh:

 

MUH. DAHLAN THALIB

 

 

 

 

Dosen / Pemandu:

 

Prof Dr. H. Mappanganro, MA

Prof. Dr. H. Abd. Rahman Halim, M.Ag

PROGRAM DOKTOR (S3)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

(UIN) MAKASSAR

TAHUN 2009

FILSAFAT ISLAM

UNSUR-UNSUR HELLENISME DI DALAMNYA

 

 

 

 

MAKALAH

Dipresentasikan dalam Forum Diskusi

Mata Kuliah Studi Kritis Pemikiran Islam

Program Doktor (S3)

UIN Alauddin

Makassar

 

 

 

Oleh:

 

MUH. DAHLAN THALIB

 

 

 

 

Dosen / Pemandu:

 

Prof Dr. H. Moch. Qasim Mathar, MA

Dr. H. Kamaluddin Abu Nawas, MA

PROGRAM DOKTOR (S3)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

(UIN) MAKASSAR

TAHUN 2009

NEGARA-NEGARA TIMUR TENGAH

 

 

 

 

 

MAKALAH

Dipresentasikan dalam Forum Diskusi

Mata Kuliah Sejarah Dunia Islam Modern

Program Doktor (S3)

UIN Alauddin

Makassar

 

 

 

Oleh:

 

MUH. DAHLAN THALIB

 

 

 

 

Dosen / Pemandu:

 

Prof Dr. H.Ahmad M Sewang, MA

Prof. Dr. H. Saleh Putuhena, MA

PROGRAM DOKTOR (S3)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

(UIN) MAKASSAR

TAHUN 2009

POLIGAMI

DALAM PERSPEKTIF HADIS MAUDHU’I

 

Makalah Mandiri

Diajukan sebagai tugas Pelengkap Ujian Tulis

Semester Ganjil, Mata Kuliah Hadis Maudhu’i

PPS UIN Alauddin Makassar

 

 

 

Oleh :

Mukhtar Lutfi

NIM. 80100307010

 

 

 

 

Dosen/Pemandu :

Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah
H. Zulfahmi Alwi, M.Ag.,Ph.D

 

PASCASARJANA UIN ALAUDDIN

PROGRAM DOKTOR (S3)

MAKASSAR

2008

 

Oleh: muhdahlan | 20 November 2010

PERSURATAN



TATA PERSURATAN DINAS

DI LINGKUNGAN SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(STAIN) PAREPARE

LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN KETUA STAIN PAREPARE

NOMOR :              TAHUN 2008

TENTANG

TATA PERSURATAN DINAS STAIN PAREPARE

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Tata persuratan dinas Sekolah Tinggi Agama Islam Negrti (STAIN) Parepare mengatur tata cara persuratan surat sebagai sarana komunikasi kedinasan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. pengurusan surat dan penataan surat merupakan  bagian kearsipan, sehingga ketertiban administrasi yang efektif dan berhasil guna.

  1. B. Maksud dan Tujuan.

1.   Maksud

Tata persuratan ini dimaksudkan sebagai pedoman dalam pembuatan surat dinas agar dapat diselaraskan dengan tata kearsipan di STAIN Parpare

2.   Tujuan

a.   Mewujudkan pedoman dalam pembuatan surat dinas.

b.   Teciptanya kelancaran komunikasi koresponden kedinasan dan kemudahan dalam pengendalian pelaksanaanya.

c.   Memperoleh keseragaman dalam menyelenggarakan surat menyurat di STAIN Parepare baik dari pola, bentuk dan tindakan dalam kegiatan.

d.   Mewujudkan tata kearsipan yang semakin berdaya guna dan berhasil guna.

  1. C. Asas-Asas Tata Persuratan
  1. 1. Asas keamanan, semua surat dinas harus tertutup, sehingga kerahasiaan isinya tetap terjaga, oleh karena semua pejabat dan pengelola surat tidak dibenarkan memberikan informasi tentang isi surat kepada yang tidak berkepentingan baik secara tertulis maupun secara lisan.
  1. 2. Asas pertanggungjawaban, surat dinas hendaknya dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi isi, format maupun prosedurnya.
  1. 3. Asas keterkaitan, pada dasarnya surat dinas memiliki keterkaitan administrasi perkantoran, sehingga seluruh kegiatan tata persuratan merupakan bagian integral dari tatalaksana kearsipan instansi, satuan organisai atau satuan kerja yang bersangkutan.
  1. 4. Asas pelayanan prima, semua persuratan harus dapat diselesaikan dengan cepat, jelas, aman, ekonomis, tidak berbeli-belit dan tepat waktu guna mendukung kelancaran penyelenggaraan tugas dan fungsi satuan organisasi, satuan kerja dan atau semua kegiatan tata persuratan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
  1. D. Pengertian Umum.

  1. 1. Surat adalah pernyataan tertulis dalam segala bentuk dan corak yang digunakan sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan informasi dari satu pihak kepada pihak lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk surat produk teknologi maju.
  1. 2. Jenis surat adalah macam surat yang dibedakan atas dasar isi dan redaksi.
  1. 3. Sifat urat adalah tingkatan pentingnya surat dilihat dari berbagai aspek.
  1. 4. Format surat adalah susunan dan bentuk surat yang menggambarkan redaksional, tata letak dan penggunaan lambang negara, logo dan cap dinas.
  1. 5. Laporan adalah jenis surat yang berisi uraian tertulis yang bersifat resmi tentang keadaan, peristiwa atau pengalaman dalam rangka pelaksanaan tugas kedinasan.
  1. 6. Surat statuter adalah jenis surat berbentuk peraturan perundang-undangan yang isinya bersifat mengatur atau menetapkan yang mengikat dan wajib dilaksanakan oleh pihak-pihak yang tekait.
  1. 7. Surat non statuter adalah pernyataan tertulis yang tidak bersifat pengaturan.
  1. 8. Formulir adalah lembaran yang memiiki desain khusus untuk memuat data kedinasan dalam tugas tertentu dibuat dalam bentuk kartu atau lembaran tercetak yang telah ditetapkan dan mempunyai kolom-kolom/lajur-lajur dengan judul tertentu.
  1. 9. Kewenangan penandatanganan surat adalah kewenangan seorang pejabat untuk menandatangani surat yang melekat pada jabatan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab.

10. Arsip adalah naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh lembaga-lembaga negara dan badan-badan pemerintahan dalam bentuk corak apapun baik dalam keadaan tunggal maupun berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintahan.

11. Lambang negara adalah simbol negara yang dituangkan dalam gambar burung garuda sesuai dengan  peraturan perundang-undangan yang berlaku.

12. Lambang /logo adalah gambar/huruf sebagai identitas satuan organisasi/kerja pusat dan daerah.

13. Kode indeks surat dinas adalah tanda pengenal surat dari satuan kerja/organisasi.

14. Kode klasifikasi adalah bagian dari klasifikasi,  tanda pengenal dari isi surat atau masalah dalam bentuk huruf dan angka.

  1. E. Ruang Lingkup

Pedoman tata pesuratan dinas STAIN Parepare ini mengatur seluruh komunikasi kedinasan yang berbentuk surat meliputi kepala surat, isi surat dan kaki surat, amplop surat, cara pembuatan surat, cap dinas, wewenang penandatanganan surat, jalur surat, pengurusan surat dan kode indeks baik statuter maupun non statuter bagi satuan kerja STAIN Parepare.


BAB II

PENGGOLONGAN DAN JENIS SURAT

  1. A. Penggolongan Surat

Surat dinas di lingkungan STAIN Parepare dapat digolongkan menjadi dua yaitu :

1.   Surat statuter adalah alat komunikasi tertulis yang sifatnya mengatur kebijakan suatu organisasi/satuan kerja organisasi (STAIN) Parepare, surat ini merupakan produk hukum di tingkat pimpinan satuan organisasi daerah (STAIN) Parepare, yang isinya bersifat mengatur, mengikat, dan wajib dilaksanakan oleh aparatur/unit yang terkait.

2.   Surat non stauter adalah alat komunikasi tertulis yang sifatnya tidak mengatur dalam pelaksanaan kebijakan satuan kerja (STAIN) Parepare.

  1. B. Jenis Surat

  1. 1. Surat Statuter, tediri dari :

  1. Keputusan Menteri Agama atas nama Ketua STAIN Parepare.
  2. Peraturan Ketua STAIN Parepare.
  3. Surat Keputusan Ketua STAIN Parepare.
  4. Instruksi Ketua STAIN Parepare.
  1. 2. Surat Non Statuter, terdiri dari :

  1. a. Surat Dinas adalah surat yang bersifat eksternal dan digunakan antara satuan organisasi yang berisi tentang pemberitahuan, pernyataan, anjuran, saran, permintaan, tanggapan dan jawaban atas pertanyaan/permintaan yang menyangkut kedinasan.

b. Nota Dinas adalah surat yang sifatnya internal yang isinya ringkas dan jelas yang digunakan antar pejabat dalam lingkungan satuan organisasi yang memuat pemberitahuan, tanggapan, minta penjelasan, penyampaian, penjelasan atau jawaban.

  1. c. Edaran adalah surat yang ditujukan kepada pejabat-pejabat tertentu yang isinya memberikan penjelasan atau petunjuk-petunjuk  dianggap perlu tentang hal-hal yang diatur dalam keputusan, peraturan atau instruksi.

d. Laporan adalah surat yang berisi pertanggungjawaban kepada atasan langsung tentang pelaksanaan tugas yang dibebankan kepada bawahan.

  1. e. Telegram adalah surat singkat dan padat yang perlu segera disampaikan untuk mendapatkan penyelesaian dengan cepat melalui kantor telegraf/radio.
  1. f. Surat Kawat adalah surat yang disusun dalam bentuk singkat yang disampaikan/diterima oleh/dari pihak lain untuk diselesaikan dengan cepat dan penyampaiannya melalui pos.

g. Memo adalah surat yang sifatnya informal/tidak resmi,  isinya ringkas, jelas yang digunakan antar pejabat dalam lingkungan satuan organisasi.

h. Pengumuman adalah surat yang berisi pemberitahuan tentang sesuatu hal yang ditujukan kepada para karyawan atau masyarakat umum.

  1. i. Undangan adalah surat yang isinya mengundang agar yang menerima datang tepat pada waktu yang telah ditentukan.
  1. j. Surat Pengantar adalah surat yang digunakan untuk mengantar/mengirim sesuatu hal baik berupa surat, barang dan lain-lain disertai penjelasan singkat.
  1. k. Telepon adalah informasi yang diterima melalui telepon dan dicatat menjadi surat untuk disampaikan kepada yang dituju.
  1. l. Teleks adalah informasi yang dikomunikasikan melalui pesawat telegraf dengan bahasa sandi yang pada dasarnya mempunyai ciri yang sama dengan telegram.

m. Faksimile (fax) adalah copy surat yang disampaikan dengan peralatan Faxmile dari jarak jauh.

n. Elektronik Mail (e-mail) adalah fasilitas pengiriman dan penerimaan surat elektronik yang dilengkapi dengan fasilitas copy carbon, sehingga memungkinkan mengirimkan isi surat yang sama kebeberapa alamat pemakai intenet.

  • o. www (World Wide Web) atau website adalah fasilitas tayangan informasi yang biasa disebut homepage yang juga memiliki alamat khusus berdasarkan nama kelompoknya (domain name).


BAB III

BAGIAN-BAGIAN SURAT

A.  Surat statuter :

1.   Keputusan Menteri Agama dan Ketua STAIN Parepare :

  1. Judul terdiri atas :

1)    Kalimat ”Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia dan Ketua STAIN Parepare”.

2)    Nomor (urut) dan tahun.

3)    Judul Keputusan (tentang).

  1. Pembukaan terdiri dari :

1)    Jabatan pembuat peraturan perundang-undangan ( kalimat ” Menteri Agama Republik Indonesia dan Ketua STAIN Parepare”).

2)    Konsideran (menimbang).

3)    Dasar hukum (mengingat).

4)    Memperhatikan (apabila perlu).

5)    Diktum (memutuskan, menetapkan, nama peraturan/keputusan).

  1. Batang tubuh, terdiri dari bab, Pasal dan ayat.
  1. Penutup, terdiri dari :

1)    Tempat penetapan.

2)    Tanggal, bulan dan tahun penetapan.

3)    Nama jabatan.

4)    Tanda tangan pejabat.

5)    Nama terang pejabat.

6)    Cap jabatan/cap dinas.

2. Instruksi Ketua STAIN Parepare

  1. Judul, terdiri atas :

1)    Kalimat ”Instruksi Ketua STAIN Parepare”.

2)    Nomor dan tahun.

3)   Nama instruksi.

  1. Pembukaan, terdiri atas :

1)    Kalimat ” Ketua STAIN Parepare”.

2)    Konsideran (menimbang).

3)    Dasar hukum ( mengingat).

4)    Memperhatikan (apabila perlu).

5)    Diktum (menginstruksikan).

  1. Batang Tubuh, terdiri dari (kepada untuk : pertama, kedua, dst).
  1. Penutup terdiri dari :

1)    Tempat penetapan

2)    Tanggal, bulan dan tahun penetapan

3)    Nama jabatan

4)    Tanda tangan pejabat

5)    Nama pejabat/pemangku jabatan

6)    Cap jabatan/cap dinas

B.  Surat non statuter.

1.   Kepala Surat, terdiri atas :

  1. Kop surat.
  2. Nomor, sifat, lampiran dan hal (ditulis sebelah kiri atas dibawah  logo STAIN Parepare).

1)    Penomoran surat dilengkapi dengan kode indeks, kode klasifikasi dan tahun (lihat bab lampiran) .

2)    Sifat surat ditulis di bawah nomor, dengan memperhatikan aspek keamanan dan legalitas, yang dibedakan sebagai berikut :

a)   Keaslian surat :

(1)         Asli.

(2)       Tembusan.

(3)     Salinan.

(4)   Petikan.

b)   Bobot informasi :

(1)     Surat penting.

(2)     Surat biasa.

c)   Pengamanan informasi :

(1)   Sangat rahasia.

(2)   Rahasia.

(3)   Terbatas.

(4)   Biasa.

3)    Lampiran ditulis di bawah sifat surat yang menerangkan jumlah lampiran surat.

4)    Hal ditulis di bawah lampiran yang menerangkan maksud/isi surat.

  1. Tempat, tanggal, bulan dan tahun ditulis sebelah kanan atas lurus nomor surat.
  1. Alamat surat.

2.   Isi surat diketik dibawah isi hal surat,  terdiri dari ;

  1. Pembukaan, disesuaikan kepada siapa surat akan dikirim.
  2. Isi pokok, menggambarkan maksud/informasi yang disampaikan secara singkat dan jelas.
    1. Penutup, kalimat penutup mengungkapkan kata-kata yang sopan dan tepat.

3.   Kaki surat diketik sebelah kanan bawah surat, terdiri dari :

  1. Nama jabatan.
  2. Tanda tangan.
  3. Nama pejabat.
  4. NIP.
  5. Cap jabatan/cap dinas.

B.  Penggunaan Lambang/Logo

  1. Untuk surat statuter yang ditandatangani oleh Ketua a.n Menteri Agama menggunakan Lambang Departemen Agama Republik Indonesia yang terletak tengah atas.
  1. Untuk surat dinas (non statuter) STAIN menggunakan logo STAIN Parepare yang terletak di sebelah kiri atas dengan tulisan ”Departemen Agama tanpa RI yang di bawahnya nama dan alamat STAIN Parepare”.

BAB IV

PROSES DAN CARA PEMBUATAN SURAT

A.  Proses dan Cara Pembuatan Surat Statuter

1.   Penyiapan Konsep

  1. Penulisan konsep dapat dilakukan oleh pejabat sendiri atau pegawai pada sub bagian umum.
  2. Untuk tidak menimbulkan keragu-raguan, penulisan hendaknya dilakukan dengan setepat-tepatnya dengan persyaratan bersifat dinas, jelas maksud dan tujuan serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik.

2.   Pengajuan Konsep

  1. Konsep yang dipersiapkan oleh pejabat sendiri dapat langsung diproses dan diteruskan kepada sub bagian umum.
  2. Konsep yang dipersiapkan oleh pegawai pada dub bagian umum sebelum diparaf oleh Kepala Bagian Administrasi diteliti oleh atasan pegawai yang bersangkutan.
  3. Jika materi surat menyangkut lebih dari satu unit kerja, konsep terlebih dahulu diedarkan dan dibahas dengan pejabat/uni kerja tekait.
  4. Konsep diajukan kepada pejabat yang bertanggungjawab di bidang pembinaan administrasi yaitu Kepala Bagian Administrasi untuk diteliti dan diparaf sebagai pertanggungjawaban.
  5. Surat asli yang ditandatangani berikut konsepnya wajib disimpan oleh unit yang menangani tugas dan fungsi bidang persuratan yaitu sub bagian umum

3.    Penomoran Surat

  1. Pemberian nomor surat dilaksanakan setelah surat ditandatangani oleh Ketua STAIN Parepare untuk menjaga agar tanggal dan pemberlakuan surat tidak ada selisih waktu yang terlalu lama.
  2. Pemberian nomor dilakukan oleh sub bagian umum (tata usaha) pada STAIN Parepare

4.    Cara Pengetikan Surat Statuter.

a.   Kepala/Judul.

(1)    Judul peraturan perundang-undangan memuat keterangan  mengenai : jenis, nomor, tahun penetapan dan nama peraturan perundang-undangan.

(2)    Nama peraturan perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi peraturan perundang-undangan.

(3)    Penulisan judul diketik dengan huruf  kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

(4)    Pada peraturan perundang-undangan perubahan, ditambah dengan frase PERUBAHAN ATAS di depan nama peraturan dan apabila peraturan/keputusan diubah lebih dari 1 (satu) kali diantara kata PERUBAHAN dan kata ATAS disisipkan keterangan yang menunjukkan berapa kali perubahan telah dilakukan.

(5)    Pada judul peraturan perundang-undangan pencabutan disisipkan kata PENCABUTAN di depan peraturan perundang-undangan yang dicabut.

Contoh :

SURAT KEPUTUSAN KETUA STAIN PAREPARE

NOMOR 3 TAHUN 2006

TENTANG

SUSUNAN PANITIA UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL

SURAT KEPUTUSAN KETUA STAIN PAREPARE

NOMOR 234 TAHUN 2007

Jarak setiap baris 1 spasi

TENTANG

PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN

KETUA STAIN NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG

SUSUNAN PANITIA UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL

SURAT KEPUTUSAN KETUA STAIN PAREPARE

NOMOR 1 TAHUN 2008

TENTANG

PENCABUTAN KEPUTUSAN KETUA STAIN PAREPARE

NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG SUSUNAN PANITIA UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL

  1. b. Pembukaan

1)

Jarak setiap baris 2 spasi

Nama pejabat pembentuk peraturan perundang-undangn yaitu Ketua STAIN Parepare ditulis huruf  kapital yang diletakkan di tengah dan di akhiri dengan tanda baca koma (,). Sebagaimana contoh dibawah ini :

Jarak setiap baris 3 spasi

KETUA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAREPARE,

2)          Konsideran.

(a)    Konsideran diawali dengan kata Menimbang dan selanjutnya 5 ketukan diketik tanda titik dua (:).

(b)    Konsideran memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan peraturan perundang-undangan.

(c)    Jika konsideran memuat lebih dari satu pokok pikiran, tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian.

(d)    Setiap pokok pikiran diberi nomor dan diawali dengan huruf abjad dan dirumuskan dalam kalimat dimulai kata ”bahwa” dan diakhiri tanda baca titik koma (;).

(e)    Jika konsiderans memuat lebih dari satu pertimbangan, maka  berbunyi bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b diatas perlu menetapkan Keputusan Ketua STAIN Parepare

Contoh pengetikan :

Jarak setiap baris 3 spasi
Jarak setiap baris 1 spasi

Menimbang       : a.  Bahwa ………………………………

……………………………………….. ;

1,5 spasi
  1. Jarak setiap baris 1 spasi

    Bahwa ………………………………

……….. ……………………………..;

1,5 spasi
  1. Bahwa berdasarkan
Jarak setiap baris 1 spasi

Pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b di atas perlu menetapkan Keputusan Ketua STAIN  Parepare tentang TataPersuratan;

1,5 spasi
  1. c. Dasar Hukum.

1)       Dasar hukum diawali dengan kata ”Mengingat” diawali huruf kapital dan sesudah 5 ketukan / tab diketik tanda titik dua (:) yang diselaraskan titik dua di atasnya, selanjutnya diketik angka arab 1,2,3 dst. Untuk menulis peraturan perundang-undangan yang digunakan dengan huruf pertama setiap kata diketik huruf kapital, dan setiap item diakhiri tanda baca titik koma (;).

2)       Memuat dasar peraturan perundang-undangan sebagai dasar hukum yang tingkatannya sama, lebih tinggi dan sesuai dengan permasalahannya.

3)       Jika dasar hukum lebih dari satu, urutan pencantumannya dari perundang-undangan tertinggi dan jika tingkatannya sama disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan dan penetapannya.

4)       Dasar hukum yang diambil dari pasal dalam UUD 45 ditulis dengan menyebutkan pasal atau ayat, sedangkan  dasar hukum dari undang-undang tidak perlu mencantumkan pasal, cukup nama judul peraturan perundang-undangan.

Cara pengetikannya  sebagaiman contoh dibawah ini :

Mengingat :
  1. Pasal 5 ayat (1) dan pasal 20 Undang
    1,5 spasi

    Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

  1. 1 spasi

    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 30 Tahun 2003 tentang Sisidiknas;

1,5 spasi
  1. 1, spasi

    Keputusan Menteri Agama Nomor 510 Tahun 2002 tentang Statuta STAIN Parepare;

1 spasi
1,5 spasi

5)      Sesudah kata “Memperhatikan” diketik titik dua (:) selaras dengan titik dua di atasnya setelah itu satu ketukan diketik apa yang menjadi perhatian dalam surat keputusan dimaksud yang diawali huruf besar pada kata pertama kemudian huruf kecil.

  1. d. Diktum/ISI

1)      Kata “MEMUTUSKAN” diketik dengan huruf besar (kapital) tanpa spasi diantara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua (:) dan diletakkan ditengah marjin (simetris kalimat sebelumnya).

Cara pengetikannya sebagaiman contoh dibawah ini :

2 spasi

MEMUTUSKAN :

2 spasi
1,5 spasi

2)           Kata “Menetapkan” diketik sejajar kata memperhatikan atau kata menimbang dan diberi tanda baca titik dua (:) selaras titik dua sebelumnya, sesudah itu diketik isi penetapan surat dimaksud dengan huruf besar semua yang diakhiri tanda baca titik satu (.).

Cara pengetikannya sebagaimana contoh dibawah ini :

Jarak setiap baris 1 spasi

Menetapkan :  KEPUTUSAN KETUA STAIN PAREPARE

TENTANG PEMBENTUKAN PANITIA

UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP

STAIN PAREPARE TAHUN 2007.

  1. e. Batang Tubuh

Rincian isi penetapan yakni Pertama, Kedua, Ketiga dan seterusnya diketik di bawah kata ”Penetapan” dan diberi tanda baca titik dua (:) selaras titik dua di atasnya. Selanjutnya mengetik dan memuat semua substansi peraturan perundangan yang dirumuskan dalam diktum atau pasal-pasal.

Cara pengetikannya sebagaiman contoh dibawah in :

1)      Dalam bentu diktum.

Pertama         : ……………………………….;

1, 5 spasi

Kedua                        : ……………………………….;

2)      Dalam bentuk pasal-pasal.

Cara pengetikannya sebagaiman contoh dibawah in :

1, spasi

BAB I

Judul bab

1, 5 spasi

Pasal 1

1,spasi

…………………………………………………

………………………………………………….

BAB II

Judul Bab

Pasal 2

(1). ……………………………………………;

a. ……………………………………; (dan atau)

b. ……………………………………; (dan atau)

1. ……………………………; (dan atau)

2. ……………………………; (dan atau)

  1. f. Penutup/Kaki Surat

1)         Kata ”Ditetapkan” di : Parepare (nama kota) diketik jarak 4 spasi dari kalimat baris terakhir, diketik sebelah kanan bawah dengan huruf awal besar (kapital) selanjutnya huruf kecil, sesudah kata ”di” diketik tanda baca titik dua (:) lalu diketik nama kota.

2)         Kata ”Pada Tanggal” diketik satu spasi dari kata ditetapkan dengan diketik lurus dengan huruf D pada kata ditetapkan, selanjutnya diketik titik dua (:) selaras titik dua diatasnya, sementara tanggal dan tahun diketik dengan huruf arab, nama bulan diketik dengan huruf awal kapital.

3)         Nama Jabatan (KETUA STAIN PAREPARE) diketik dengan jarak satu setengah spasi lurus dibawah kata ”pada tanggal” dan menggunakan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca koma (,), jika atas nama (A.N) diketik lurus dibawah huruf P dari kata pada.

4)         Nama Ketua (pejabat yang berhak menandatangani) diketik dengan jarak lima spasi lurus di bawah nama jabatan dengan huruf kapital. Dan di bawahnya satu spasi ditulis nomor induk pegawai (NIP).

5)         Dibubuhi cap jabatan/dinas.

6)         Kata Tembusan  diketik dengan huruf awal kapital tidak diberi garis bawah dan setelah satu ketukan diketik tanda baca titik dua (:), tidak boleh menggunakan kata Kepada Yang Terhormat, semua objek tembusan diketik nomor urut (angka arab) lurus dengan huruf T pada kata tembusan, urutan objek dari atas ke bawah dimulai dari pejabat yang tertinggi dan tidak perlu mencantumkan  sebagi laporan, arsip atau pertinggal.

Cara pengetikannya sebagaiman contoh dibawah in :

4, spasi
1, spasi

Ditetapkan di   : Parepare

Pada tanggal   : 01 Desember 2007

1,5, spasi

KETUA,

5, spasi

Tanda tangan dan cap jabatan

NAMA LENGKAP (hurup kapital)

NIP :

CONTOH PENGETIKAN SURAT STATUTER

SURAT KEPUTUSAN KETUA  STAIN  PAREPARE

NOMOR :      TAHUN 2007

TENTANG

PEMBENTUKAN PENGELOLA UNIT  SISTEM AKUNTANSI INSATANSI (SAI)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN ) PAREPARE

KETUA STAIN PAREPARE

Menimbang : a.   Bahwa dalam rangka menyusun laporan keuangan STAIN Parepare yang terdiri dari laporan realisasi anggaran, neraca dan catatan atas laporan keungan, maka dipandang perlu membentuk pengelola unit sistem akuntansi instansi. 

b.   Bahwa mereka yang tercantum namanya dalam lampiran surat keputusan ini, dianggap mampu, cakap serta memenuhi syarat untuk diserahkan tugas menyusun Laporan Keuangan STAIN Parerpare

Mengingat : 1.   Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003, Tentang keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 

2.   Peraturan Pemerintah, Nomor 24 Tahun 2005, Tentang Standar Akuntansi Pemerintah;

3.   Peraturan Menteri Keuangan RI, Nomor 59/PMK.06/2005, Tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat;

4.   Keputusan Menteri Agama RI, Nomor : 305 tahun 1997, Tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Parepare.

5.   Keputusan Menteri Agama RI, Nomor 510 Tahun 2002, Tentang Statuta Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Parepare;

6.   Keputusan Menteri Agama RI, Nomor 476 Tahun 2004, Tentang Pembentukan Unit Akuntansi Di Lingkungan Departemen Agama;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KETUA STAIN PAREPARE TENTANG PEMBENTUKAN PENGELOLA UNIT  SISTEM AKUNTANSI INSATANSI (SAI)SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN ) PAREPARE
Pertama : Mengangkat saudara sebagaimana yang tercantum dalam daftar lampiran Surat Keputusan ini, sebagai panitia  pengelola sistem akuntansi instansi  pada STAIN Parepare
Kedua : Tugas Pengelola adalah : 

a.     Mempersiapkan dan menyusun laporan realisasi keuangan, neraca dan catatan atas laporan keuangan sesuai sistem akuntansi instansi

b.    Menyampaikan hasil laporan keuangan kepada Ketua STAIN Parepare

c.     Menyampaikan laporan realisasi anggaran dan neraca beserta Arsip Data Komputer (ADK) setiap bulan ke KPPN Parepare dan Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (UAPPA-W), hal ini Kanwil Agama Provensi Sulawesi selatan

Ketiga : Segala pembiayaan yang dikeluarkan sebagai akibat dari pelaksanaan Surat Keputusan ini dibebankan kepada DIPA STAIN Parepare.
Keempat : Surat Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan di dalamnya, maka akan diadakan perbaikan seperlunya.
Kelima : Surat Keputusan ini diberikan kepada masing-masing yang bersangkutan untuk dilaksanakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab

Ditetapkan di          : Parepare

Pada tanggal          : 12  Januari  2007

K E T U A

DR. H. ABD. RAHIM ARSYAD, MA

Nip. 150 245 197

Tembusan :

  1. Sekretaris Jenderal Departemen Agama, di jakarta;
  2. Inspektorat Jenderal Departemen Agama, di jakarta;
  3. Kepala Biro Keuangan dan BMN Departemen Agama, di jakarta;

LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN KETUA  STAIN  PAREPARE

NOMOR :      TAHUN 2007

TENTANG

PEMBENTUKAN PENGELOLA UNIT SISTEM AKUNTANSI INSTANSI (SAI)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN ) PAREPARE

Penanggung Jawab : Dr. H. Abd. Rahim Arsyad, MA (Ketua STAIN Parepare)
Koordinator : Drs. Abd. Rahman K, M.Si (Pembantu Ketua II)
Ketua : Muh. Dahlan Thalib (Kabag Administrasi)
Sekretaris Naharuddin, S.Ag (Kasub Bag Keuangan dan IKN)
Anggota : 1.   Muh. Jafar, S.Ag 

2.   Dra. St. Marhamah

3.   Damirah SE

4.   Hidayat

(Staf Keuangan) 

(Staf Keuangan)

(Staf Keuangan)

(Staf Keuangan)

Parepare, Januari  2007

K E T U A

DR. H. ABD. RAHIM ARSYAD, MA

Nip. 150 245 197

  1. B. Proses dan Cara Pembuatan Surat Non Statuter.
  1. 1. Menyiapkan Konsep
  1. Penulisan konsep dapat dilakukan oleh pejabat sendiri atau pegawai pada bagian sub bagian umum.
  2. Untuk tidak menimbulkan keraguan atau kesalahan hendaknya penyiapan konsep dilakukan dengan tepat, jelas dan singkat serta menggunakan bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar.
  1. 2. Pengajuan Konsep

  1. Konsep diajukan secara hirarkis pejabat sesuai prosedur dalam unit kerja, kemudian diteliti dan diparaf sebagai pertanggungjawaban oleh Kepala Bagian Administrasi.
  2. Jika materi surat menyangkut lebih dari satu unit kerja, konsep terlebih dahulu dikoordinasikan dengan pejabat/unit kerja yang terkait.
  3. untuk konsep surat yang terakhir net, diparaf oleh Kepala Bagian Administrasi sebelah kiri nama ketua STAIN Parepare.
  1. 3. Penomoran Surat

  1. Penomoran surat dilaksanakan setelah dibubuhi tanda tangan pejabat yang berwenang, hal ini Ketua STAIN Parepare untuk menjaga agar tanggal surat dan pemberlakuan tidak ada selisih waktu yang terlalu lama.
  2. Penomoran surat sesuai dengan kode indeks surat dinas yang ditetapkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia.
  3. Penomoran surat dilakukan oleh pejabat yang berwenang dibidang pembinaan administrasi, hal ini Kepala Bagian Administrasi.
  1. 4. Pengetikan Surat
  1. a. Surat Dinas

1) Kepala Surat

a)    Kop surat terdiri dari lambang/logo STAIN Parepare.

b)    Judul/nama satuan kerja adalah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) PAREPARE diketik dengan huruf kapital yang diletakkan ditengah marjin tanpa diakhiri tanda baca, dan dilengkapi dengan alamat lengkap dan nomor telepon atau faksimile ditulis dengan huruf kapital setiap awal kata dengan memakai font (ukuran tulisan) lebih kecil tanpa diakhiri tanda baca.

c)    Sebelum judul/nama satuan kerja STAIN Parepare dicantumkan kata ”DEPARTEMEN AGAMA” tanpa RI, dengan memakai huruf kapital yang lebih besar dari nama satuan kerja/organisasi STAIN Parepare.

d)    Diberi garis pembatas antara kop surat dengan nomor surat.

e)    Tempat kedudukan, tanggal, bulan dan tahun diletakkan sejajar dengan nomor surat dengan letak sebelah kanan atas.

F Tempat kedudukan diketik dengan huruf awal kapital dan diberi tanda baca koma (,).

F Tanggal diketik dengan huruf arab misalnya 1, 12 atau 30 dst.

F Bulan diketik dengan huruf awal kapital misalnya Januari, Oktober, Desember dst.

F Tahun diketik dengan angka arab dan tidak diberi tanda baca.

f)     Nomor, Sifat, Lampiran dan Hal Surat :

F Kata nomor diketik 10 ketukan dari tepi kiri kertas dan setelah lima (5) ketukan atau satu tab, diketik tanda baca titik dua (:), selanjutnya sesudah satu ketukan diketik kode indeks surat tanpa diberi tanda baca.

F Sifat surat diketik lurus ke bawah dengan nomor dan diselaraskan dengan titik dua di atasnya, selanjutnya sesudah satu ketukan diketik sifat surat tanpa diberi tanda baca.

F Lampiran diketik lurus ke bawah dengan nomor, titik dua deselaraskan dengan titik dua di atasnya, dan sesudah satu ketukan diketik jumlah lampiran dengan ditulis huruf atau angka tanpa diberi tanda baca.

F Hal diketik lurus ke bawah dengan nomor, dan titik dua diselaraskan dengan titik dua di atasnya, selanjutnya sesudah satu ketukan diketik materi pokok surat tanpa diberi tanda baca.

g)      Alamat (objek) surat

F Kata ”Kepada” diketik di bawah materi pokok surat tanpa diberi tanda baca.

F Kata ”Yth” diketik dibawah kata kepada dan diberi tanda baca titik satu (.), kemudian pejabat/pimpinan yang dituju diketik lurus mendatar.

F Jika nama instansi tidak cukup diketik sampai di tengah halaman, dapat diketik di bawahnya.

F Nama kota tidak perlu diawali kata ”di” atau ditambah alamat, jalan, nomor gedung dsb, nama kota diketik dibawah kata Yth lurus kebawah dengan  huruf awal kapital, tanpa tanda baca dan garis bawah.

Contoh pengetikannya sebagaimana dibawah ini :

DEPARTEMEN  AGAMA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

( S T A I N ) P A R E P A R E

Alamat : Jl.Bumi Harapan Soreang Parepare  91132 (0421) 21307 Fax.24404

Nomor    : Sti.19/KP.00.9/142/2007                                          Parepare,     Agustus 2007

Lamp      : 2 (dua) bundel

Hal          : Usul Kenaikan Pangkat

Kepda

Yth. Kepala Biro Kepegawaian

Departemen Agama RI

Jakarta

2) Isi Surat

  1. Isi surat mulai diketik 4 spasi setelah nama kota pada objek surat.
  2. Untuk surat yang panjang, halaman berikutnya menggunakan kertas biasa tanpa kop surat dan sudut kanan atas dibubuhi nomor halaman.
  3. Pengetikan isi surat dimulai dengan setelah lima (5) ketukan dari marjin (pinggir kertas) kiri lurus dibawah isi pokok surat yang tertera pada ”Hal”begitu juga huruf awal dari setiap alinea baru.
  4. Jarak antara baris yang satu dengan lainnya satu setengah (1,5) spasi.
  5. Untuk membedakan alinea yang satu dengan alinea berikutnya diberi jarak dua (2) spasi.

3) Kaki Surat

  1. Nama Jabatan dan Penandatanganan.

(1)         Nama jabatan diketik sebelah kanan bawah dengan jarak tiga spasi dari kalimat terakhir isi surat dengan menggunakan huruf awal kapital, tanpa menulis nama instansi (jika sudah ada kop).

(2)         Nama pejabat diketik dengan huruf awal kapital tidak diberi garis bawah dan tanda baca, pencantuman gelar kesarjanaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku

(3)         Di bawah nama pejabat diketik Nomor Induk Pegawai (NIP) yang bersangkutan, setelah satu ketukan diketik tanda baca titik dua (:) dan tidak diberi antara satu angka dengan angka lainnya, nama jabatan dan nama pejabat ditulis tegak lurus dengan tempat kedudukan surat.

Contoh kaki surat : nama dan penandatangannya.

-      Ketua

Tanda tangan

Nama lengkap

NIP : …………..

-      a.n. Ketua

Kepala bagian administrasi

Tanda tangan

Nama lengkap

NIP : …………..

  1. Tembusan surat.

(1)     Kata tembusan diketik dengan huruf awal kapital lurus dengan kata nomor di atas tanpa diberi garis bawah.

(2)     Jika tembusan surat lebih dari satu instansi di belakang kata tembusan diketik titik dua (:).

(3)     Pengetikan tembusan memakai nomor urut lurus ke bawah dengan huruf ”T” pada kata tembusan.

(4)     Objek tembusan dimulai dari jabatan tertinggi tingkat esalonnya.

(5)     Tidak dibenarkan menggunakan kata kepada yang terhormat atau yth.

(6)     Tidak dicantumkan tulisan sebagai laporan, arsip atau pertinggal.

Contoh kaki surat :Tembusan surat.

Tembusan :

  1. Menteri Agama Republik Indonesia, di Jakarta.
  2. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama, di Jakarta.
  3. Rektor UIN Alauddin, di Makassar.

BAB  V

PENANDATANGAN SURAT

A.  Pejabat yang berwenang menandatangani surat statuter.

Pejabat yang berwenang menandatangani surat statuter adalah Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare dengan ketentuan :

a.   Pertaturan/Keputusan, Surat Keputusan dan Instruksi mengenai kebijakan pelayanan dibidang administrasi, organisasi dan ketatalaksanaan, informasi keagamaan dan kehumasan ditandatangani oleh Ketua STAIN Parepare a.n. Menteri Agama.

b.   Surat Keputusan yang ditandatangani oleh Ketua STAIN Parepare adalah surat keputusan mengenai pelaksanaan pembinaan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare berdasarkan kebijakan teknis Direktur Jenderal Pendidikan Islam  atau sebagai tindak lanjut kebijakan Menteri.

c.   Instruksi yang ditandatangani oleh Ketua STAIN Parepare adalah yang menyangkut operasional sebagai pelaksanaan kebijakan Menteri Agama atau Keputusan Dirjen Pendidikan Islam.

B.  Pejabat yang berwenang menandatangani surat nonstatuter.

Pejabat yang berwenang menandatangani surat nonstatuter diatur sebagai berikut ;

  1. Surat yang ditandatangani oleh Ketua STAIN Parepare adalah surat yang menyangkut pelaksanaan pembinaan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAN) Parepare berdasarkan kebijakan Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam.
  1. Kepala Bagian Administrasi STAIN Parepare dapat menandatangani surat a.n. Ketua STAIN Parepare yang isinya menyangkut pelaksanaan sebagaian tugas pokok Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare yang menjadi tanggung jawabnya.


BAB  VI

CAP DINAS

A.  Bentuk dan tulisan

  1. Cap dinas STAIN Parepare menggunakan logo STAIN Parepare.
  2. Bentuk, ukuran dan susunan teks cap dinas STAIN adalah sebagai berikut ;
2 (dua) Lingkaran 

Garis Tengah :

3,50 cm dan 2,30 cm

R1          : 1,75 cm

R2          : 1,15 cm

  1. Tulisan Departemen Agama
  2. Gambar/Logo STAIN Parepare
  3. Nama kota/tempat kedudukan
  4. Dua gambar bintang (sebagai pembatas)
  1. Cap dinas dibubuhkan setelah surat ditandatangani, menindih sepertiga di sebelah kiri dari tandatangan.
  2. Nama kota, tempat kedudukan pada cap STAIN ditulis melingkar sejajar dengan garis lingkar.

B.  Penggunaan

Ketua STAIN Parepare menggunakan Cap Dinas STAIN Parepare dan kepala Bagian Adminstrasi

BAB VII

JALUR SURAT

A.  Jalur surat dari atas ke bawah diatur sebagai berikut :

Surat dari Ketua STAIN Parepare dikirim ke kandepag kabupaten/kota, kepala MAN dan MTsN.

B.  Jalur surat dari bawah ke atas diatur sebagai berikut :

1.   Khusus mengenai surat tentang pengurusan pensiun dan pemberhentian pegawai di lingkungan Departemen Agama berlaku jalur/prosedur sebagaiamana diatur dalam keputusan Menteri Agama no. 27 tahun 1981 tentang petunjuk pelaksanaan penyelenggaraan pensiun dan pemberhentian pegawai di lingkungan Departemen Agama.

2.   Ketua STAIN Parepare mengirim surat jalur keatas ditujukan kepada Menteri Agama atau Kepada Direktur Jenderal Pendidikan Islam untuk urusan teknis operasional atau Kepada Inspektur Jenderal untuk pengawasan atau kepada Sekretaris Jenderal untuk urusan administratif.

3.   Jurusan pada STAIN Parepare yang mengirim surat jalur ke atas hanya boleh ditujukan kepada Ketua STAIN Parepare.

4.   Tembusan surat sebagaimana dimaksud angjka 1 s.d 3 hanya dibuat bila dipandang sangat perlu sesuai dengan urgensinya surat yang harus diketahui oleh yang bersangkutan.

C.  Jalur surat dari samping menyamping (horisontal)

1.   Surat dari Ketua STAIN Parepare yang ditujukan antara satuan kerja/ organisasi bersangkutan harus dialamatkan kepada Pimpinan satuan kerja dimaksud.

2.   Surat dari pejabat esalon di bawah ketua  STAIN Parepare yang ditujukan kepada pejabat esalon dikanwil harus dialamatkan kepada (u.p) pejabat yang dituju.

BAB VIII

PENGGUNAAN KERTAS, AMPLOP

DAN KOMPUTER/MESIN KETIK

A.  Kertas.

  1. Ukuran Kertas

Untuk keseragaman pola tata persuratan digunakan kertas kwarto/F4.

2.   Jenis Ukuran Kertas.

  1. Surat.

Untuk surat dinas digunakan kertas kwarto F4 HVS putih 75 gram

  1. Laporan dan surat statuter

Untuk laporan dan produk hukum digunakan kertas kwarto F4 HVS putih 80 gram.

  1. Surat berharga atau bernilai.

Segala surat jenis yang mengundang kecendrungsn untuk pemalsuan dan manipulasikertas yang bebas asam dan bebas lignin, apabila kemungkinan diatas tidak dapat dilaksanakan, kertas yang diperguanakan hendaknya yang memiliki PH 6,5 – 8,5

B.  Amplop.

Amplop adalah sarana kelengkapan penyampaian surat, terutama surat yang mempunyai ruang lingkup eksterm, sedangkan surat yang mempunyai ruang lingkup intern sesuai dengan pertimbangan segi efisiensi.

Ukuran amplop yang dapat digunakan menurut keputusan direktur  jenderal pos dan telekomunikasi nomor 43/dirjen/1987 tentang penerapan standar kertas sampul surat.

NO LEBAR PANJANG (mm)

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

90 

100

110

114

125

105

115

120

176

229

250

270

125 

160

220

162

176

227

245

270

250

324

253

400

Untuk efisiensi surat, instansi pemerintah menggunalkan amplop dengan standar sebagai berikut :

a.   Ukuran

  1. Surat biasa pada umumnya : 105 x 227 mm, sedangka untuk surat yang bersifat rahasia untuk amplop luar : 115 x 245 mm dengan kerebalan 35,5 – 100 g/m2
  2. Surat yang dilipat dua : 176 x 250 mm.
  3. Surat dengan kertas A4 tanpa dilipat : 229 x 324 mm.
  4. Surat dengan kertas C 4 tanpa dilipat : 250 x 353 mm.

b.   Penulisan dan Pencantuman Lambang/Logo

Logo STAIN Parepare dicantumkan di sebelah kiri atas, nama STAIN Parepare dicetak lengkap dengan alamat, nomor telepon, faksimile dan kode pos, Untuk nomor surat diletakkan di bawah lambang. Alamat tujuan dicetak disebelah kanan bawah dan dicantumkan kode pos.

Contoh amplolp suarat STAIN Parepare :

DEPARTEMEN  AGAMA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

( S T A I N ) P A R E P A R E

Alamat : Jl.Bumi Harapan Soreang Parepare  91132 (0421) 21307 Fax.24404

Nomor     : Sti.19/OT.01.2/      /2007                                                          

Kepda

Yth : Bapak Inspektur Jenderal

Departemen Agama RI

Jakarta

BAB IX

PENGIRIMAN SURAT

A.  Tingkat Urgensi.

  1. Kilat, harus dikirim seketika setelah surat tersebut ditandatangani.
  2. Segera, harus dikirim selambat-lambatnya 24 (dua puluh empat) jam setelah surat ditandatangani.
  3. Biasa, dikrim menurut urutan penerimaan di bagian ekspedisi (pengurusan surat) dan dikirim menurut jadwal perjalanan cakara (kurir).

B. Cara Pengiriman.

  1. Dibawa sendiri oleh pejabat yang bertugas menyelesaikan persoalan dalam surat tersebut/pejabat yang ditunjuk, cara ini dilakukan bila :
    1. surat berkualifikasi sangat rahasia
    2. dikehendaki tanggapan segera
    3. bermaksud memberi penjelasan lebih lanjut tentang surat
  1. Dikirim dengan caraka (kurir), untuk pengiriman dalam kota
  1. Dengan pos/telegram, pengiriman keluar kota atau keluar negara dilakukan melakui pos atau telegram disesuaikan dengan peraturan pos dan telegram yang berlaku dengan memperhatikan tingkat urgensinya.
  1. Biasa, untuk surat biasa
  2. Tercatat untuk surat penting yang memerlukan jaminan akan sampainya  pasda alamat yang dituju
  3. Kilat  khusus, untuk surat yang perlu secepatnya sampai pada alamat yang dituju
  4. Pos udara, untuk pengiriman surat keluar negara
  5. Pos udara tecatat, untuk surat penting keluar negasra yang memerlukan jaminan akan sampainya ke alamat yang dituju
  6. Pos patas.
  7. Faksimile, untuk membedakan tingkat urgensi pengiriman srat perlu dieri stempel sifatr surat pada amplop.


BAB X

KODE INDEKS SURAT DINAS

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PAREPARE

A.  Kode Indeks Surat Dinas Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare yang diatur oleh Departemen Agama Republik Indonesia, harus memuat kode :

  1. Unit pengelola/konseptor
  2. Kode simpanan
  3. Nomor Urut
  4. Tahun pembuatan

B.  Departemen Agama Tingkat Daerah.

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare kode indeksnya           : Sti.19/  sesuai dengan Peraturan Mentei Agama Nomor 16 Tahun 2006.

C.  Penyusunan kode indekas untuk satuan kerja STAIN Parepare dilakukan dan ditetapkan dengan Surat Keputusan oleh Ketua STAIN Parepare.

Contoh penggunaan kode indeks surat :

Nomor : Sti.19/………/ KP.00.9/235/2008;

Keterangan  :

Sti                   : Kode Indeks Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri

19                    : Nomor Urut STAIN Parepare

…………….        : Kode Unit Kerja Terkait

KP.00             : Kode Klasifikasi

235                       : Kode Nomor Urut Surat Dalam Kartu Kendali

2008               : Tahun Pembuatan Surat

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.